PhD Mama Dharma: Kisah single-fighter, vonis down-syndrome dan layanan child-care

Bagaimana perasaan Kakak sekarang studi sudah rampung dan sudah kembali berkumpul lagi bersama keluarga?

Ya, saya selalu melihat bahwa setiap insan di dunia ini semata-mata hanya menjalankan peran sesuai takdir dan tugas kita adalah menghidupkan peran tokoh itu sebaik-baiknya dengan ikhtiar dan beribadah.

Alhamdulillah, rasanya bahagia yang tak terkira karena perjuangan lahir dan batin di jalan ilmu untuk mencapai PhD selama 4 tahun akhirnya bisa dituntaskan tepat waktu. Yes, mission accomplished!  Saya amat bersyukur misi saya sebagai thalibul ilmi yang juga telah ditakdirkan sebagai ibu dari 3 orang putra, telah saya selesaikan atas izin Allah.

Seperti apa Kakak melihat perjalanan PhD yang telah dilalui?

Menjalani hari-hari sebagai PhD student sangatlah berbeda dengan masa-masa lain dalam hidup saya. Ada banyak “kejutan” dan “drama” di dalamnya. Tapi semuanya bisa terlewati dengan selalu berpegang pada 4 hal yang menjadi kekuatan saya; do my best, be patient, be persistent dan less complaining.

Sedikit kilas balik perjalanan saya, studi PhD saya adalah di bidang Control Engineering di RMIT University, Australia. Satu semester pertama saya lewati seorang diri tanpa keluarga. Progres awal penelitian saya di beberapa bulan tersebut sangat baik karena fokus saya saat itu semata-mata di studi, dengan rutinitas hanya seputar studi literatur, menulis, programming, aktivitas di lab dan meeting dengan para supervisor atau lab member sehingga kehidupan sosial saya pun masih sangat terbatas kala itu.

Seperti itulah siklus yang saya buat sedemikian rupa untuk mengalihkan rindu kepada anak-anak dan keluarga yang semakin hari semakin tak tertahan. Di akhir semester pertama, saya menyerah tidak sanggup lebih lama lagi jauh dari anak-anak dan 2 putra saya (usia 10 dan 8 tahun) yang akhirnya ikut menemani saya di Melbourne dan saya pun memulai episode baru sebagai “single fighter”.

Suami tidak bisa menetap bersama kami karena pertimbangan utama saat itu adalah kondisi almarhumah Ibu mertua yang sedang menderita penyakit kronis dengan kondisi kesehatan yang terus menurun sejak beberapa tahun yang lalu.

Studi Kakak diselingi banyak kejutan, apa maksudnya?

Kejutan terbesar pertama saat saya baru saja memulai ritme kehidupan sebagai single fighter, saya ditakdirkan hamil anak ketiga. Ini salah satu periode kritis saya karena saya harus berjuang memecah fokus dan energi saya untuk menguatkan diri melewati trimester awal kehamilan dengan kondisi tubuh yang sangat lemah karena emesis (mual muntah), mendampingi anak-anak beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, dan di saat yang sama aktivitas riset juga harus tetap berjalan dengan status test-bed untuk penelitian saya yang baru saja dalam tahap desain.

Kejutan berlanjut, belum juga genap 3 bulan usia kandungan saya, melalui serangkaian pemeriksaan medis, bayi yang sedang dalam kandungan dicurigai mengidap Down Syndrome (DS). Ya.. kejutan yang satu ini hampir saja meruntuhkan pertahananku.

Saya dihadapkan pada 2 pilihan dari tim medis: meneruskan atau mengakhiri kehamilan alias aborsi. Dengan keyakinan akan kasih sayang Allah, saya memilih untuk meneruskan kehamilan saya. Saya yakin di balik semua kejutan itu ada hikmah yang besar, saya hanya harus belajar membaca tanda-tanda hikmah dan berkah dibalik semuanya. Dan ternyata, bayi saya terlahir sehat dan tidak mengidap DS sebagaimana diprediksi!

An Engineer baby
Si bontot menemani saya eksperimen di lab

Selama kurang lebih empat tahun menjadi “single fighter” untuk 3 orang putera, apa yang menjadi tantangan terberat terkait kondisi tersebut?

Tantangan terberat barangkali adalah bagaimana menjadi terus produktif dalam studi yang saya jalani namun tetap memastikan bahwa kebutuhan lahir batin anak-anak terpenuhi dan mereka baik-baik saja.

Sebagai contoh, saat saya dikejar tenggat waktu untuk memasukkan makalah atau laporan hasil eksperimen dan ada anak yang kurang sehat, baik itu pilek biasa atau bahkan saat bayiku sempat mengalami kejang karena demam tinggi.

Ketika dihadapkan pada situasi seperti itu, hal terbaik yang mampu saya lakukan adalah menenangkan diri saya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, ada Allah Sang Maha Penolong dan buat saya prioritas utama adalah anak-anak.

Untuk kelancaran studi, saya berusaha menjalin komunikasi yang baik dan lebih kekeluargaan dengan supervisor. Segala hal yang terjadi yang sekiranya akan mempengaruhi kinerja saya di riset, akan saya ceritakan dengan terbuka kepada mereka.

Dengan bersikap terbuka, mereka lebih menghargai dan lebih berempati terhadap saya. Bahkan di beberapa konferensi dimana makalah saya harus dipresentasikan, dengan senang hati supervisor bersedia mewakilkan saya untuk hal tersebut.

Yang artinya, beliau harus belajar ekstra lebih detail lagi tentang bahan-bahan presentasi yang sudah saya siapkan. Sungguh, ini adalah bukti lain betapa Allah sudah mengatur semua yang saya butuhkan.

Apakah pernah terpikir untuk menyerah saja?

Alhamdulillah tidak, kehidupan selanjutnya saya jalani dengan kepasrahan yang lebih tinggi, Memang berat secara fisik dan mental, tapi hidup harus terus berjalan. Memulai pagi dengan menyiapkan anak-anak, mengantar ke sekolah dan saya pun ke kampus. Saat jam sekolah usai, saya harus pulang untuk menjemput dan melanjutan pekerjaan kampus di rumah disaat anak-anak sudah terlelap.

Akhir pekan kami pun banyak dihabiskan di laboratorium setelah mengantarkan anak-anak berkegiatan (diantaranya belajar agama di salah satu pusat kegiatan komunitas muslim Indonesia dan berenang). Saya membawa anak-anak ke kampus dan sesekali menemani mereka bermain di taman kampus saat menunggu hasil running dari eksperimen saya.

The 'real' warriors in this PhD journey
Para “pejuang” sesungguhnya dalam perjalanan PhD saya

Dan tepat di akhir tahun pertama saya berhasil melakukan confirmation of candidature (CoC) dengan kondisi kehamilan yang sudah memasuki usia 8 bulan. Tak lama berselang setelah CoC saya pun melahirkan lebih cepat 3 minggu dari due date dengan didampingi suami yang datang tepat semalam sebelumnya. Alhamdulillah, sang bayi terlahir sehat dan normal. Perasaan haru dan syukur yang saya dan suami rasakan saat itu tidak bisa tergambarkan.

Setelah melahirkan apakah sempat beristirahat sejenak dari studi?

Ya, saya memutuskan mengambil maternal leave selama 1 bulan untuk beristirahat pasca melahirkan secara caesarian. Berhubung suami bisa menemani saya hingga 3 bulan setelahnya, ketika masa cuti yang sebulan itu habis, saya mulai kembali ke lab dan melanjutkan riset meskipun dengan speed yang sangat lambat.

Ini disebabkan karena waktu untuk bisa berlama-lama di kampus masih terbatas dan itupun diselingi dengan kegiatan memompa ASI dan tak jarang harus melawan rasa kantuk dan lelah.

Bagaimana Kakak mengatur waktu antara mengasuh bayi yang baru lahir disaat yang sama kewajiban studi tetap harus dilakoni?

Setelah si bayi berumur sekitar 4 bulan, ketika saya harus ke kampus, saya menitipkan bayi saya ke child care center dekat rumah. Namun hanya dua bulan saya menggunakan jasa tersebut dan akhirnya memutuskan untuk memindahkannya ke family day care. Kebetulan saat itu ada beberapa day care yang di jalankan oleh teman-teman Indonesia.

Perjalanan studi saya selanjutnya menjadi lebih berwarna dengan 3 anak yang menjadi supporter utama saya. Hidup lebih ramai, lebih heboh, lebih banyak cinta… tentu saja lebih melelahkan secara fisik tapi mereka jugalah sumber energiku.

Saya juga selalu yakin bahwa do’a dan ridho dari suami dan orang tua menjadi penguatku.

Hal lain yang juga selalu saya syukuri adalah banyaknya teman yang baik dan tulus dalam komunitas kampus maupun sesama warga Indonesia. Mereka selalu ada untuk saling menolong dan memperhatikan selayaknya keluarga.

Bersama teman-teman menikmati makan siang bersama di taman kampus

Bisa ceritakan lebih lanjut seperti apa kontribusi layanan childcare dalam menunjang studi kakak?

Saat beban kegiatan di kampus meningkat dengan semakin mendekatnya tenggat waktu untuk Confirmation of Candidature (CoC), saya memutuskan untuk menggunakan layanan di family daycare untuk after school care buat anak-anak yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar (primary school).

Sebagai student dengan sponsorship dari Australia Awards, saya eligible untuk mendapatkan child care benefit (CCB) dan child care rebate CCR (CCR) dari pemerintah berupa subsidi biaya untuk penggunaan jasa penitipan anak (care) dan pendidikan anak usia dini (early childhood education). Dengan bantuan ini, saya hanya membayarkan selisih biaya antara subsidi pemerintah dan actual rate dari child care terkait.

Terdapat dua jenis approved child care yaitu child care center ataupun family day care (FDC). Child care center adalah center-based care dengan kapasitas dan klasifikasi layanannya lebih bervariasi sesuai dengan jenjang usia anak. Sedangkan family day care adalah home-based care jadi dijalankan oleh individu educator/carer di tempat tinggalnya masing-masing sehingga kapasitasnya lebih terbatas.

Saat baby F di day care
Belajar mandiri di child care

Di Australia, child care center bisa ditemukan di banyak tempat yang tersebar di setiap suburb, bahkan setiap kampus dan perkantoran besar akan menyiapkan layanan child care.

Apa yang mendorong Kakak memilih menggunakan layanan child care?

Alasan saya saat pertama kali menggunakan jasa di child care center adalah karena saya harus kembali fokus ke kegiatan riset di lab sehingga bayi saya harus dititipkan ketika saya ke kampus.

Ketika mendaftar di child care pun awalnya saya masuk waiting list untuk mendapatkan tempat karena banyaknya peminat yang membutuhkan care service untuk usia bayi.

Sempat terbersit keraguan karena yang akan dititipkan adalah bayi yang masih sangat mungil yang saat itu baru berusia 4 bulanan, belum bisa berkomunikasi. Ragu akan rutinitas anak yang berubah dan apakah carernya mampu memahami kebutuhan bayi saya.

Apa saja suka duka menitipkan anak di child care, baik itu child care centre maupun family day care?

Pengalaman sukanya adalah karena saya baru pertama kali menggunakan jasa child care, saya terkesima dan banyak menyimak bagaimana cara carer dan educator menjalankan layanan seperti ini.

