Awal Perjalanan: Mengambil PhD
Keputusan mengambil PhD di Australia bukan keputusan yang lahir secara instan. Keputusan yang datang dari perenungan panjang, doa, dan diskusi yang melelahkan, terutama dengan suami. Saya Evi, PhD mama dengan tiga anak yang sedang menjalani Long Distance Marriage (LDM) dan Long Distance Parenting (LDP) di Australia. Tentunya tidak hanya saya yang memilih jalan ini. Banyak ibu-ibu di luar sana juga berjuang seperti saya, salah satunya housemate saya, Afifah. Kami berdua akan sedikit berbagi suka duka dan lika-liku PhD mama yang menjelma jadi pseudo single selama studi ini.

Saya memilih kembali ke Australia, tepatnya ke Monash University, karena secara akademis saya sudah mengenal sistemnya. Di sisi lain, menempuh S3 di dalam negeri secara finansial justru terasa lebih berat. Meskipun ada beasiswa, tetap ada biaya non-akademik yang harus kami tanggung sendiri, dan itu bukan jumlah kecil. Qadarullah, Allah melancarkan jalan ini: saya kembali dipinang oleh supervisor lama, dan saya lolos beasiswa dari Monash University, meskipun tanpa family allowance.
Sejak awal, kami menyusun beberapa skenario: semua anak ikut bersama saya; dua anak ikut, satu tinggal; atau saya berangkat sendiri. Kenapa suami tidak ikut saja? Suami saya bekerja sebagai perawat ICU penuh waktu di rumah sakit di Indonesia dengan status ASN PPPK. Ia tidak bisa mengambil cuti di luar tanggungan negara. Jika ia ikut, satu-satunya jalan adalah resign, dan itu risiko besar bagi kariernya dalam jangka panjang setelah studi saya selesai. Akhirnya, dengan berat hati, kami memutuskan bahwa saya berangkat sendiri. Rencananya, saya akan pulang setiap beberapa bulan sekali. Secara finansial, ini pilihan paling masuk akal. Saya tetap bisa fokus studi, dan keluarga kami masih memiliki stabilitas ekonomi. Keputusan ini rasional. Tapi emosinya? Tentu sangat tidak rasional.
Keputusan berat melepaskan pelukan anak di bandara dan berangkat sendirian ini tentu bukan hanya milik saya. Saya dan Afifah sering mengenang masa-masa awal itu. Kalau buat saya, tantangan terbesarnya adalah menenangkan gejolak batin ini. Tapi, waktu dengar cerita Afifah tentang bagaimana ia dan suami berjuang keras menghitung detail biaya asuransi dan perjalanan relokasi keluarga, saya sadar bahwa setiap PhD Mama punya “medan perang” awalnya masing-masing. Tidak ada seorang ibu di dunia ini yang mau berpisah dengan anak-anaknya.
Saat itu, biaya asuransi keluarga semakin melambung dikali empat dari sebelum lockdown epidemi covid-19. Tentu saja itu bukan nominal yang sedikit untuk kami. Terlebih, kami juga harus berpikir tentang biaya perjalanan dan biaya tinggal keluarga yang tidak akan dibiayai oleh penyedia beasiswa untuk tahun pertama. Afifah dan suami mempelajari cara penghitungan asuransi kesehatan. Ternyata biaya yang ditagihkan sesuai dengan masa tinggal, yang disesuaikan dengan tanggal terakhir visa pelajar habis. Artinya, jika keluarga menyusul dalam dua atau satu tahun terakhir studi, biaya asuransi kesehatan yang perlu dibayarkan akan semakin berkurang. Paling tidak, biaya yang dikeluarkan tidak sebesar ketika keluarga pergi bersama dari awal. Dengan pikiran bahwa ada kemungkinan keluarga bisa menyusul, keputusan kami bulat, saya pergi sendiri dengan berat hati.
Saat yang paling berat adalah ketika harus berusaha kuat ketika berpisah di bandara dan harus berdamai dengan kenyataan. Saya hanya manusia, lemah, berada jauh dari keluarga untuk pertama kalinya akan berat. Terlebih karena selama 9 tahun terakhir, saya selalu bersama dengan keluarga. Mungkin ada saatnya jauh, tetapi tidak selama dan sejauh sekarang. Saya tidak ingin meninggalkan keluarga dengan air mata, seolah akan bertahun-tahun lamanya tidak bersua. Berpisah dengan perasaan yang bahagia dan yakin akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Bukan dalam hitungan tahun, tetapi mungkin hitungan bulan. Walaupun kala itu saya belum tahu kapan saya bisa pulang. Pelukan terakhir ke semua keluarga yang mengantar hari itu di depan gerbang boarding. Satu demi satu, kupeluk. Air mata mulai berkumpul di pelupuk mata. Tangisanku pecah. Sedih dan bahagia jadi satu, dada ini rasanya berat. Saya melambaikan tangan, tanda perpisahan. Saya berjalan masuk menarik koper, tanpa membalikkan badan. Pipi sudah basah dan air mata jatuh tanpa permisi.

