Halo, saya Adelia. Sejak tahun 2018, keseharian saya diisi dengan mengajar sebagai dosen Psikologi di salah satu kampus swasta di Surabaya, Jawa Timur. Rutinitas pekerjaan ini ternyata membawa saya jatuh cinta lebih dalam pada dunia pengasuhan dan perkembangan anak. Hingga pada tahun 2024 lalu, saya memberanikan diri untuk melangkah kembali sebagai seorang ibu yang ingin kembali menempuh studi lanjut doktoral.
Kembali Menjadi Mahasiswa
Memutuskan untuk kuliah lagi saat sudah menjadi istri dan ibu ternyata jauh berbeda rasanya dibandingkan saat saya mengambil studi Magister Psikologi Perkembangan di Maastricht University Belanda saat masih melajang dulu. Jika sebelumnya modal nekat dan semangat barangkali terasa cukup untuk bisa mengarungi kehidupan akademik, persiapan kali ini terasa lebih kompleks. Berbagai kekhawatiran memenuhi benak saya pada awal proses persiapan studi ini yang membuat saya maju mundur untuk memutuskan : “Apakah ini adalah waktu yang tepat bagi saya untuk kuliah lagi?”.

Persoalan berikutnya yang mengusik adalah tantangan mengenai besarnya kebutuhan dana untuk membawa keluarga ikut tinggal bersama di luar negeri yang luar biasa besar. Di saat yang sama, saya juga mulai memikirkan bagaimana keluarga kami akan beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan yang sepenuhnya baru termasuk mempersiapkan anak untuk menghadapi perbedaan budaya, suasana, dan pola kehidupan di negara tujuan. Kekhawatiran itu semakin besar ketika saya memikirkan kemungkinan ia harus tinggal berjauhan dari ayahnya karena tanggung jawab pekerjaan ayah di Indonesia yang belum dapat ditinggalkan. Pada titik itulah saya menyadari bahwa keputusan melanjutkan studi ke luar negeri bukan semata tentang kesiapan akademik, melainkan juga tentang kesiapan emosional seluruh anggota keluarga.
Dalam prosesnya, sempat terbersit keinginan untuk melanjutkan studi di Indonesia saja. Namun, dukungan dari suami, ibu, dan para sahabat menguatkan keberanian saya untuk kembali mencoba kesempatan studi di luar negeri. Keyakinan itulah yang kemudian menjadi bahan bakar saya dalam menyusun proposal disertasi dan menjalani proses berburu beasiswa. Akhirnya persiapan melanjutkan studi doktoral ini pun saya lakukan sejak tahun 2024 yang diawali dengan mencari tahu kampus tujuan studi yang sesuai dengan minat riset yang ingin saya kembangkan. Setelah menentukan universitas yang dituju, saya mulai menghubungi calon supervisor, yang kemudian dilanjutkan dengan persiapan IELTS. Meskipun sebelumnya saya pernah mengikuti IELTS, ternyata proses persiapannya tetap perlu diulang dan disegarkan kembali dengan latihan berulang.
Sebagai ibu bekerja yang menjalani pernikahan long distance marriage dengan pasangan, melakukan persiapan studi dengan beragam tanggung jawab membutuhkan upaya ekstra. Sangat berbeda rasanya dengan saat saya mempersiapkan diri untuk studi S2 dahulu dimana saya memiliki energi penuh yang difokuskan pada diri sendiri, kali ini malam-malam panjang ketika anak telah terlelap adalah satu-satunya waktu yang dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan studi dan menjadi bentuk pengorbanan yang harus dijalani. Meski demikian, saya tetap mensyukuri kemampuan perempuan untuk terus membagi energi di tengah kerja perawatan yang seakan tidak pernah berhenti sambil tetap mengejar mimpi. Saya juga sangat bersyukur karena selama proses ini ada ibu saya yang menjadi penyangga punggung saya dimana iia yang setia hadir memberikan bantuan dan dukungan tanpa henti sehingga saya memiliki ruang untuk mempersiapkan kebutuhan studi dengan lebih baik. Dukungan juga datang dari suami yang mendukung keputusan saya untuk studi di luar negeri juga mengupayakan tenaga hadir melintasi kota untuk membantu saya mengasuh anak di saat-saat genting proses pendaftaran beasiswa.
Berburu Beasiswa
Perjalanan mendapatkan beasiswa pun tidak semulus yang dibayangkan. Meski sebelumnya saya adalah penerima beasiswa LPDP untuk jenjang S2, namun untuk jenjang S3 ini saya harus mencoba berkali-kali. Mulai dari beasiswa AAS, Beasiswa Kemitraan Indonesia (BKI), hingga kembali ke LPDP. Setelah gagal di percobaan pertama di Batch 1 LPDP 2025, akhirnya di akhir tahun 2025, saya berhasil lolos pada kesempatan kedua dengan refleksi yang mendalam.