Pengalaman yang tidak mengenakkan yaitu barangkali saat bayi saya menjadi kurang sehat karena susah minum selama dititipkan di child care center dan carer nya agak kesulitan untuk memecahkan masalah ini. Saat usia bayi saya 6 bulan, saya pindahkan dia ke family day care yang dikelola oleh teman dari Indonesia sehingga komunikasi lebih intens dan saya jauh lebih tenang karena serasa menitipkan anak pada keluarga sendiri.

Menurut Kakak apakah layanan child care cocok untuk dikembangkan secara lebih serius di Indonesia?

Ya, tentu saja sangat cocok seiring dengan perlahan berubahnya gaya hidup sebagian keluarga di Indonesia untuk menjadi lebih mandiri dengan tidak memberatkan keluarga atau menggunakan jasa baby sitter untuk membantu menjaga anak saat orang tuanya bekerja.

Hal terpenting lainnya adalah dengan adanya pusat layanan seperti ini akan memberikan ruang bagi anak untuk bersosialisasi sedini mungkin yang pada akhirnya akan berpengaruh positif pada perkembangan kecerdasannya secara emosional dan intelektual.

Namun, pengembangan child care center di Indonesia diharapkan akan lebih berkualitas, ramah anak dan lingkungan, lebih hangat dan mempekerjakan carer dan educator yang profesional alias punya sertifikasi khusus.

Apakah ada hal-hal lain yang ingin dibagi ke pembaca terkait perjalanan PhD kemarin, khususnya tantangan studi sebagai “single fighter”?

Saya yakin, menjadi mahasiswi PhD baik itu dengan status sebagai lajang, berkeluarga dengan atau tanpa anak, sendiri atau dengan pasangan, akan menghadapi tantangannya masing-masing dengan dinamika yang berbeda.

Yang perlu kita lakukan hanyalah belajar adjustment. Menyesuaikan keinginan dengan mengukur kemampuan kita dan lebih rasional dalam menentukan hal-hal yang lebih penting dalam hidup kita. Never give up.. because hard work and dedication will never betray you.

Seiring meningkatnya beban pikiran dan fisik selama studi, berkumpul bersama teman-teman juga bisa menjadi terapi tersendiri untuk lebih rileks dan menjadi lebih positif dalam melewati semuanya.

Meskipun itu hanya untuk sekedar lunch bersama atau minum kopi sambil bertukar cerita. Karena saat otak sudah terasa overload, when life gets rough .. kita butuh ruang untuk bercerita, butuh alasan untuk tertawa…. butuh teman untuk meyakinkan diri bahwa kita tidak sendiri.

Buat saya, kesempatan menuntut ilmu sampai ke jenjang PhD adalah berkah yang luar biasa.

Perjalanannya ada yang mudah namun banyak juga yang berat dan berliku, banyak tekanan dan bahkan keputusasaan kadang menghampiri. Saat masa sulit datang, yang terbaik yang bisa dilakukan hanya bertahan, jeda sejenak dan melanjutkan lagi.

Untuk kondisi saya yang saat studi didampingi anak-anak saja, saya sangat menghargai dan bersyukur atas dukungan dan pengorbanan suami saya untuk tetap ikhlas dan tetap bertanggung jawab terhadap kami meskipun terpisahkan jarak ribuan mil.

Setelah empat tahun berlalu, tiga tahapan ujian candidature, beberapa publikasi dari hasil research, thesis submission dan thesis review telah selesai dengan hasil yang sangat baik.

Saat Completion Seminar
Saat seminar penyelesaian (completion seminar) di fakultas

Dan saat ini saya sudah pulang ke tanah air tercinta dengan membawa ilmu baru tentang values of life, friends and family. Selesai sudah satu babak peran saya sebagai seorang PhDMama dan saya sedang melanjutkan hidup dengan menjalankan peran yang lain. I’m forty and my life has just begun!

 

Nulis bareng buku “Jurnal PhD Mama”

IMG_0120

CALL FOR CONTRIBUTIONS

Halo semua. Saat ini saya dan beberapa teman sedang menggarap sebuah buku berisi kumpulan kisah mahasiswi PhD Indonesia (baik yang single maupun sudah menikah/berkeluarga) dari berbagai negara. Bagi teman2 yang berminat untuk bergabung, silahkan kirim ABSTRAK tulisan sepanjang 100 kata paling lambat 22 April 2017 ke kantipertiwi@gmail.com dengan pilihan tema diantaranya:
1. Keluarga
2. Tantangan terkait kesehatan
3. Pengalaman seleksi beasiswa (LPDP, AAS, DIKTI, dll)
4. Interaksi lintas budaya
5. Hubungan dengan pembimbing
6. Strategi agar studi produktif
7. Romantika studi lapangan/eksperimen di lab
8. Keterlibatan/kontribusi untuk komunitas
9. Pengalaman sidang disertasi/examination
10. Pengalaman publikasi ilmiah, media massa dan lainnya
11. Perempuan dan masyarakat (menjawab stigma, stereotyping, dll)
12. Dukungan kampus/negara setempat untuk keluarga selama studi
13. Pengalaman bekerja selama studi (di dalam dan di luar kampus)

14. Tema lain jika ada

Ditunggu ya!

Salam hangat,
Kanti

PhD Mama Dewi: Anugerah studi PhD dibalut kisah LDR segitiga dengan anak dan suami

Halo mbak Dewi, boleh cerita Mbak, bagaimana perjalanan Mbak Dewi dalam menempuh PhD sejauh ini? Apa saja kemudahan dan kesulitan yang ditemui?

Hai mba Kanti. Perjalanan PhD saya di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University secara resmi dimulai pada tanggal 02 Maret 2015. Saat ini adalah tahun ketiga perjalanan saya sebagai kandidat doktor. Dua milestone review seminar alhamdulillah telah terlalui dengan hasil yang memuaskan. Semoga kesuksesan ini terus konsisten sampai dengan dan setelah gelar doktor diperoleh, insya Allah, amin.

Kemudahan yang saya temui selama masa studi diantaranya: Pertama, saya mempunyai pasangan supervisor yang sangat peduli baik dari segi akademik maupun non akademik. Hubungan baik dengan supervisor diikuti dengan kemauan, kerja keras, ketekunan, kesabaran dan do’a merupakan kunci utama saya meraih sukses selama dua tahun ini. Dukungan positif dari kedua supervisor terhadap riset yang sedang dilakukan memotivasi saya untuk memberikan kontribusi yang terbaik.

Kedua barangkali adalah bahwa saya berkuliah di universitas dimana layanan perpustakaannya bisa dikatakan excellent. Saya dapat dengan mudah mengakses berbagai sumber referensi pendukung riset saya mulai dari buku sampai dengan jurnal international bereputasi koleksi terbaru ataupun lama. Akses sumber referensi ini tidak hanya dapat diperoleh dari RMIT library tetapi juga dapat dikirim dari berbagai universitas di Australia melalui document delivery service.

Ketiga, saya juga bisa mengakses layanan informasi dan teknologi (ITS) yang sangat up to date, responsive, dan supportive. Ketika saya bermasalah dalam hal teknis seperti komputer/laptop, password, software, koneksi, dan masalah teknis lainnya, maka saya tinggal menghubungi staf IT melalui telepon yang tersedia di ruang kerja, ponsel ataupun email dan mereka dengan cepat tanggap membantu mengatasi masalah yang kita hadapi baik secara langsung maupun jarak jauh.

Saya juga merasakan adanya dukungan finansial yang baik dari level school/college sampai dengan universitas. Dukungan finansial ini sangat signifikan dalam memberikan kesempatan bagi saya untuk dapat terhubung dengan berbagai expert yang mempunyai kaitan dengan kajian riset saya melalui konferensi internasional maupun lokal.

Di awal tahun 2016 atau tepat satu tahun perjalanan PhD saya, alhamdulillah saya mendapatkan HDR Travel Grant dari RMIT University ditambah dengan tambahan dana dari school untuk dapat mempresentasikan paper saya yang diterima dalam suatu IEEE conference di Las Vegas pada tanggal 11-13 April 2016. Perjalanan ini adalah perjalanan pertama saya ke konferensi internasional yang lokasinya di luar Indonesia dan dibiayai sepenuhnya oleh RMIT University, sehingga bagi saya hal ini adalah anugerah yang luar biasa.

Sementara kalau tentang kesulitan yang saya temui selama studi diantaranya: Pertama, saya harus mempelajari ilmu baru, yaitu tentang kesehatan ibu dan janin. Hal ini tidaklah mudah bagi orang awam seperti saya. Akan tetapi berkat dukungan akses sumber referensi yang baik ditambah dengan koneksi dengan para ahli di bidang ini, kesalahpahaman atau misinterpretasi dapat diminimalkan.

Kedua, pada saat fieldwork atau penelitian lapangan, khususnya dalam hal birokrasi perijinan yang berjenjang dari tingkat nasional sampai dengan tingkat kabupaten. Oleh karena riset saya melibatkan data retrospektif dan prospektif, maka pembatasan waktu rekomendasi penelitian yang singkat dari pihak pemerintah (per 6 bulan) mengakibatkan surat rekomendasi yang diberikan harus diperpanjang setiap semester sampai penelitian/pengambilan data selesai.

Keterbatasan fasilitas dan akses terhadap surat elektronik di beberapa kota/kabupaten mengakibatkan saya harus mengirimkan pesan singkat (sms) atau menelpon pihak terkait, bahkan melibatkan teman sekerja, teman sealumni, dan mahasiswa untuk membantu menyampaikan permohonan perpanjangan surat rekomendasi penelitian ini. Terakhir, pengumpulan data yang sumber informasinya tertulis secara manual atau belum tersedia secara lengkap melalui online/komputerisasi. Akibatnya perlu waktu yang tidak singkat untuk mentransfer data manual ke dalam versi elektronik.

Kenapa sih, Mbak, mau susah payah studi PhD?

Ya, melanjutkan studi doktoral memang telah saya niatkan sejak lulus dari studi master di RMIT pada akhir tahun 2008. Motivasi utama tentu saja karena tuntutan profesi sebagai dosen di Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan IPA, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan.

Meskipun sempat berpikir bahwa studi doktoral itu tidaklah mudah, motivasi dan impian yang cukup tinggi untuk menuntut ilmu di luar negeri membuat saya gigih untuk mendapatkan sponsorship untuk melanjutkan program doktoral ini.

Secara pribadi, sekolah di dalam maupun di luar negeri sama baiknya tergantung bagaimana kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri masing-masing.

Akan tetapi, belajar di luar negeri mempunyai nilai tambah tersendiri karena selain menuntut ilmu akademik kita juga dapat mempelajari budaya negara lain dan mengambil hal-hal positif yang mungkin nantinya dapat kita terapkan dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik, terutama dari sisi proses belajar mengajar.

Selain itu, sekolah di negeri orang memberikan pelajaran tersendiri tentang bagaimana kita saling menghormati dan toleransi tanpa membedakan SARA sehingga membentuk kedewasaan dalam pola berpikir kita.

Selain itu, saya melihat bahwa menjalani studi doktoral memberikan dampak positif terhadap pola pikir saya untuk menjadi lebih kritis berdasarkan bukti dan praktik ilmiah, serta dalam hal pemahaman arti riset yang sesungguhnya.

