Winda Setiasari: Kisah Bunda PhD dan Tiga Kenari: Dari Bullying, Menjadi Single Mom, dan Jalan Menuju Pulang

Tiga kenari, begitu cara saya memanggil tiga buah hati. Lahir dan besar didalam masyarakat Minang Matrilinial, kadang perasaan hampa datang membayangkan hidup dihari tua tanpa anak perempuan. Sebahagian masyarakat menganggap hal ini adalah rasa sentimen yang berlebihan, saya dianggap terlalu terbelenggu oleh tradisi primodial, padahal apa pun itu jenis kelamin sang anak, dengan pola asuh yang baik, bekal ilmu agama yang kuat alhasil anak laki-laki dalam keluarga Minang pun mampu menjadi anak yang berbakti. Dan layaknya bunda bunda yang lain, menjadi bunda yang mampu menjadi sosok yang dibutuhkan untuk tiga kenari adalah kemudian menjadi cita-cita dunia akhirat saya.

Tetapi takdir membawa kami dalam situasi yang berbeda. Seiring saya lulus dalam seleksi tes beasiswa keluar negeri, program DIKTI, saya dihadapkan pada pilihan hidup yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Melakoni peran sebagai Mama PhD jauh dari kampung halaman, saya menghadapi berbagai tantangan termasuk suka duka membawa si tiga kenari.

PERJUANGAN MEMBAWA SANG BUAH HATI (PRE DEPARTURE)

Tidak mudah bagi saya memboyong suami dan tiga kenari langsung ke Manchester. Tantangan pertama, saya dan suami harus mengumpulkan uang jaminan 350 juta. Sebagai Dosen negeri, uang sebanyak itu, sepertinya mustahil untuk kami dapatkan. Apalagi uang itu harus mengendap 40 hari lamanya di akun bank saya. Tetapi Allah maha penolong bagi hambanya yang selalu berusaha. Berbekal welas asih dari saudara-dan sahabat terdekat yang mau meminjamkan uang mereka, dalam waktu 20 hari, kami akhirnya berhasil mengumpulkan 350 juta untuk disimpan dalam akun bank saya selama 40 hari.

Cobaan dan tantangan itu tak berhenti sampai disana. Jelang beberapa minggu sebelum keberangkatan kami ke Jakarta untuk mengurus Visa UK, cobaan kedua datang, si Bungsu dirawat di rumah sakit selama lima hari. Melalui serangkaian pemeriksaan, Rayyan diduga oleh dokter positif TB (tubercolosis). Saya tergugu dan panik membayangkan sibungsu tak bisa berangkat sementara pemeriksaan TBC wajib kami lakukan di Jakarta nanti. Surat bebas TBC harus kami peroleh agar visa Family UK bisa -kami dapatkan. Usaha saya dan suami tidak berhenti sampai disana, kami berusaha mencari opini kedua dari dokter lain, tetap jawabannya sama.

Suami waktu itu tidak percaya, beliau meyakini saya bahwa rencana ke Jakarta harus tetap dilaksanakan. Beliau meyakinkan saya lagi bahwa berdoa dan berusaha adalah jalan yang terbaik.

Dan kami memulai perjalanan mengurus visa ke Jakarta sehari setelah kami mengeluarkan Rayyan dari rumah sakit. Setiba di Rumah sakit Premiere Bintaro, kami sekeluarga melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mendapatkan serifikat bebas TBC. Alhamdulillah Allah Maha Penolong, ikhtiar yang kami lakukan membuahkan hasil, Rayyan tidak terindikasi TBC dan kami berhasil mendapatkan seritfikat bebas TBC hari itu juga.