Kondisi Nyata Mahasiswa PhD yang Menjalani Studi Sendirian
Sebagai seorang wanita yang fitrahnya dengan energi feminim, ternyata kembali menjadi “single” setelah bertahun-tahun selalu didampingi suami itu berat. Di titik ini saya sadar bahwa suami adalah core emotional support saya. Dulu saya merasa bisa menjadi Wonder Woman: bekerja dan mengurus anak sekaligus. Sekarang, ditegur supervisor sedikit saja di fortnightly meeting sudah cukup membuat saya menangis. Komunikasi dengan keluarga pun kadang terasa hambar, seperti kehabisan topik karena lelah dan jarak. Pernah suatu kali saya dan suami melakukan video call saat dia sedang bekerja dan saya mengerjakan tesis. Kami hampir tidak berbicara, hanya saling melihat sesekali. Anehnya, kehadiran yang sunyi itu justru terasa paling menenangkan, dan pelan-pelan membantu mengisi kehampaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Namun, saya sadar, ketenangan itu sering kali hanya bertahan sebentar, sebab medan perang setiap PhD Mama berbeda-beda. Jika saya berjuang menjaga kewarasan dari rasa rindu pada keluarga di malam hari, Afifah justru harus menghadapi perang internal yang lebih dalam. Peperangan terberat yang kurasakan adalah peperangan dengan diri sendiri. Kondisi menjalani PhD sendiri seperti berperang dengan diri sendiri. Kondisi mental yang sering kali terganggu karena rindu menjadi situasi yang harus dihadapi sehari-hari. Dari rutinitas harian selama sembilan tahun terakhir yang dijalani bersama keluarga, kemudian tiba-tiba harus sendiri. Pelukan dan ciuman dari anak-anak dan suami yang nyaman membuat merasa bisa, walau seberat apa pun hari itu saya jalani. Kali ini tidak ada. Hanya saya sendiri.
Saya menangis di tengah heningnya malam dan berusaha dengan keras untuk mendorong diri untuk tetap berangkat ke kampus esok hari. Tentu saja dengan kondisi mata yang masih bengkak, kepala yang masih sedikit pusing, dan dada yang masih terasa berat karena isak tangis semalam. Tidak jarang, saya dan layar hanya melakukan kompetisi saling pandang tanpa ada hal yang ditulis sama sekali atau membaca jurnal dan buku tanpa bisa menyerap maknanya. Pada akhirnya pikiran akan melayang kembali ke rumah dan rasa rindu yang sulit untuk dibendung. Rasa rindu itu tidak pernah berkurang. Fasilitas konsultasi kesehatan mental yang tersedia di kampus membantu mengurutkan kembali isi pikiran dan merapikannya untuk tetap mengingat tujuan keputusan untuk berangkat PhD sendiri. Saya berangkat tanpa keluarga dengan berat, bukan untuk gagal. Tetapi, untuk melihat versi diri di seberang sana yang sudah berhasil melalui semuanya dan menggunakan toga wisuda.
Selain berperang dengan diri sendiri, kami juga melawan mom guilt dan imposter syndrome sebagai mahasiswa PhD. Kecakapan mahasiswa lain dalam mengartikulasikan hal yang ingin disampaikan dalam tulisan maupun lisan sangat baik. Sehingga, tidak jarang kami tenggelam dalam pikiran sendiri yang merasa tidak cukup baik (imposter syndrome) dan perasaan bersalah yang tak berujung karena jauh dari anak-anak. Karena jarak ada masa perkembangan anak-anak yang terlewatkan, ulang tahun yang tidak bisa kami datangi, pentas seni yang hanya bisa kami tonton lewat video, hasil rapot yang hanya kami terima lewat gambar, proses belajar anak-anak yang tidak bisa kami temani secara langsung dan proses komunikasi yang hanya bisa dilakukan lewat layar, tidak bisa sambil memeluk, membelai dan mencium mereka. Ada rasa takut tersendiri yang menyelimuti pikiran, jika anak-anak berpikir ibu tidak menyayangi mereka.