Bagi saya, studi PhD itu adalah sebuah proses pendewasaan tersendiri terutama dalam hal bagaimana menyikapi komentar/feedback baik itu dari supervisor, panels, peer-reviewers maupun examiners.

Perjalanan PhD ini juga memberikan pelajaran bagaimana menjadi peneliti yang bertanggungjawab dan menghasilkan penelitian yang diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Terkadang studi di luar negeri mengharuskan para PhD Mama merasakan berpisah dari keluarga untuk sementara waktu. Bagaimana pengalaman Mbak?

Ya, saya pernah merasakan hidup berjauhan dari keluarga. Pastinya tidak ada seorang isteri yang ingin berjauhan dengan suaminya dan tidak ada seorang ibu yang ingin berpisah dengan anak-anaknya. Akan tetapi, perjalanan hidup tidaklah selalu indah ya, Mbak. Saya harus rela berpisah dengan suami dan bidadari kecil saya, Kayana Hana Arifa (Kaye), di usianya 4.5 tahun.

Beberapa alasan yang mendasari long distance relationship (LDR) ini antara lain karena mempertimbangkan pekerjaan suami sebagai anggota POLRI yang tidak memungkinkan untuk ikut bersama saya selama 4 tahun. Prosedur perijinan yang sangat ketat ditambah loyalitas kerja yang sangat tinggi dari suami saya mengakibatkan kami berkomitmen untuk menjalani LDR ini.

Kemudian, tuntutan jam kerja suami dan kedua orangtua yang tinggi mendorong keputusan saya dan suami untuk menitipkan sementara Kaye di tempat adik kandung ibu saya (tante) di Jakarta sampai dengan Kaye masuk sekolah dasar.

Artinya LDR nya tak cuma dijalani oleh ayah dan ibu, tapi juga anak?

Betul, kami berpisah di tiga lokasi mbak, Kalimantan Selatan—Jakarta—Melbourne. Perasaan sedih, khawatir dan rindu selalu saya rasakan setiap hari. Akan tetapi dengan menggunakan teknologi yang semakin canggih alhamdulillah saya dapat berkomunikasi dengan mereka setiap hari baik melalui voice call maupun video call.

Untuk mencegah perasaan galau ini saya juga mengimbanginya dengan kegiatan positif dengan menghabiskan waktu di kampus hari kerja dan bekerja paruh waktu di akhir pekan. Saya juga niatkan bahwa semua karena Allah SWT dan saya yakin bahwa ini adalah ketentuan terbaik dariNya.

13626378_10154308448365996_5758960227987783015_n
Bersama suami tercinta yang selalu memberi dukungan penuh

Luar biasa perjuangannya Mbak, apa saja tantangannya selain perasaan sedih dan kangen seperti Mbak bilang tadi?

Ya, tidak sedikit orang yang bilang “Wah kasian banget anak dan suaminya ditinggal”, “Nggak kangen”, “Gimana dong, suaminya sendirian?”, “Nggak takut suaminya diambil orang?”. Parahnya lagi ada yang menyuarakan “Kaye seperti anak yatim piatu” seakan meniadakan arti kasih sayang penuh yang telah diberikan Oom dan Tante saya untuk Kaye sehingga dia bisa merasa nyaman dan saya pun bisa merasa tenang selama studi.

Meskipun mungkin mereka hanya bercanda tapi Mbak Kanti mungkin bisa bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu, sedih banget Mbak. Saya mencoba untuk tetap sabar dan istighfar mendengar semua perkataan ini. Mungkin ini juga salah satu ujian hidup saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Di sisi lain, ketika saya pulang ke Indonesia untuk menemui anak dan suami dengan menggunakan fasilitas reunion airfare yang diberikan sponsor saya, Australia Awards Scholarships (AAS), saya juga mendapat ucapan “Kok pulang terus, emang sudah selesai ya studinya?” Masya Allah, serba salah ya, Mbak, jadinya, jenguk keluarga dikatain, tidak pulang apalagi hehe…

Kesimpulan saya, biarlah orang mau berkata apa selama mereka tidak mengalami apa yang saya alami maka selama itulah mereka tidak akan pernah bisa mengerti.

Saya juga sangat berterima kasih kepada Oom dan Tante saya yang telah ikhlas merawat dan mendidik Kaye selama kurang lebih 2 tahun perjalanan PhD saya sehingga saya bisa melewati masa-masa ini dengan mudah.

Bagaimana memberikan pemahaman pada keluarga agar diberi dukungan merantau untuk studi yang cukup lama?

Alhamdulillah kedua orang tua, mertua dan keluarga saya sangat mendukung keputusan untuk lanjut studi program doktor ini. Mereka mengerti sepenuhnya bahwa studi lanjut ini merupakan bagian dari pekerjaan yang saya tekuni. Terlebih dari suami, dialah orang yang selama ini selalu mendukung pekerjaan saya sebagai dosen dan selalu menyemangati untuk sekolah lanjut.

15978027_10154889852955996_2207492884392961650_n
Kesempatan jalan-jalan bareng ketika Ibu berkunjung

Alhamdulillah, kami berdua saling support satu sama lain dan menghormati pekerjaan masing-masing.

Saya yakin restu dari kedua orangtua dan ridho dari suami inilah yang alhamdulillah memberikan kelancaran bagi perjalanan studi PhD saya selama ini, Mbak.

Kabarnya sekarang putrinya sdh menyusul ke Melbourne ya Mbak, pasti senang sekali ya bisa berkumpul lagi? Apa saja yang berbeda sekarang?

Iya mba, alhamdulillah Allah mengabulkan rencana saya dan mungkin inilah saat terbaik untuk kami berkumpul bersama lagi. Putri saya, Kaye, menyusul saya pada bulan Desember 2016 atau setelah 2 tahun saya menetap dan cukup stabil kondisinya di Melbourne. Sekarang, dia sudah terdaftar sebagai siswi kelas 2 di Moreland Primary School.

Tentu saja banyak perubahan yang terjadi pada pola rutinitas saya sekarang, selain sebagai seorang pelajar saya juga berperan sebagai seorang ibu. Hal ini tentunya tidaklah mudah akan tetapi juga tidaklah asing bagi saya karena ketika di Indonesia rutinitas sebagai isteri, ibu dan dosen selalu dijalani tanpa jasa pembatu rumah tangga.

Hal yang berbeda hanyalah ketika di Indonesia jasa penitipan anak ketika jam kerja relatif mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau, maka lain halnya dengan hidup di Melbourne dimana untuk mendapatkan jasa penitipan anak tidaklah mudah ditambah dengan biaya yang sangat tinggi jika tanpa subsidi dari pemerintah yaitu child care benefit (CCB) atau child care rebate (CCR).

Tidak semua orang bisa memenuhi kriteria untuk mendapatkan kedua jenis benefit ini. Alhamdulillah karena saya disponsori oleh AAS (Australian government), peluang untuk mendapatkan salah satu atau kedua benefit ini sangatlah mungkin meskipun memerlukan waktu yang tidak singkat.

Sebenarnya tanpa child care pun anak saya bisa karena usianya sudah 7 tahun (usia sekolah). Akan tetapi, kembali pada tujuan utama saya disponsori untuk ke Melbourne adalah tidak lain untuk menyelesaikan studi PhD tepat pada waktunya. Oleh karena itu, saya tetap harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan akademik yang memerlukan dedikasi waktu yang tidak sedikit dengan kebutuhan anak.

Supervisor saya tidak mengharuskan saya untuk kerja di kampus setiap hari bahkan beliau menyaranan saya untuk studi dari rumah dengan menggunakan fasilitas super dari “Mydesktop”, dimana saya bisa akses PC di ruang kerja kampus secara remote. Akan tetapi, bagi saya suasana kerja di kampus lebih memotivasi untuk bisa fokus daripada kerja dari rumah.

Alhasil, saya menitipkan Kaye setiap habis pulang sekolah, Senin hingga Jumat, ke after-school care (penitipan setelah jam sekolah) agar saya mempunyai waktu lebih untuk studi di kampus dan Kaye pun mempunyai aktifitas positif selama program after-school care.

Saya berusaha untuk membuat Kaye nyaman dan mempunyai pengalaman berharga selama tinggal di Melbourne. Meskipun saat libur sekolah maupun akhir pekan saya sering menghabiskan waktu di kampus bersama Kaye, saya tetap imbangi dengan mengajaknya pergi ke kolam renang, taman, perpustakaan, ke mall, ke event-event yang menarik, ke pantai, atau cuma sekedar nongkrong untuk makan di resto atau makan es krim bareng.

17492289_10209604352359710_9061093769087956068_o
Komunitas Indonesia di Melbourne yang menjadi salah satu sumber dukungan untuk saya

Alhamdulillah, Kaye anak yang baik dan tidak pernah mengeluh terhadap kondisi dan situasi yang dia hadapi sekarang ini meskipun kadang dia harus menghabiskan waktu saat akhir pekan dan libur sekolahnya di kampus bersama Mamanya. Kadang saya bisa meneteskan air mata sendiri mba disaat melihat dia sedang tertidur pulas.

Saya sedih sekaligus bangga dengan Kaye. Meskipun sempat berpisah jauh dari saya selama 2 tahun, alhamdulillah dia tidak pernah marah ataupun mengeluarkan kata-kata tidak sopan terhadap Mamanya.

Bahkan dia bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri serta mampu mengenal dan menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan.

Alhamdulillah saya juga mempunyai teman-teman PhD yang sangat pengertian dan baik sehingga keberadaan Kaye di meja kerja saya di kampus tidak menimbulkan masalah bagi mereka bahkan mereka sering mengajak bicara, memberikan buku-buku, dan makanan ringan seperti cokelat atau biskuit untuk Kaye.

Boleh cerita sedikit tentang penelitian mbak Dewi dan manfaat praktisnya?

Penelitian saya berbicara tentang aplikasi statistik di bidang kesehatan, terutama untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan janin selama proses kehamilan sampai dengan persalinan. Penelitian ini bersifat multidisiplin/lintas sektor karena selain bidang statistik yang saya tekuni selama ini saya juga melibatkan bidang kesehatan yang sebelumnya belum pernah saya tekuni.

DCIM100MEDIA
Kegiatan pelatihan bersama perwakilan para bidan se- Kalimantan Selatan untuk pencatatan dan perekaman data antenatal care lengkap

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk membantu menurunkan angka kematian bayi baru lahir (neonatal) (AKN) di Indonesia akibat bayi prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Berdasarkan WHO 2015, kejadian prematuritas yang juga sangat berkaitan dengan BBLR di Indonesia meningkat sebanyak 3% antara tahun 1990 dan 2013 dan telah diidentifikasi sebagai penyebab utama kedua terhadap kematian anak di bawah lima tahun.

12987195_10154124674825996_6737949070660686972_n
Jadi turis sejenak di Las Vegas AS, seusai presentasi di sebuah konferensi

AKN di Indonesia ini masih belum mampu mencapai target nasional, WHO, MDGs 2015 dan SDGs 2030. Berdasarkan data Kemenkes (2013), AKN di 28 dari 33 provinsi di Indonesia atau sekitar 85% masih belum dapat mencapai target nasional (15 per 1.000 kelahiran hidup), termasuk provinsi Kalimantan Selatan (lokasi penelitian ini) yang merupakan salah satu dari 5 provinsi yang mempunyai AKN tertinggi di Indonesia (Maluku Utara, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, dan Aceh).