Perasaan lega melewati pemeriksaan TB, cobaan ketiga datang, saya menerima email dari Universitas Salford, jika saya tidak sampai pada tanggal 30 Oktober, mereka akan melayangkan surat penundaan studi yang berarti beasiswa DIKTI saya terancam batal. Ya, pada titik ini saya sempat menyerah dan berurai air mata, saya bicara pada suami dan anak-anak bahwa “pada akhirnya kita harus menyerah, kita tak bisa berangkat bersamaan, jangan kecewa, kita sudah usaha maksimal, kalian bisa menyusul Bunda”.

Hari itu saya memutuskan membuat visa appointment sendiri dan mulai memikirkan untuk mengembalikan uang jaminan yang saya pinjam dari saudara dan teman-teman. Tidak mungkin menyimpan uang ini lebih lama sementara saya hanya punya waktu 10 hari lagi sesuai janji .

Malam kedua di Jakarta, saya menulis email panjang kepada calon pembimbing dengan menceritakan kendala yang saya hadapi untuk melakuan proses registrasi sebelum 30 Oktober, berharap bule satu ini adalah seorang ibu, atau setidaknya seorang perempuan yang mengerti keputusasaan seorang ibu jika berpisah dengan anak-anaknya.

Email saya dibalas dengan automated reply, beliau tidak ada ditempat sampai hari Jumat, hari dimana saya harus melakukan visa appointment minus suami dan anak-anak. Saya menghitung detik dan waktu yang berlalu.

Lagi, campur tangan semesta menolong kami keluar dari keputusasaan.

Kamis Malam saya membuka email dan menemukan pesan dari admission team, Universitas Salford. Isi email itu singkat tetapi membuat saya tersentak bahagia, “Oke, kami memberi anda waktu sampai 15 November 2014”.

Sujud syukur, Alhamdulillah tak henti-hentinya, saya berlari ke internet terdekat, membuka applikasi visa UK, mengisi formulir Visa secara online satu persatu untuk seluruh keluarga, merubah tanggal appointment saya, sambil membuat appointment baru dihari yang sama denga suami dan anak-anak.

Allah memberikan jalan kepada hambaNya yang berusaha.

Tanggal 3 November kami sekeluarga menyelesaikan proses pendaftaran visa tanpa kendala.

PENDAFTARAN SEKOLAH DI MANCHESTER DAN PROSES BANDING

14 November 2014 kami sekeluarga sampai di Manchester. Saya menghela nafas panjang mengingat perjuangan kami untuk selalu ingin bersama. Minggu-minggu pertama adalah saat yang menyenangkan. Tak ada kendala yang berarti, saya berhasil melakukan pendaftaran akademik di menit-menit terakhir, mendapatkan kartu mahasiswa dan mengadakan pertemuan pertama dengan Pembimbing utama. Saya merasa siap untuk menjemput impian bersama keluarga tercinta.

Tantangan awal datang ketika proses pencarian dan pendaftaran sekolah anak-anak dimulai. Kami memutuskan menandatangi sekolah terdekat dan mengetahui bahwa pendaftaran harus dilakukan secara online atau saya mengisi langsung form dan membawanya ke city council. Saya lebih memilih cara kedua sembari berharap bahwa proses penempatan anak-anak disekolah Dasar tidak akan berlangsung lama. Hati sudah mulai was-was melihat mereka kelaamaan dirumah.

Tiga minggu setelah formulir pendaftaran sekolah saya layangkan, saya mendapati kenyataan bahwa ketiga anak-anak ditempatkan di sekolah yang berbeda! Si bungsu, Rayyan diterima di Cravenwood Primary, sekolah ini berjarak 1,2 miles dari rumah, cukup jauh memang. Ghazi, si Tengah diterima di Abraham Moss Primary , butuh waktu hanya 5- 10 menit untuk mencapai sekolah. Gawatnya, si Sulung Varis diterima di Boyker Vale, sebuah sekolah dasar yang cukup jauh dari rumah. Kami harus naik bus ke sekolah Varis dan berjalan sebelum bisa sampai disekolah itu.