Momen paling menghancurkan adalah ketika kami benar-benar diuji oleh kondisi anak di Indonesia. Afifah tidak akan pernah lupa saat anak pertamanya demam hebat. Kala itu, saya yang jauh ini, hanya bisa menelepon melalui video call dan mendoakan. Hal yang sama sekali tidak terbayangkan adalah bahwa penyebab demamnya bukan dari makanan yang kurang segar atau dari waktu makan yang terlambat, tetapi dia sedang kangen. Betapa patahnya hati ini mengetahui bahwa ibunya yang bersekolah ini memposisikan anaknya dalam situasi sulit. Mengharuskan mereka untuk belajar menata hati untuk rindu dan tetap yakin suatu hari akan berkumpul kembali.
Tantangan Utama yang Dihadapi dan Cara Mengatasi
Tantangan akademik tentu ada, namun tantangan terbesar bagi emak-emak LDM ini adalah tekanan emosional. Berdamai dengan mom guilt (rasa bersalah sebagai ibu) adalah rutinitas saya sehari-hari. Ini berbeda dengan Afifah, yang tantangan terbesarnya justru datang ketika riset terasa buntu dan zona waktu menghalanginya untuk sekadar mengeluh langsung pada keluarga. Meskipun bentuk tantangan kami berbeda, saya dengan urusan tekanan emosional keluarga, dan Afifah dengan tekanan akademik riset, pada akhirnya kami sepakat pada satu cara ampuh untuk mengatasinya: mengakui bahwa kami lelah dan butuh jeda. Selain meninggalkan anak-anak, saya juga harus menghadapi kenyataan lain: orangtua saya yang semakin renta dengan berbagai masalah kesehatan dan penyakit kronis. Bahkan, baru sebulan saya tiba di Australia, saya harus pulang mendadak karena ibu dilarikan ke rumah sakit akibat stroke. Di titik itu, jarak terasa semakin kejam.
Tantangan besar lain bagi saya adalah letting go of maternity control. Ada perasaan bahwa suami, meski sangat berusaha, tidak bisa merawat anak-anak setelaten dan sedetail seperti yang biasa saya lakukan. Rasa bersalah sering datang dalam bentuk “seandainya”. Seandainya saya ada di sana, hafalan kakak mungkin lebih terjaga, tumbuh kembang adik tidak terlambat. Beban emosional ini kerap diperberat oleh komentar lingkungan sekitar, “apa tidak takut suami mencari yang lain kalau ditinggal jauh?” atau “Kok tega, seorang ibu demi ambisi karir meninggalkan anak-anaknya.” Semua itu menjadi ujian mental dan emosional yang nyata, seolah pilihan ini harus selalu dibayar dengan penghakiman.
Kami setuju bahwa komunikasi yang efektif dengan suami adalah senjata ampuh dalam pergulatan ini. Saya menjadwalkan untuk jam-jam video call dengan anak dan suami, yaitu pagi hari sebelum berangkat dan petang saat semua sudah di rumah. Saya video call dengan orang tua saya setiap 2 hari sekali. Saya juga belajar menerima dan berdamai bahwa saya tidak bisa mengontrol segalanya dari jauh. Saya harus bisa menyerahkan keluarga saya di bawah perlindungan Allah SWT. Tugas saya mendoakan setiap malam untuk skenario terbaik. Jika terjadi apa-apa maka itu sudah menjadi takdir yang harus saya jalani. Apakah setelah itu saya akan tenang terus? Lebih tenang tapi sesekali tetap menangis di pojokan kamar. Maka untuk mengalihkan itu saya hiking di akhir pekan dan gym untuk membuat saya lelah dan menghentikan drama memikirkan hal-hal ini.