Oleh karena itu, penelitian saya ini secara khusus mengkaji tentang pengembangan model pengendalian kualitas dan pejaminan mutu proses layanan antenatal di Indonesia. Layanan antenatal ini diyakini dapat berperan sebagai salah satu upaya preventif dalam mengurangi risiko bayi lahir prematur dan BBLR.

Pemeriksaan rutin terhadap karakteristik utama ibu dan janin yang berkontribusi terhadap pertumbuhan janin serta pendokumentasian hasil pemeriksaan yang lengkap dapat membantu deteksi dini komplikasi kehamilan dan ketidaknormalan tumbuh kembang janin.

Model deteksi antenatal ini diharapkan dapat menjadi alat bantu visual/petunjuk bagi para bidan sebagai praktisi kesehatan utama bagi kesehatan ibu dan janin di Indonesia bahkan bagi ibu hamil itu sendiri dalam mengenali secara dini komplikasi kehamilan dan ketidaknormalan tumbuh kembang janin sehingga mampu memberikan tenggang waktu yang cukup untuk pengambilan tindakan/rujukan yang cepat dan tepat berdasarkan data hasil pemeriksaan (evidence-based decision) sebelum bayi dilahirkan, terutama bagi ibu hamil yang tinggal di rural/remote area dimana ketersediaan layanan/fasilitas kesehatan dan tenaga ahli masih minimum.

Terima kasih atas waktunya, Mbak Dewi, peluk sayang untuk Kaye dan sukses selalu bersama keluarga tercinta!

Farah Bachtiar: Tentang pilihan perempuan, mencari jodoh dan mengejar PhD

Setelah vakum cukup lama, berikut obrolan saya dengan Farahdiba Bachtiar, yang biasa dipanggil Diba, tentang serba-serbi kehidupannya sebagai seorang perempuan muda lajang dan juga kandidat PhD di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Melbourne, Australia.

Apa yang mendorong Diba utk studi PhD diusia yg terbilang cukup muda – belum 30 tahun?

Ya Mbak, terus terang aku punya ketertarikan yang besar terhadap ilmu Hubungan Internasional (HI). Sejak kuliah S1 sudah suka sekali dengan kajian HI, suka juga membaca buku dan berdiskusi terkait isu-isu global, yang semuanya menjadi pendorong terbesar mengapa ingin kuliah lagi. Dulu sih nggak mikir waktu mau sekolah lagi, motivasinya pengen belajar aja. Soalnya aku bukan tipe yang bisa belajar tanpa ruang kelas dan guru. Harus ada yang menginstruksi.

Perempuan seusia Diba banyak yang sudah menikah dan berkeluarga. Apa respon Diba terhadap komentar bahwa perempuan lajang berpendidikan tinggi apalagi Doktor akan sulit menemukan jodoh?

Terus terang komentar itu tidak berpengaruh sih, Mbak. Aku tidak pernah menakutkan itu sama sekali. Makanya aneh ketika orang pada ribet mikirin jodohku, hehehe.

Urusan jodoh adalah urusan di luar kehendak manusia, tidak berkorelasi dengan pendidikan. Ada banyak faktor lain juga yang menentukan.

Saat mempresentasikan riset PhD di Asian Politics, Economics and Law Conference di Kobe, Jepang

Bagaimana komentar para lelaki lajang tentang perempuan lajang berprestasi – apa betul mereka “takut”?

Berdasarkan hasil diskusi dengan banyak teman lajang laki-laki, aku belajar bahwa ternyata kekhawatiran itu ada. Mereka –meski tidak semua, berpandangan bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi misalnya memiliki ego yang besar. Sehingga membuat mereka sulit diatur, lebih mudah memberontak dan membangun superioritas.

Tapi, sebagaimana kompleksnya masyarakat, aku melihat ketakutan itu salah satunya dipengaruhi oleh alasan-alasan emosional dan karakter individu yang bersangkutan. Ada banyak pula laki-laki yang bisa berpikir lebih rasional dan tidak tenggelam dalam ketakutan. Dan ternyata tidak selalu juga orang yang berpikir rasional itu memiliki pendidikan tinggi. Pengamatan pribadiku malah laki-laki dengan tingkat prestasi atau pendidikan tinggilah yang punya ekspektasi bahwa perempuan harus satu ‘level’ di bawah mereka, hehe.

Apa pandangan Diba tentang peranan perempuan pada umumnya – antara berkeluarga dan mengejar cita-cita?

Ya selama ini kan wacana yang dibangun di masyarakat adalah bahwa perempuan harus memilih salah satu diantara dua pilihan itu. Walaupun menurutku memang tidak semua perempuan memiliki kemampuan untuk mengelola keluarga dan cita-cita secara seimbang. Tapi bagi aku disinilah inti permasalahan dalam masyarakat kita.

Kita sering lupa bahwa perempuan perlu diberi pilihan. Apakah mereka ingin menjalani keduanya atau memilih salah satu. Aku melihat ada banyak sekali sosok-sosok di sekitar kita yang bisa membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan beriring. Aku melihat itu minimal dari ibuku, dan itu yang membuat aku ingin melakukan hal sama.

Bukan karena mau membuktikan apa-apa sih, tapi karena memang menurut aku, aku butuh keduanya.

Apa yang perlu dilakukan terkait cara pandang yang demikian?

Barangkali kita perlu merubah cara berpikir orang. Sebenarnya jika ditelusuri lebih dalam, budaya dan agama tidak menyudutkan perempuan terkait peranannya. Ada aturan memang, tapi aturan itu juga mempertimbangkan kebaikan perempuan dan masyarakat.

Dilain sisi, orang sering lupa sekarang banyak pintu yang terbuka lebar untuk kontribusi perempuan diluar urusan rumah tangga. Memang, perempuan di masa lalu kerjanya terbatas pada urusan domestik. Ya, karena saat itu masyarakat belum mengenal teknologi seperti sekarang, lembaga serta kondisi masyarakat masih sederhana.

Kalau sekarang kan sudah tidak relevan lagi seperti itu, di rumah pun perempuan sudah memiliki berbagai fasilitas dan pilihan berkegiatan. Masyarakat masa kini mestinya bisa melihat poin itu.

Jalan-jalan setelah presentasi bersama teman-teman

Diba asli dari Makassar ya, kalau tradisi Makassar sendiri, apakah perempuan cukup didukung untuk mengejar cita-citanya?

Menurut aku iya jika berkaca pada pengalaman aku dan adikku, walau mungkin kami tidak cukup representatif untuk mewakili masyarakat Bugis Makassar yang besar dan beragam.

Tetapi, prinsip hidup “kualleangi tallang na taoalia” (pantang biduk surut ke pantai) yang aku terjemahkan sebagai prinsip “pantang menyerah” tertanam kuat dalam diri anak-anak perempuan Makassar.

Ibu aku menggunakan itu sebagai prinsip hidupnya dan itu ‘turun’ kepada kami anak-anak perempuannya. Ibu dalam konteks masyarakat Makassar punya peran besar dalam menanamkan nilai-nilai dan nilai pantang menyerah serta tangguh itulah yang yang beliau turunkan pada anak-anak.

Serunya kegiatan roundtable discussion bersama penerima beasiswa LPDP di Melbourne bersama Prof Denny Indrayana

Apa rencana Diba setelah selesai studi?

Rencanaku adalah kembali mengabdi di Makassar. Menepati janji untuk berkontribusi ke daerah asal. Bukan karena tuntutan program beasiswa semata sih. Tapi, terkadang aku miris melihat bahwa orang-orang yang punya kesempatan mendapat privilege berpendidikan ternyata menjadi oportunis, lupa pada janji membangun daerah. Akhirnya daerah kekurangan orang-orang yang mau membangun dari nol.

Itulah mengapa penelitian S3 aku sangat berkorelasi dengan daerah. Aku meneliti tentang ekspansi BUMN yang mendunia yakni PT Semen Indonesia. Sesederhana karena aku melihat ada perubahan pada peta investasi asing di dunia yang dilakukan oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Perubahan konstelasi ekonomi politik itulah yang menjadi kajian riset aku. Sebagai anak daerah yang berasal dari kawasan penghasil semen, aku merasa bahwa kajian HI mestinya bisa lebih membumi. Karena itulah aku memilih meneliti tentang PT Semen Indonesia.

Sukses terus ya, Diba!

Terima kasih, Mbak.

**Foto-foto adalah dokumentasi pribadi dan atas seizin Bayun Binantoro.

PhD Mama Najmah: Perjuangan panjang berangkat studi S3 bersama 2 balita

Najmah, bisa cerita sedikit bagaimana perjuangan mendapatkan beasiswa S3 sekarang ini?

Ya, saya sudah memimpikan studi PhD dari sejak lama. Waktu itu tahun 2011 saya baru saja menikah. Saya mendaftar beasiswa kesana kemari tapi berkali-kali itu juga saya gagal. Rupanya Allah ingin kami fokus pada pencapaian lain yaitu untuk punya anak terlebih dahulu. Alhamdulillah kami dianugerahi 2 bayi dalam tempo 2 tahun, setelah sebelumnya sempat merasakan periode dua tahun mendambakan anak pertama.

Apa saja yang melatarbelakangi keputusan Najmah studi lanjut?

Sebagai ibu dengan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil, buat saya tidak mudah memutuskan ingin lanjut studi dan terbang ke negara asing. Tapi syukurnya, dengan dukungan terbaik suami, saya bisa berangkat ke New Zealand dengan beasiswa New Zealand ASEAN Scholarship (NZ-AS). Terus terang, keberangkatan ini adalah keberangkatan yang ditunggu-tunggu. Sebelumnya, saya pernah gagal berangkat karena berbagai hal, dari mulai gagal mendapat Letter of Acceptance (LoA) dari universitas tujuan sampai kehamilan, saya harus menunda lagi keinginan ini.

Seperti apa proses seleksi beasiswa kemarin?

Proses mendaftar beasiswa NZ-AS diawali dengan seleksi dokumen. Saya sengaja melampirkan LoA karena itu jadi nilai plus untuk aplikasi kita. Selanjutnya, panitia seleksi akan mengundang untuk wawancara di Jakarta. Sementara untuk pelamar luar Jakarta maka akan diwawancara via telepon. Ada 4 wawancara yang saya lalui. Dan untungnya, tiap wawancara hanya 30 menit jadi sangat manageable untuk yang punya anak kecil seperti saya.

Setelah menerima pengumuman bahwa saya diterima, ada rintangan-rintangan baru menghadang. Saya dinyatakan hamil anak kedua, dan syukurnya diberi kelonggaran untuk menunda keberangkatan.

Setelah melahirkan, luka dari bekas operasi saya tak kunjung reda, saya pun diberi kemudahan lagi untuk memundurkan keberangkatan atas izin pengelola beasiswa. Alhamdulillah.

Mungkin ada yang pernah bertanya, kenapa sih mau bersusah payah memboyong keluarga ke negeri seberang untuk sekolah lagi?

Buat kami, perjuangan 3-4 tahun ke depan bukan capaian pribadi, tapi capaian untuk keluarga kecil kami.