Panik dan bingung, itulah yang saya rasakan, sambal bertanya-tanya bagaimana saya dan suami bisa amengantarkan tiga kenari didalam waktu yang sama dengan tujuan dan jarak tempuh yang berbeda, bagaimana kalau saya kuliah pagi sementara sang Bapak harus mengikuti kelas pagi di tempat kursus Bahasa Inggrisnya? Saya tak punya pilihan kecuali mengajukan banding ke dewan kota Manchester.

Berbekal dokumen yang dipinjami teman, saya resmi menmgajukan formulir banding sekolah anak-anak. Saya memutuskan untuk ikut serta dalam proses hearing dan menyusun draft pembelaan dan keberatan. Proses ini cukup panjang dan menyita waktu. Saya memutuskan tidak menerima tawaran jasa penterjemah, dan meyakini bahwa penjelasan, klarifikasi saya akan bisa dipahami majelis banding sekolah. Lagi bahwa ketika urusan anak dikedepankan, saya harus mengalah dan menguatkan hati, bahwa ini adalah pilihan seorang Mama-PhD, this too shall pass. Untuk kesekian kalinya, ini pasti akan kami lewati. Proses banding membuah kan hasil, ketiga kenari ditempatkan di sekolah yang sama yaitu Sekolah dasar Cravenwood. Here we go, episode lain dalam kehidupan Mama PhD.

PHONIC TEST, BULLYING, DAN MENJADI SINGLE MOM                                                  

Berpacu dengan ritme waktu sekolah anak-anak dan ritme kehidupan akademis mahasiswa PhD, tahun pertama menyisakan episode babak belur untuk saya sebagai Mama PhD. Saya melewati hari-hari yang padat mengantar sekolah, menyetop bus setelah memastikan ketiga buah hati sampai dengan selamat.

Selain jurnal dan buku, saya harus belajar Phonic dasar dan lanjutan. Ini tak ada hubungannya dengan studi S3. Saya pikir, modal memperkuat mereka alfabet dari A-Z sebelum berangkat ke Inggris sudah cukup. Pengetahuan saya sebagi Dosen Sastra Inggris tidak mencakup pelajaran Phonic yang ternyata sangat wajib dikuasai siswa sekolah dasar dinegeri ini. Si Tengah dan si Bungsu diberi materi tambahan dikelas mereka masing –masing .

Tak ayal sumbangsih saya sebagai seorang bunda diperlukan, jadilah “bed time story” disulap menjadi waktu drilling bunyi phonic dan tes spelling (ah for apple, keh for cat, dan seterusnya). Lagi lagi dibutuhkan konsistensi dan daya juang yang tinggi. Saya lalai, dibutakan oleh deadline tulisan dan rutinitas kelas di tahun pertama. Cukup waktu 2 minggu saja, kemudian latihan phonic dan spelling test terhenti, berganti dengan ciuman sayang sebelum tidur.

Setahun pertama berlalu dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa gagal, ketika diberitahu sang guru bahwa si Bungsu tak mengalami banyak kemajuan dalam pelajaran Phonicnya sehinngga berdampak pada pelajaran lain seperti Matematika dan membaca. Mata saya berkaca melihat si bungsu harus menghabiskan waktu diluar kelas untuk pelajaran Phonicnya, yang berarti Rayyan tak memiliki cukup waktu untuk bermain bersama teman-temannya.

Kegagalan dalam Phonic menjadi mata rantai perlakuan verbal bullying terhadap Rayyan si Bungsu. Si Bungsu mulai menampakkan prilaku malas sekolah, murung dan mudah tersingggung. Sang Abanglah yang pertama kali menemukan Rayyan dalam keadaan menangis di hall sekolah setelah waktu makan siang, seorang anak laki-laki menghempaskan tubuh kecilnya dan berteriak bahwa Rayyan tak tau apa-apa, “you know Nothing, Go back to the nursery class”.