Komunikasi efektif bisa dilakukan dengan berbagai cara. Berbeda dengan saya, Afifah punya cara yang lain. Afifah punya cara yang lebih digital dan personal untuk menutup jarak yaitu bermain game bersama anak-anak. Afifah menceritakan, “rasanya, ini adalah cara paling ajaib untuk menutup jarak antar benua. Kami tidak hanya sekadar video call, kami benar-benar berada dalam satu ruang maya yang sama. Saya bukan lagi ‘Mama PhD yang jauh’, tapi ‘pemain kawan’ yang berjuang bersamanya untuk mendapatkan item atau menyelesaikan quest tertentu. Kami berbagi tips, saling berteman, dan berbagi hadiah item di dalam game. Melalui layar, saya masih bisa melihat semangat dan tawa mereka, mendengar suara mereka yang fokus memberi instruksi. Dalam game, komunikasi terasa lebih menyenangkan, lebih ringan. Ini bukan sekadar hiburan, ini adalah cara kami menciptakan memori baru yang terasa nyata, yang tidak bisa dihambat oleh zona waktu atau tekanan riset. Kehadiran di sana, meski hanya sebagai avatar, adalah bukti bahwa saya tidak pernah benar-benar meninggalkan mereka.” Namun di saat jadwal sedang longgar, saya juga berusaha menaklukkan fisik bersama Evi, sesekali ikut hiking atau ke gym. Ini juga menjadi cara kami untuk berbagi energi positif di dunia nyata.
Strategi Agar Studi Tetap Berjalan Lancar
Agar PhD ini tetap waras dan progresif, kami menerapkan beberapa strategi:
- Manajemen waktu yang disiplin
Kami memperlakukan PhD seperti pekerjaan full-time. Jam kerja jelas, jam istirahat juga jelas agar tidak tenggelam dalam rasa bersalah atau overworking. Kami juga memanfaatkan PhD ini sebagai the greatest “me time” yang diberikan oleh pasangan kita. Jadi mari kita memanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri secara, fisik, mental dan spiritual. (i.e. mempercantik diri, olah raga, makan lebih sehat)
- Target kecil dan realistis
Kami berhenti membandingkan diri dengan mahasiswa PhD lain yang hidupnya “lebih lengkap”. Fokus saya adalah langkah kecil yang konsisten.
- Menjaga koneksi spiritual
Doa menjadi ruang paling jujur. Saat sujud dan sholat malam adalah waktu untuk bisa mengadu tanpa harus terlihat kuat. Menitipkan dalam doa agar tetap keluarga tetap dalam lindungan-Nya.
- Menerima bantuan dan membangun support system baru
Menjalani semua ini sendirian rasanya nyaris mustahil. Bersyukur semesta mempertemukan kami. Pertemanan dengan Afifah inilah yang kemudian menjadi support system paling krusial buat saya di perantauan. Buat saya, kehadiran Afifah bukan sekadar teman sesama mahasiswa Indonesia. Saat saya sedang kangen berat dengan anak-anak dan merasa down, duduk di ruang tengah kosan dan saling bercerita dengan Afifah dapat meringankan beban pikiran.
Begitu juga sebaliknya, saat Afifah sedang sakit lutut kakinya, saya berusaha untuk membantunya memasangkan penyangga lutut. Bersama Afifah, saya belajar bahwa ketika keluarga inti terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer, maka sahabat di perantauanlah yang naik pangkat menjadi keluarga kedua. Kami berdua juga gemar thrifting sebagai salah satu terapi kami di saat gempuran akademik dan keluarga sedang menyerang.
Harapan dan Dorongan untuk Pembaca
Dari obrolan dan air mata yang sering kami bagi berdua, kami menyadari satu hal bahwa perjalanan ini memang sunyi karena tak ada riuh tawa keluarga di rumah saat kita membuka pintu atau pelukan hangat ketika hari terasa berat. Kami masih di tengah jalan, masih sering ragu, masih sering menangis diam-diam. Tapi kami juga belajar bahwa menjadi perempuan, menjadi ibu, tidak selalu harus memilih antara keluarga atau mimpi. Allah SWT telah memilihkan jalan yang paling mungkin, meski tidak sempurna sebagai ruang untuk kita dan keluarga kita untuk bertumbuh bersama.
Untuk para ibu yang sedang mempertimbangkan studi lanjut, kalian tidak sendiri. Perjalanan ini berat, sunyi, dan penuh konsekuensi. Tapi percayalah kamu tidak pernah benar-benar sendirian. Dan ingatlah selalu ada pelangi setelah hujan. Semua pengorbanan kita akan membuahkan hikmah dan hasil untuk kita dan keluarga kita. Semoga Allah SWT menjaga langkah kita, menguatkan keluarga yang kita tinggalkan sementara, dan menjadikan setiap lelah ini bernilai ibadah.
Artikel ini ditulis oleh Evi Ningrum dan Afifah Muminah, diedit oleh Ika Arira untuk PhD Mama Indonesia. Kedua Penulis dapat dihubungi via surat elektronik: evi.ningrum@monash.edu dan Afifah.Muminah@monash.edu.