Tidak cuma saya yang bisa tinggal di Auckland, berkuliah di Auckland University of Technology dalam rangka menimba ilmu dan meraih sebuah gelar, tapi keluarga saya juga bisa merasakan hidup di salah satu kota terbaik di dunia untuk bermukim.

Ini keputusan yang sungguh tidak mudah. Pertama, suami harus meninggalkan karirnya di Indonesia dan kedua, saya harus meninggalkan Ayah yang sudah berusia lanjut sendirian. Ketiga, ada kekhawatiran karena anak-anak saya masih kecil, usia 6 bulan dan 2 tahun, masih membutuhkan banyak perhatian dari Ibunya sehari-hari. Saya memberanikan diri untuk mengambil keputusan ini.

13844177_10154458186583010_404140311_o
Presentasi poster didampingi anakku Adilla

Seperti apa proses mempersiapkan keberangkatan waktu itu?

Pihak pengelola beasiswa biasanya menyarankan para mahasiswa baru untuk berangkat duluan dan menyamankan diri terlebih dahulu dengan kehidupan baru dan rutinitas sebagai mahasiswa. Tapi karena saya saat itu masih menyusui, saya bermohon agar bisa berangkat sekaligus bareng keluarga. Beruntungnya, banyak yang mendukung keputusan saya ini. Saya difasilitasi oleh pengelola beasiswa, pembimbing saya, dan pihak universitas dalam menyiapkan tiket untuk saya dan keluarga, mengatur persiapan untuk orientasi dan akomodasi di Auckland.

Pernah terpikir untuk berangkat sendiri saja tanpa keluarga?

Hmm, rasanya sulit ya, berada dekat keluarga amat penting buat saya. Di budaya kita, perempuan yang menikah dan punya anak diberikan nilai tersendiri dimata masyarakat. Agama juga memberikan keutamaan dalam memikul tugas sebagai seorang ibu, disamping meniti karir, meraih gelar pendidikan, dan lainnya.

Kalau saya berpisah dengan keluarga, rasanya akan sulit sekali berkonsentrasi untuk menyelesaikan studi.

Diluar itu, membawa anak ke lingkungan baru yang menawarkan berbagai kelebihan juga nilai plus tersendiri. Keluarga saya jadi punya kesempatan melihat kehidupan yang berbeda, budaya yang berbeda, orang-orang, sistem pendidikan yang berbeda, yang bisa jadi bekal buat kami berbagi dengan lingkungan terdekat kami sekembalinya ke Indonesia kelak. Layanan kesehatan gratis, kemudahan transportasi, tiket masuk gratis untuk beberapa museum, kebun binatang, dan rekreasi lain untuk anak-anak, adalah sedikit contoh fasilitas publik yang umum kita dapati disini dan saya kira semua orang Indonesia berhak menikmatinya suatu hari nanti.

13669328_10154433764368010_5105790544394142377_o
Suasana kelas di sekolah anakku yang pertama

Selanjutnya, hijrahnya kami ke New Zealand juga memberi kesempatan pada kami untuk mengenalkan tentang Islam pada masyarakat setempat.

Saya ingin bisa meluruskan miskonsepsi tentang Islam dan posisi wanita dalam Islam, apalagi melihat saya sebagai wanita berhijab.

Ya, mudah-mudahan imej Islam sebagai agama penyebar teror bisa berkurang. Apalagi, New Zealand adalah negara yang ramah terhadap pendatang, negara yang multikultur.

PhD Notes by Najmah 

they are sleeping, we are reading

they are playing, we are writing

they are tired, we are tired

they have not got up, we get up earlier

they are eating, we are eating

they go to childcare, mommy start to think to write, to read or to enjoy rest in Uni..

we work when they are sleeping, playing, etc…

no exact time for us, to spare 8 or 10 hours a day like other students…

we just need to make our own deadline

with a deadline, we will work faster particularly in the end of deadline

13738148_10154453846128010_6319547364145456478_o
Anak-anak tertidur lelap di parents room di lingkungan kampus

 

PhD Mama Ima: Menyiasati studi dengan balita dan menjalani LDR

Perempuan, pengawasan dan ‘realita’ yang subjektif

Sering kali, pilihan hidup yang dibuat oleh seorang perempuan menjadi objek pengawasan (scrutiny) orang sekitarnya. Seolah abai pada kenyataan bahwa setiap orang (terlepas ia laki-laki atau perempuan), menghadapi ‘realita’ yang berbeda-beda yang tak dapat disamaratakan.

Simak obrolan saya dengan PhD Mama Ima yang mengupas tentang tantangan hidup studi di rantau yang penuh lika-liku. Pahit dan getir yang tak jarang menjadi bekal kita menjadi pribadi yang lebih bijak dan tak mau sembarang menghakimi ‘realita’ yang sedang dijalani oleh orang lain.

Mbak, bagaimana perasaan setelah lulus PhD?

Aduh Kanti… perasaannya antara lega banget dan ada insecure nya juga. Lega karena berhasil melewati masa sekolah dan masa berkeluarga yang lumayan banyak tantangannya.

Lega karena berhasil lulus PhD tanpa halangan secara akademis yang berarti. Lega juga karena berhasil menyelesaikan tugas dari negara. Sementara rasa insecure datang karena nggak yakin apakah setelah lulus PhD mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat.

Maksudnya bagaimana Mbak?

Ya, ini terkait kondisi pasangan yang tugas berpindah pindah dan belum menetap dan ada komitmen kami tentang keluarga, ada kekhawatiran bahwa ilmu yang didapat tidak bisa diaplikasikan secara optimal karena saya juga terpaksa harus ikut berpindah.

Bagi saya, PhD adalah langkah awal untuk dapat melanjutkan perjalanan di dunia penelitian yang sebenarnya, saya sangat khawatir apakah saya mampu melanjutkan perjalanan ini.

Apa saja kesibukan sekarang?

Saya masih menjalankan kewajiban saya sebagai Dosen S1 dan S2 di Universitas Negeri Padang (UNP), kesibukannya ya mengajar, melakukan bimbingan skripsi/tesis, menguji, melakukan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Selain penelitian di kampus, Alhamdulillah saat ini diberi kesempatan untuk mengaplikasikan Ilmu dengan menjadi research fellow di salah satu lembaga pemerintah dibidang keuangan dan juga aktif menjadi peneliti di lembaga lainnya.

392005_10150523525868578_1890823332_n
Serius mempresentasikan riset saya di konferensi akademik di Doha, Qatar

Tadi Mbak bilang suami masih bertugas berpindah-pindah, apa artinya masih menjalani long-distance relationship (LDR)?

Iya, LDR dalam artian tidak setiap hari dalam seminggu kami bisa bersama. Itulah kenapa saat menjalani kesibukan saat ini masih ada tantangan yang luar biasa untuk kami sekeluarga. Sekarang suami telah pindah tugas di Pekanbaru, sementara saya masih terikat sebagai Dosen di UNP.

Saya harus rutin melakukan perjalanan luar kota yang lumayan memakan energi dan biaya. Ternyata perjuangan setelah PhD masih ada juga hehehe…

Apa cobaan terberat semasa studi dan bagaimana Mbak melaluinya? 

Di 2 tahun pertama, saya ditemani suami dan anak-anak di Melbourne. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

Suami saya mendapatkan pekerjaan casual yang penghasilannya dapat digunakan untuk mensupport kehidupan kami, anak saya yang kecil mendapatkan Child Care Benefit sehingga bisa mengikuti pengasuhan full day di daycare dan kakaknya sudah mulai masuk sekolah dasar.

Saya bisa mengerjakan riset dengan tenang ketika semua anggota keluarga beraktifitas. Secara ekonomi dan emosional kondisi kami sangat aman.

278002_10150954792048105_948341363_o
Suasana meja kerja saat anak-anak mampir ke kantorku untuk numpang makan

Keadaan sedikit berubah di 2 tahun terakhir, ketika suami harus kembali berdinas di Indonesia karena cuti diluar tanggungan-nya tidak bisa diperpanjang. Saya harus menjalani 2 tahun terakhir masa PhD dengan 2 orang anak dalam pengasuhan.

Setiap hari saya harus mengatur waktu se-efisien mungkin untuk menjalani rutinitas sehari hari, menjadi mahasiswa, mengantar anak-anak ke sekolah dan day care, menjadi ibu, mengerjakan perkerjaan rumah tangga sendirian sampai kadang-kadang harus melakukan pekerjaan casual untuk mendukung kondisi keuangan.

Sempat ada kejadian ponsel saya tertinggal di bus. Waktu itu saking terburu-burunya mengejar seminar supervisor di kampus. Seminar gagal dihadiri, akhirnya duduk menghabiskan sekantong anggur sambil mengenang ponsel yang hilang, hehehe.

Saya waktu itu tidak bisa menyetir mobil dan merasa sangat kehabisan waktu ke kampus dan mengerjakan riset karena harus setiap kali menunggu public transport dari mengantarkan anak-anak. Dengan tekad yang kuat akhirnya saya belajar menyetir dan pertama kali menyetir kendaraan di Melbourne karena kondisi yang memaksa hehehe…

Bagaimana Mbak menjaga keseimbangan hidup berkeluarga dengan beban studi yang cukup berat? 

Kuncinya time management, berdisiplin dengan waktu. Saya harus memaksimalkan proses dan hasil belajar saya selama masa anak-anak di sekolah atau di daycare. Sewaktu anak-anak bersekolah/di daycare, saya berusaha selalu mengurung diri di perpustaakaan untuk meminimalkan distractions.

Ya saya masih ingat hari-hari yang diisi dengan mendorong stroller sejauh 2 km mengantar kakak ke TK dan Deeja ke daycare ketika harus beraktifitas di kampus. Harus kuliah S3 bersama dua orang balita yg masih perlu banyak perhatian.

Seringkali saya terpaksa harus menolak ajakan kawan untuk melakukan sesuatu di jam kantor ini, jadi agak anti-sosial deh, hehehe. Saya juga selalu pulang dari kantor ketika jam pulang sekolah untuk menjemput anak-anak dan menjalankan tugas saya sebagai Ibu.

Weekend juga saya usahakan untuk menjalankan aktifitas menyenangkan bersama anak-anak. Waktu kerja saya adalah jam anak-anak ada di sekolah, daycare atau malam sekali ketika mereka terlelap.

1488127_10151902134263105_2057289749_n
Masa-masa penat namun masih terselip momen-momen bahagia mengajak anak-anak jalan-jalan menikmati pemandangan alam kota Melbourne

Seperti apa dukungan supervisor, kolega dan keluarga?

Supervisor sangat memahami kondisi saya. Setiap kali bertemu pertanyaannya adalah tentang keluarga untuk memastikan bahwa kami semua dalam keadaan baik.

Saya juga beruntung mempunyai teman sharing yang selalu datang di akhir pekan ke rumah. Keceriaan bersama teman dan keluarganya ini sangat membantu saya untuk tetap gembira meskipun banyak deadline di kampus.

Keluarga juga mensupport, misalnya ketika saya harus konferensi keluar negeri, ada keluarga yang datang untuk membantu menjaga anak-anak.