Saya tergugu dan tak mampu berucap. Seperti hantaman batu besar dikepala, saya merasa berada di titik nadir, buat apa saya di sini, apa yang saya cari dan kenapa saya bisa menjadi bunda yang lalai. Ujian ditahun pertama menyisakan pelajaran penting dalam kehidupan saya, menjadi Mama PhD adalah pilihan, tetapi saya gagal menjalani pilihan ini, gagal dalam menyeimbangkan tuntutan akademis dan tuntutan keluarga.

Sekali lagi, kami harus menguatkan diri, saya, suami dan anak-anak ibarat tim basket yang harus tetap berlari dan menjaringkan bola sesering mungkin dalam waktu yang sudah ditentukan.

This too shall pass.

Pertengahan tahun kedua masa studi, kami sekeluarga dihadapkan dengan tantangan yang jauh lebih berat yaitu kepulangan suami ke Medan. Izin kursus satu tahun suami sudah berakhir dan beliau harus pulang ke tanah air, kembali menjalankan tugas rutin sebagai Dosen di Universitas Negeri Medan.  Gamang, begitulah perasaan yang datang menghampiri dihari-hari pertama ditinggal jauh suami.

Menjadi single mom, melakukan tugas domestik sepenuhnya tanpa bantuan suami, antar jemput sekolah dan madrasah anak-anak disela-sela tenggat waktu menulis bab disertasi. Di titik ini, episode hidup saya sebagai Mama-PhD berubah total. Saya lebih banyak menghabiskan waktu memasak, mencuci, membereskan pakaian anak-anak ketimbang membaca jurnal, buku dan hadir di kelas. Saya berusaha selalu tersenyum tetapi dalam setiap percakapan telepon jarak jauh dengan suami, saya tak berhenti mengeluh, marah dan putus asa.

Melakoni dua peran single mom dan Mama PhD lagi-lagi menyisakan keadaan mental yang tak stabil.

THE COSEN ROAD DAN JALAN MENUJU PULANG

Orang bijak berpendapat, “Once you choose a road, you will never be able to turn back”, saya sudah memilih jalan ini, dan pantang surut langkah kebelakang. Memasuki babak akhir studi saya di Manchester, ritme hidup sebagai Bunda PhD sudah mulai saya lakoni dengan hati ikhlas. Kepulangan suami ke Medan untuk ketiga kalinya membuat saya dan tiga kenari menjadi terbiasa untuk hal yang luar biasa. Sebenarnya saya tak sendiri, mungkin ada Mama PhD dibelahan bumi lainnya mampu menjalani perannya dibalik tuntutan harus membesarkan 3 anak laki-laki diusia sekolah dasar. Kenapa saya tak bisa? Kenapa saya harus merasa tertekan sementara saya sudah jauh berjalan.

Dari rumah Daimler (rumah tempat tinggal kami di Manchester), kampus, dan perpustakaan umum (public library) saya menghabiskan sisa waktu studi saya menulis bab demi bab desertasi disela menunggu berakhirnya jam sekolah. Kemudian dari sekolah ke toko Halal dan madrasah tempat anak-anak belajar Qur’an, persinggahan-persinggahan yang rutin saya lewati dengan tiga kenari.

Satu hari di bulan Januari, si bungsu Rayyan bertanya, “Bunda, kenapa kita harus melewati jalan-jalan ini setiap hari? Why can not we go somewhere else? It is boring”! Saya tersenyum sambil menggendong tubuhnya yang mulai tambun sambil berucap,… “The road and these places will eventually lead us home…” Kita tak bisa berhenti, suatu saat jalan-jalan yang kita lewati akan membawa kita pulang Rayyan, sampai ke Padang dan rumah Medan.

Dua tahun berselang, alhamdulillah hari kepulangan itu datang juga.

***Dr Winda Setiasari adalah lulusan Salford University dan sudah kembali mengajar sebagai dosen di Universitas Negeri Medan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s