Berbagai kegagalan dalam proses aplikasi beasiswa saya jadikan sebagai ruang untuk mengenali diri sendiri dengan lebih jujur. Saya banyak berdialog dengan diri saya selama proses pendaftaran LPDP. Pertanyaan-pertanyaan dari reviewer mendorong saya untuk meninjau kembali portofolio yang saya miliki, mempertajam kontribusi keilmuan yang ingin saya berikan bagi Indonesia, sekaligus memperjelas arah riset yang benar-benar ingin saya tekuni. Proses tersebut membuat saya belajar untuk tidak sekadar memperbaiki dokumen aplikasi, tetapi juga memahami kembali alasan mengapa saya ingin melanjutkan studi. Saya belajar tampil apa adanya dan menghargai setiap proses yang telah dilalui, termasuk proses yang tidak selalu berakhir dengan keberhasilan.
Ada satu hal penting yang saya sadari selama proses aplikasi beasiswa yang saya pelajari. Sering kali kita terlalu terpaku menampilkan keberhasilan dalam portofolio, termasuk hanya menunjukkan prestasi yang dianggap linear dengan bidang yang akan diteliti. Padahal, kegagalan maupun proses-proses yang masih sedang diperjuangkan juga dapat diceritakan secara jujur dan bermakna, bahkan justru mampu memperkuat portofolio kita. Pengalaman ketika proposal dana hibah stunting saya ditolak proses penulisan beberapa naskah penelitian yang sedang on-going, misalnya, tetap saya ceritakan dalam esai. Saya ingin menunjukkan bahwa menjadi seorang akademisi bukan hanya tentang pencapaian, melainkan juga tentang ketekunan untuk terus bertahan, belajar, dan tidak mudah menyerah dalam menjalani setiap proses.
Mempersiapkan Langkah Kecil si Buah Hati
Tantangan saya bukan hanya soal urusan administrasi universitas. Fokus utama saya sekarang adalah menyiapkan anak saya untuk pindah ke Australia. Rencananya, kami akan memulai perjalanan di University of Queensland (UQ) pada Juli 2026 nanti.
Sebagai ibu, saya tidak luput dari rasa kekhawatiran lanjutan. Ada sebuah paradoks yang sempat mengusik pikiran. Saya pergi ke UQ untuk belajar tentang pengasuhan positif langsung dari ahlinya tetapi di saat yang sama, saya juga akan mengalami tantangan pengasuhan, “Bagaimana saya akan mengasuh anak saya nanti saat saya sibuk belajar dan kemungkinan anak tinggal berjauhan dengan ayahnya yang masih harus di Indonesia?”
Namun, saya mencoba menata hati. Saya percaya bahwa perjalanan ini adalah untuk kebaikan masa depan kami, memperluas koneksi, sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi anak saya melalui lingkungan dan budaya yang berbeda di Australia.
Untuk meredam kecemasan, saya melakukan riset sedalam mungkin. Saya mulai mengajak anak mengobrol pelan-pelan tentang rencana kepindahan ini bahwa dia akan berganti sekolah, berpisah sementara dengan teman-temannya, dan akan bertemu teman-teman baru di sana. Saya ingin proses ini tidak terasa seperti perubahan yang mendadak baginya.
Saya juga banyak bertanya kepada teman-teman sesama ibu yang membawa anak saat studi hingga mencari informasi di komunitas warga Indonesia di Australia. Bukan hanya soal kurikulum sekolah, saya bahkan mencari tahu secara detail tentang fasilitas tempat penitipan anak, tambahan biaya hidup, hingga rute transportasi yang paling aman dan praktis untuk seorang ibu yang nantinya harus menggendong balita sambil memikirkan tugas akademik.Bagi saya, riset yang matang adalah cara terbaik untuk menenangkan diri. Meski kemungkinan harus menjalani hubungan jarak jauh, saya dan suami berkomitmen untuk saling menjaga dan memberikan yang terbaik. Sebab pada akhirnya, ketenangan seorang ibu sering kali lahir dari persiapan yang dipikirkan dengan sungguh-sungguh.
Artikel ini diolah melalui wawancara Nurul A’la dengan narasumber Adelia Kesumaningsari, diedit oleh Hanifa Paramitha untuk PhD Mama Indonesia. Adelia dapat dihubungi melalui linkedin di Adelia Kesuma.