255170_10150218684523578_263604_n
Tertidur di jalan pulang setelah seharian beraktifitas di daycare

Diluar itu, ya terus terang ada saja komentar-komentar yang kurang mengenakkan, misalnya “Apa nggak kasihan anak-anaknya. Apa nggak capek bolak balik? Apa yang masih kurang sekarang? Demi apa sih?”, sejenis itulah.

Jujur, tidak ada yg mudah pasti buat saya memilih jalan hidup saya waktu itu: menjadi istri, ibu dan dosen yang suaminya dinas di luar pulau dan kadang harus berpindah pindah. Tapi entahlah dengan semua tantangan yang ada, Alhamdulillah kami masih kompak berjuang bersama.

Pak Yahya yang selalu tenang saja menggantikan peran menjaga anak-anak ketika saya harus pergi, selalu menemani menunggu travel, mengantar jemput ke airport, memastikan anak anak baik baik saja dan banyak hal lain yang membuat saya tenang menjalani perjalanan ini. Anak-anak? Just beyond my expectations. Alhamdulillah atas penjagaanMu Ya Allah. Terima kasih Ayah, kakak n dedek…

untitled-2
Bersama sang suami – partnerku yang tangguh dan handal

Kami tahu tidak ada yang kebetulan. Juga dengan takdir yang membuat saya harus melewati semua perjalanan ini beasiswa S2, S3, kesempatan mengajar, kesempatan riset dll. Dan apakah kami akan berpangku tangan saja setelah itu. Rasanya nggak enak hati, yah. Kami hanya ingin menjalani takdir ini sebaik baiknya. Mensyukuri semua nikmat yang telah diberikanNya. Berbagi apa yang bisa kami bagi. Itu saja.

Semoga saja anak anak belajar banyak dari semua perjalanan ini seperti saya juga belajar semua perjalanan hidup dari Bapak, Ibu dan kakak kakak saya yang selalu memikirkan kemasyalahatan umat.

317860_10150351958483578_190535528_n
Mensyukuri momen-momen kebersamaan dengan jalan-jalan bersama anak-anak

Kira-kira apa manfaat yang bisa diambil dari riset Mbak untuk kehidupan di Indonesia?

Disertasi saya mengevalusi lembaga keuangan mikro di Indonesia yang mengintegrasikan fungsi sosial dan komersial. Saya membuat model lembaga mikro yang bisa diaplikasikan di Indonesia dengan mempertimbangkan beberapa karakteristik yang unik.

Saat ini alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk memberikan training implementasi model lembaga mikro yang sustainable pada beberapa Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) di Kota Padang. Saya juga sedang menginisiasi pilot project KJKS percontohan yang dapat digunakan sebagai role model KJKS di kota Padang.

Luar biasa. Terima kasih ya Mbak, sukses selalu untuk Mbak Ima sekeluarga.

Sama-sama, Kanti. Semoga bermanfaat.

PhD Mama Evi: endometriosis, disertasi dan buah hati

Beberapa teman bilang, perjalanan meraih PhD adalah ujian tersendiri dalam kehidupan. Bagaimana pengalaman Evi?

Hmm.. ya saya rasa ada benarnya. Diluar beban studi, ujian saya barangkali terkait pengalaman dengan endometriosis ya. Kondisi saya ini meninggalkan beban psikologis yang bener-bener sesuatu.. terutama setelah saya menjalani prosedur laparoscopy. Apalagi kita sedang berusaha menyelesaikan studi.

Saya ingat waktu itu menangis hebat karena kepikiran ada dua tulisan yang harus saya selesaikan diakhir bulan. They are major. Saya marah dan kalut karena saya menjadi lemah dan menyerah pada sakit. Marah karena merasa laparoscopy yang saya jalani tidak banyak membantu. Padahal mungkin saja ini adalah efek samping operasi yang pernah disinggung oleh dokter sebelum saya menjalani laparoscopy. Kecemasan juga sepertinya meningkatkan intensitas rasa sakit saya.

Bagaimana cerita awalnya kok bisa menjalani laparoscopy?

Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu, setelah melalui proses yang cukup panjang, saya akhirnya mendapat kejelasan untuk beragam hal yang saya alami dari mulai sakit ketika menstruasi dan ovulasi, dyspareunia, fatigue, diare, sakit punggung, dan pada dasarnya 12 tahun kondisi infertilitas saya. Intinya, kondisi saya ini disebut sebagai endometriosis. Secara medis ini didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh tumbuhnya jaringan endometrium di luar rongga rahim.

Apa itu jaringan endometrium? Jaringan endometrium adalah jaringan yang melapisi rongga rahim. Dia bisa tumbuh menebal dan jika tidak terjadi kehamilan dia akan berkontraksi dan meluruh menjadi darah menstruasi. Jika jaringan ini tumbuh di luar rongga rahim, dia disebut endometriosis. Karena sifatnya yang bisa tumbuh, menebal, dan meluruh, jaringan endometriosis yang di luar rahim ini dapat menyebabkan rasa sakit yang amat sangat.

Apa penyebabnya?

Belum ada studi yang konklusif mengenai penyebab endometriosis. Yang paling sering dikatakan adalah bahwa ada darah haid yang tumpah ke rongga perut dan akhirnya menempel dan tumbuh di organ yang berada di rongga perut, di luar rahim. Ini masih bersifat dugaan. Apakah ini berkaitan dengan hormon? Ya dan tidak. Ya karena memang pertumbuhan sel endometrium kan dipengaruhi oleh hormone estrogen. Tapi bukan karena kebanyakan estrogen kemudian menyebabkan endometriosis.

Makanya jika ditanya apakah ada diet khusus yang harus dilakukan agar endometriosis tidak tumbuh. Jawaban dokter (setidaknya di Australia) hampir selalu “Tidak ada.” Pola makan sehat itu penting untuk kesehatan. Tidak hanya untuk menghindari endometriosis.

Bagaimana mendeteksi endometriosis?

Sampai saat ini, satu-satunya metode yang akurat hanya melalui laparoscopy atau key-hole surgery. Jaringan endometriosis tidak bisa dideteksi melalui USG baik external atau intravaginal. Hanya ada beberapa dokter yang sangat ahli yang bisa dan berani mengambil keputusan diagnosa melalui intravaginal ultrasound.

Di Canberra, misalnya hanya ada satu dokter spesialis yang melakukannya. Karena ini butuh ketelitian tingkat tinggi. Biasanya deteksi dilakukan melalui personal health history. Misalnya mengukur derajat sakit (relative), waktu terjadinya sakit, dimana letak sakitnya, apakah sakitnya tajam atau tumpul, apakah mengalami diare, apakah mengalami gangguan fertilitas, dll.

Bagaimana mengobatinya?

Sayangnya sampai saat ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan endometriosis. Yang ada adalah manajemen rasa sakit melalui obat penghilang rasa sakit, atau supresi estrogen.

Pada beberapa perempuan terapi supresi estrogen ini bisa berdampak pada regularitas menstruasi; pada intinya hormon estrogen yang bertanggung jawab pada tumbuhnya jaringan endometrium ditekan sehingga tidak tumbuh, tidak meluruh, tidak berkontraksi. Hormon estrogen juga bertanggung jawab terhadap matangnya sel telur. Jika ditekan, sel telur tidak akan matang sehingga tidak akan terjadi ovulasi. Dengan begitu, sakit pas menstruasi dan ovulasi bisa ditekan. Atau prosedur yang invasive dengan laparoscopy atau key-hole surgery.

Kalau pengalaman saya sendiri, cerita saya dengan endometriosis diawali sakit ketika menstruasi yang saya rasakan sejak usia belasan. Orangtua saya saat itu merasa itu normal-normal saja. Saya tidak pernah mengalami pendarahan berlebihan atau sampai pingsan ketika mens. Tapi sejak saat itu saya mulai bersahabat dengan obat penghilang rasa sakit kala haid.

Ketika saya mulai sexually active setelah menikah di umur 23 tahun, saya mulai merasakan ada perubahan. Pada masa subur, saya mengalami pendarahan. Meskipun tidak sebanyak darah menstruasi, tapi pendarahan itu membuat saya panik. Saya berkonsultasi pada seorang praktisi kesehatan dan saya ingat dia mengatakan saya tidak perlu khawatir karena itu masih dalam batas normal.

Tapi, dibalik sikap menganggap normal sakit menstruasi justru menutup informasi bahwa ada kemungkinan terburuk dari kondisi medis ini. Saya tidak mendapatkan informasi yang utuh yang menjadi hak saya sebagai pasien, dan pada level tertentu menjadi sebuah bio-power yang akhirnya berpengaruh pada cara saya melihat diri saya. Saya menjadi malu mengeluh tentang sesuatu yang dianggap normal. Saya malu terlihat lemah dan manja hanya karena sakit yang sudah semestinya saya terima saja. Apalagi kalau menghadapi komentar, “Perempuan lain juga sakit kalau mens, tapi nggak gitu-gitu amat kayak kamu.”

Apakah ini terkait juga dengan perjuangan mendapatkan buah hati?

Awalnya saya merasa tidak terkait. Tapi ketika pernikahan kami sudah berusia lima tahun, saya masih tetap memiliki mild ovulation pain dan occasional ovulation bleeding. Plus sakit pada saat menstruasi yang menurut saya semakin parah. Waktu itu kami sudah berada di Melbourne. Dan saya belum pernah hamil sama sekali. Saya akhirnya memberanikan ke dokter dengan alasan sakit mens yang tidak tertahankan. Dokter saya tidak bisa tidak menghubungkan sakit itu dengan infertilitas saya.

Kemudian saya menjalani serangkaian tes. Tes darah, xray tuba fallopi (HSG), USG external dan intravaginal. Suami saya juga menjalani tes (yang ini ga ada urusan dengan endometriosis ya…). Semua tes itu bertujuan untuk mengetahui penyebab rasa sakit dan juga infertilitas kami. Siklus menstruasi saya tergolong ajeg dan normal. Yang ga normal sakitnya dan ovulasinya. Dokter spesialis di Women’s Hospital yang ahli fertilitas hampir yakin saya memiliki endometriosis karena tidak ada keanehan dari hasil tes. Kadang meskipun mild, dia tetap bisa mengakibatkan rasa sakit yang hebat dan menyebabkan infertilitas.

Waktu itu, akhir 2008 dan saya disarankan untuk laparoscopy untuk diagnosa lebih lanjut. Saya tidak melakukannya. Pada dasarnya, saya tidak terima saja kenapa penyakitnya kok ga bisa dideteksi bahkan via intravaginal USG. Apalagi menjalani operasi hanya untuk diagnose itu menurut saya lebih tidak masuk akal lagi. Akhirnya dengan alasan saya harus segera pulang ke Malang, saya opted out dari daftar tunggu operasi di Melbourne.

Kami kembali ke Malang di akhir tahun 2008. Setelah begitu lelahnya settling back in dan masih repot-repotnya menyiapkan tempat tinggal, Januari 2009 saya dinyatakan hamil. Ga usah ditanya.. bahagia tak terkira… saya langsung lupa dengan segala penyakit itu dan mulai membayangkan persiapan untuk memiliki anak. Sama sekali tidak ada kecurigaan atau ketakutan.

Ternyata pada minggu ke-tujuh kehamilan saya mulai bermasalah. Kantong janinnya berkembang tapi janinnya tidak. Sampai akhirnya saya kontraksi dan pendarahan hebat pada minggu ke-sembilan. Pada saat itu, kami mengambil keputusan yang sangat berat yaitu curette karena janinnya sudah tidak lagi berkembang dan lepas dari dinding rahim. Kami kehilangan jabang bayi yang kami beri nama Sora (Bahasa Jepang yang artinya langit). Saya cukup tertekan dengan kehilangan itu.

Bagaimana reaksi suami kala itu?

Alhamdulillah suami saya adalah orang yang hebat dan punya stok sabar tak terbatas (untuk urusan dengan saya ya… hehehe). Dia selalu menguatkan. Maybe we would be lucky next time. Sejak menjalani curette, sakit menstruasi saya berkurang, tapi sakit ovulasi saya bertambah. Itu bukan sebab akibat ya.. itu hanya penanda waktu.

Sempat mencari diagnosa lain?

Ya, saya pindah dokter kandungan. Ketika saya konsultasi, jawaban beliau adalah nyeri ovulasi itu biasa dan bisa jadi karena sakit lambung saya sehingga menyebabkannya lebih sakit. Saya memang memiliki sakit lambung yang kambuhan. Jadi lagi-lagi keluhan saya dianggap “Normal” bahkan tidak ada saran misalnya jika saya mau pemeriksaan lebih lanjut atau semacamnya. Sakit itu terus saya alami. Tapi ya gimana lagi. I said to myself to suck it up. Ga ada hal yang bisa dilakukan juga.

10360445_10207037859564679_4545216935982017785_n
Bersama kawan hidup saya yang sabarnya luar biasa

Dukungan orang-orang di sekitar bagaimana?

Terus terang karena ketiadaan informasi, banyak yang menganggap saya mengeluhkan hal yang biasa-biasa saja. Pernah saya ngobrol dengan seorang teman yang jauh lebih senior tentang hal ini. Tanggapannya, “Kan enak ada penanda ovulasi, jadi kamu bisa merencanakan keluarga.” Trust me, dengan sakit pada masa ovulasi, merencanakan keluarga adalah hal terakhir yang ingin Anda lakukan.

Disaat yang sama, pertanyaan dan saran-saran tentang reproduksi mulai datang bertubi-tubi tanpa diundang… ya iyalah ya… Dari yang bernada joke sampai serius. Saya mulai males dengan pertanyaan, “Kapan nih mau bikin Kriwul Junior?” atau suami saya yang ditanya temannya, “Lho.. kok durung duwe anak? Tak uruk i a?” Kami hanya bisa tersenyum dan berterimakasih terhadap perhatian itu meskipun pada dasarnya kami pengen nonjok.

Ada juga yang memberi saran pengobatan alternatif atau bahkan orang tua yang menyodorkan berbagai ramuan kepada saya. Saya juga pernah diberikan secarik majalah dakwah oleh seorang teman yang menyarankan saya meminta maaf kepada Ibu saya karena infertilitas ini bisa jadi adalah buah kekurangajaran saya kepada orang tua. Orang lain mempercayai bahwa saya kena tulahnya mantan pacar suami yang menyumbat saluran telur saya, dan lain-lain.

Tekanan sosial terasa semakin berat karena saya memang saat itu tidak memiliki jawaban atas kondisi saya. Saya tidak bisa bilang itu endometriosis karena memang belum ada diagnosa yang meyakinkan bahwa saya memang menderita itu.

Sampai akhirnya 2013 kami pindah ke Canberra. Karena umur yang sudah mendekati 35, batas psikologis dan biologis saya untuk memikirkan rencana memiliki anak. Saya mulai rajin mencatat hal-hal terkait kesehatan reproduksi saya. Saya merasa sakit ovulasi saya juga makin meningkat, disertai dengan dyspareunia. Rasa sakit ini bisa bertahan 2-3 hari disekitar menstruasi dan ovulasi.

Saya ke dokter dan dirujuk ke seorang spesialis di awal 2014. Dokter umum yang selalu menangani saya mengatakan hal yang persis sama dengan dokter umum di Melbourne waktu itu. Ini pasti ada hubungannya antara chronic fatigue, sakit pada masa menstruasi dan ovulasi, dan infertilitas. Sekali lagi saya dan suami menjalani tes infertilitas. Mengulang lagi proses yang pernah kami alami sekitar enam tahun lalu. Lagi-lagi tidak ditemukan sebab yang jelas, selain dugaan ada endometriosis. Saya juga mulai mencari tahu tentang endometriosis dan mengunjungi klinik endometriosis di Canberra Hospital.

Apa kesimpulan dokter?

Setelah triangulasi kepada dua dokter spesialis kandungan dan kebidanan, salah satunya memang ahli tentang endometriosis, dugaan semakin menguat. Dokter memberi saya pilihan untuk melakukan tindakan operasi atau menekan estrogen dengan pil KB. Karena saya dan suami juga ingin lebih serius untuk program kehamilan dan mepet usia ya, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil pilihan operasi. Ternyata memutuskan itu juga tidak mudah karena once again, laparoscopy itu tujuan utamanya adalah diagnosis.

Saya bilang ke suami saya, “Semacam ga masuk akal ya, untuk diagnosa saja aku harus dioperasi. Nanti kalau ga ketemu sakitnya, operasi itu percuma donk.” Ya itu juga sebagian karena biaya operasi saya tidak sepenuhnya ditanggung oleh asuransi. Dan mondar mandir ke spesialis serta menjalankan berbagai tes sudah cukup membuat kantong kami kedodoran. Selain juga efek fear of the unknown. Saya akhirnya masuk dalam daftar tunggu. Kalau di Canberra, dan Australia pada umumnya, elective surgery di rumah sakit umum harus masuk waiting list dulu. Bisa berbulan-bulan.

Selama menunggu saya bertanya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang endometriosis dan laparoscopy. Yang saya tahu, laparoscopy tidak menyembuhkan endometriosis, tapi bisa meringankan karena jaringan endometrium itu disayat. Apakah laparoscopy termasuk operasi besar? Tidak, tapi efeknya tidak boleh diremehkan.

Menurut informasi yang saya dapat, pasien hanya perlu day-admission atau tidak perlu menginap untuk operasi ini. Kemudian, rata-rata perempuan perlu satu atau dua minggu istirahat total setelah operasi kemudian sudah bisa kembali beraktifitas, kecuali mengangkat yang berat-berat. Selain itu, dua siklus pertama setelah laparoscopy, pasien biasanya merasakan sakit menstruasi atau ovulasi yang teramat sangat, bahkan melebihi sakit pra-operasi. Ini yang membuat saya ngeri. Selalu saja ada pertanyaan if it would be worth the cost, the pain, the time, etc.

Akhirnya mendapat giliran operasi juga?

Ya, panggilan untuk operasi datang setelah ngantri selama tujuh bulan. Well ya.. oke… saya cuti selama seminggu karena saya pikir itu cukup untuk pemulihan. Operasi kecil ini… lagi-lagi saya meremehkan. Pada hari operasi itu, 25 Januari 2016, saya masuk rumah sakit pagi pukul 9.00. Tapi antrinya panjang… baru masuk teater operasi jam 1 siang. Dan saya baru dipindahkan ke meja operasi jam 2.30 siang. Saya menyerah pada obat bius. Begitu keluar ternyata sudah pukul 5.45 sore. Gosh.. ternyata operasinya memakan waktu tiga jam.

Karena kondisi yang lemah saya akhirnya stay overnight. Keesokan harinya saya baru boleh pulang. Saya juga langsung berjalan menuju apotik untuk mengambil obat. Ga kerasa… begitu masuk mobil, sakit menyerang. Begitu sampai rumah, saya menangis sejadi-jadinya karena saya tidak bisa meletakkan tubuh saya dalam posisi apapun karena sakit. Untung dokter memberi saya bekal Codapane Forte dan Endone untuk mengelola rasa sakit yang amat sangat ini.

Apa diagnosa setelah operasi?

Saya diberi tahu bahwa endometriosis saya tergolong parah. Dokter mengatakan jika ada skala 0-6, maka endometriosis saya itu skala 4.5. Pada saat itu saya merasa validated. Oh.. ternyata apa yang saya rasakan itu memang benar endometriosis. Tapi shocked juga karena saya yang merasa sakitnya nggak sampai pingsan-pingsan aja skala parahnya bisa sampai segitu. Berarti yang sampai pingsan-pingsan itu skalanya berapa?

Endometriosis saya jenisnya rectovaginal, dan juga ada yang endometrioma. Saya juga punya adenomyosis tapi dokter tidak menyayat untuk yang ini. Ovarium saya nyangkut diantara tuba fallopi dan rahim bagian belakang, ya keduanya. Endometrioma dan obliterated ovaries ini yang membuat saya kesakitan ketika ovulasi. Rectovaginal endometriosis ini yang bertanggung jawab atas sakit yang tak tertahankan di bagian bawah punggung dan pingang. Saya masih dalam masa pemulihan, bahkan sampai tiga bulan setelah operasi. Tapi bukan berarti saya harus bedrest terus. Tapi saya harus aware ada episode-episode sakit yang menggila pada masa ini.

Bagaimana masa pemulihan waktu itu?

Seminggu setelah laparoscopy saya praktis hanya bedrest dan kalau perlu ke kamar mandi saya memerlukan bantuan. Suami dan teman-teman bergantian menjaga. Seminggu berikutnya saya sudah lebih bisa bergerak dan mandiri, meskipun masih minimal. Saya tidak keluar rumah sama sekali selama dua minggu. Arrgh… disini mulai muncul rasa menyesal karena saya kehilangan waktu. Saya mulai menyalahkan diri sendiri karena sakit.

Minggu ketiga, saya pikir saya sudah sembuh. Saya beraktifitas seperti biasa di kampus. Saya berjalan sejauh 1 km dari universitas ke stop bis di kota. Malamnya saya menuai badai. Sakit yang tak tertahankan. Dari situ saya mengetahui kalau informasi tentang laparoscopy yang saya terima kurang lengkap. Pada minggu ketiga dan keempat saya hanya kuat bekerja setengah hari. Saya juga sangat cepat lelah. Praktis sebulan hilang begitu saja. Dan kamu tahu kan, apa arti waktu untuk mahasiswa PhD.

Bagaimana Evi menjalani hari-hari sekarang ini?

Pada minggu-minggu berikutnya selama dua bulan setelah operasi saya mulai bisa bekerja dengan normal kecuali pada saat menstruasi dan ovulasi. Sakit sekali. Selain itu yang saya amati adalah ketika menstruasi pasca laparoscopy ini, volumenya lebih banyak. Hari kedua dan ketiga, saya bisa menghabiskan sekitar enam atau tujuh pads ukuran maxi. Hari pertama bisa menghabiskan tiga pads, hari ke-empat dan lima bisa empat pads. Kulakan deh kalau pas mau mens.

Dengan keadaan begitu, saya harus memperhatikan iron intake dan juga konsumsi air saya harus ditambah. Jangan sampai lemes. Ternyata masa pemulihan itu sangat beragam diantara para perempuan. Mungkin saya termasuk yang lama. Saya tidak pernah lupa membawa parasetamol dan ibuprofen di tas saya, demi kesejahteraan.. hahaha…

Sekarang saya memilih untuk menekan hormon estrogen dengan mengkonsumsi pil KB. Menstruasi tidak sebanyak tiga bulan pertama pasca laparoscopy dan sakit ovulasinya jauh berkurang karena memang pil KB preventing me from ovulating. Lebih manageable lah sekarang. Tapi ya itu berari saya dan suami harus menunda untuk program kehamilan mungkin sampai nanti kelar PhD nya. InsyaAllah.

Sekilas dari cerita Evi, selain beban fisik, ada beban psikologis yang Evi rasakan?

Sangat ya. Kebayang ga sih ketika merasa kesakitan terus dokter atau teman-teman yang tidak memahaminya (dan itu banyak, seperti yang saya ceritakan di atas) melihat saya seperti anak manja yang ga tahan sakit. Like, when they say.. semua perempuan juga sakit kalau pas datang bulan. Atau sakit ketika ovulasi itu biasa. Itu bahkan bagus bisa mengenali masa subur – bagus kan untuk merencanakan keluarga. Menormalkan rasa sakit ini yang menyakitkan. Ini membuat saya berfikir bahwa saya memang manja, nggak tahan sakit, malas bekerja, dan suka melebih-lebihkan sesuatu yang normal dan mungkin remeh.

Apa dampaknya?

Ya, saya mau tak mau harus membangun keterampilan unutk menyembunyikan rasa sakit dan meningkatkan toleransi saya pada rasa sakit. Saya selalu menyemangati diri saya agar bisa melawan rasa sakit tanpa obat. Saya tidak mau terlihat lemah dan manja. Sehingga saya sering menyalahkan diri sendiri untuk deadline yang tidak terpenuhi, untuk berada di atas tempat tidur dan memeluk botol berisi air panas selama beberapa hari, untuk hilangnya waktu bersama teman-teman, dan banyak hal.

Terkait disertasi, pada bulan April 2016, misalnya, saya menjanjikan diri sendiri untuk menyelesaikan dua tulisan, eh tiba-tiba sakit ovulasi teramat sangat menyerang sejak hari ke 11 siklus saya. Dan skala sakitnya semakin meningkat sampai memuncak pada hari ke 13-15. Saya tidak bisa mencari dokter tanpa membuat janji terlebih dahulu. Mana akhir pekan pula. Dan saya agak malu kalau ke departemen gawat darurat di rumah sakit “hanya untuk sakit ovulasi” dan mendapatkan parasetamol. Sebegitu hebatnya pertahanan saya terhadap rasa sakit. Painkiller sudah tidak mempan lagi. Saya kesakitan dan kurang tidur.

Setelah operasi, apakah kondisi fisik jauh membaik?

Tiga bulan setelah laparoscopy, saya bangun dengan rasa sakit teramat sangat. Antara mau ke rumah sakit tapi hesitant to call it an emergency case, tapi sakit banget sampe nggak bisa berdiri atau duduk. Suami saya yang siap melakukan apa saja yang saya minta ikut bingung melihat kondisi saya.

Banyak sekali pertanyaan dalam benak kami.. apakah endo nya sudah tumbuh lagi? Karena memang penyakit ini ga ada obatnya, dan laparoscopy pun belum tentu bisa menghilangkan keseluruhan endomestriosisnya. Saya percaya dokter saya telah melakukan yang terbaik. Tapi mungkin ada jaringan endo yang tidak terjangkau atau terdeteksi olehnya ketika melakukan operasi. So I need to take another test.

Saya bisa saja salah.. karena pada umumnya perempuan yang menjalani laparoscopy akan mengalami sakit yang teramat sangat pada dua siklus sesudahnya. Dua siklus saya setelah laparoscopy memang sakit. Tapi menurut pengamatan suami saya, tidak melebihi yang sebelum laparoscopy. Jika dikatakan excruciating pain, dua itu belum sampai pada level itu. Kali ini sakitnya menurut skala saya 8 atau 9 dari 10. Senin siang, itu mungkin 10/10.

Saya minta diantar ke walk-in center untuk minta nasehat apakah saya harus ke rumah sakit. Perawat melakukan tes urin untuk mengetahui ada tau tidaknya infeksi. Hasilnya negative. Dan akhirnya ya apalagi kalau bukan endo… Dan sampai saat itu, hari ke 20, saya masih merasakan sakit itu, meskipun derajatnya berkurang. Tapi saya sudah kehilangan setidaknya seminggu waktu aktif saya. Saya bertekad untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang apa yang saya alami.

Sekarang setelah memutuskan untuk menunda program kehamilan dan minum pil KB, saya merasa lebih baik. Rasa sakit pada saat menstruasi dan ovulasi sudah jauh berkurang.

Setelah laparoscopy, apakah potensi untuk kehamilan jadi meningkat?

Jawabannya iya dan tidak. Iya, jika endometriosisnya letaknya tidak di tempat-tempat strategis seperti tuba fallopi. Tidak jika endometriosisnya cepet tumbuh lagi.. hehehe… Beberapa teman dan keluarga juga menanyakan apakah setelah laparoscopy ini saya memiliki potensi untuk hamil. Another bomb was dropped setelah operasi, dokter menyatakan bahwa tuba fallopi saya tersumbat sehingga sel telur tidak pernah mencapai tuba fallopi, apalagi rahim. Dokter menyatakan saya memiliki 0% kesempatan untuk hamil secara alamiah. This is another level of life drama.

Pesan apa yang ingin Evi teruskan untuk para perempuan terkait pengalaman ini?

Ya, jangan remehkan rasa sakit (baik di perut atau anggota badan lainnya misalnya pinggang, panggul, pangkal paha, punggung bawah) pada saat menstruasi dan ovulasi.Jika menurut Anda sudah tidak tertahankan, nggak perlu nunggu sampai pingsan-pingsan ya, segera carilah pertolongan dan informasi sebanyak-banyaknya.

Tapi saya bersyukur saya bisa mendapatkan informasi yang cukup untuk membuat berbagai keputusan atas tubuh saya. Suami saya juga sangat mendukung upaya-upaya saya untuk sehat, meskipun dia juga kadang bingung harus ngapain ketika saya kesakitan. Dia dengan sabar mengganti air di botol air panas saya dan mengantar saya kemanapun saya perlu pergi untuk berobat.

Bagaimana Evi dan suami merefleksikan pengalaman ini?

Ya, setelah melewati beberapa krisis, kami mulai berdamai dengan kondisi kesehatan reproduksi saya. Saya bilang kepadanya bahwa secara hukum perkawinan di Indonesia, dia bisa mendapatkan license to take another wife (menurut saya dasar hukumnya sangat patriarkis).

Untungnya dia bukan tipe yang dengan senang hati mengambil patriarchal dividend itu. As we have vowed to grow old together. If it turns out to be just the two of us, then we are not less happy than other couples who are blessed with children.

Jadi sekarang ga usah nanya-nanya kapan kami punya anak ya… doakan saja terjadi keajaiban. Sambil kami juga akan berusaha yang sesuai dengan kemampuan dan keyakinan kami. Kami akan minta nasehat jika kami rasa perlu. What I can assure you, insyaAllah kami berdua tetap bahagia dan akan berusaha membuat hidup kami bermanfaat.

Dan benar, ada banyak cara untuk mereguk kebahagiaan dan membuat diri merasa bermanfaat. Lewat menulis salah satunya, dan juga lewat mengajar. Belum lama ini, my students made me feel showered with love and care amidst the frustration and chaos happening in the past two weeks.

They baked a nice choc cake, brewed green tea, brought cups of coffee, packs of juice, sandwiches, popcorn… best things that could ever happen in a class discussing about power, hegemony, discourse, language etc… hehehe.

Hal-hal kecil seperti mendapat apresiasi di kampus dari mahasiswa kelas yang saya ajar ini menjadi keindahan-keindahan sederhana yang membuat hidup saya semakin bermakna.

13221335_10154897324911562_5189477567819755084_o-2
Bersama mahasiswa-mahasiswa saya yang begitu antusias di kelas

PhD Mama Novi: Sekolah menyenangkan adalah hak seluruh anak Indonesia

Mbak Novi, apa saja kesibukan sekarang? 

Kesibukan saya setelah kembali ke Indonesia tentu saja menjalankan 3 darma perguruan tinggi yaitu mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat. Saya kembali mengajar psikologi perkembangan di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Nah selain itu, untuk pengabdian masyarakat kebetulan karena ada Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), maka saya terus bekerja sosial bersama para guru guru, volunteer orangtua juga mahasiswa untuk bersama sama mengembalikan sekolah Indonesia menjadi tempat yang menyenangkan dan manusiawi buat anak-anak Indonesia.

Biasanya saya akan keliling ke sekolah sekolah dasar yang menjadi jejaring untuk berbagi tentang sekolah menyenangkan dan manusiawi abad 21, kompetensi apa yang mesti dimiliki oleh anak-anak dan juga bagi guru.

Di bulan Mei yang lalu GSM bekerja sama dengan Clayton North Primary School (CNPS), sekolah anak kami di Melbourne dulu, mengadakan workshop selama 5 hari bagi 75 guru dan kepala sekolah calon sekolah model yang telah lolos seleksi di Yogyakarta.

Sekolah model ini akan didampingi untuk membuat perubahan dari penciptaan lingkungan belajar yang positif, pelibatan anak-anak dalam proses pendidikan dan belajar, pelibatan komunitas dan orangtua, manajemen kelas, pengajaran menyenangkan abad 21 juga model assesmennya.

Perubahan ini nantinya akan diriset bersama oleh UGM dan juga Monash University. Semua aktivitas ini alhamdulillah bisa terlaksana karena gotong royong semua pihak. CNPS membiayai sendiri para gurunya, demikian juga Monash dan UGM, serta para guru iuran untuk membiayai workshopnya.

13323667_10154252757813383_1306195023824603253_o
Seusai workshop bersama salah seorang guru dari Melbourne yang berbagi ide, ilmu dan pengalaman tentang sekolah menyenangkan

Boleh cerita sedikit tentang proses kelahiran Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)? Apa tujuan utama dari GSM?

GSM berdiri tahun 2013 ketika saya dan mas Rizal (suami) studi di Melbourne. Gerakan ini lahir karena kami melihat ada gap antara pendidikan di Indonesia dan pendidikan di negara Australia.

Saat itu kami menyaksikan betapa anak anak sangat bahagia di sekolah dan memiliki antusiasisme tinggi sebagai pembelajar mandiri.

Mereka juga diberi ruang oleh sekolah dalam mengembangkan kompetensi uniknya. Kami juga melihat bagaimana pendidikan dasar juga mestinya adalah waktu dimana ditumbuhkan kecintaan anak anak pada belajar, ilmu pengetahuan, sumber-sumber belajar, serta tak lupa menumbuhkan karakter-karakter poistif dalam diri anak-anak. Kondisi ini berbeda dengan kebanyakan sekolah di Indonesia yang kami temui (terutama sekolah negeri).

Mungkin sudah banyak juga sekolah menyenangkan seperti sekolah anak-anak kami di Melbourne, namun biasanya kalau di Indonesia itu harganya mahal dan hanya bisa diakses oleh masyarakat menengah ke atas.

Di sela-sela kesibukan thesis, saya luangkan untuk selalu sit-in di kelas anak anak dan menjadi volunteer orangtua agar saya dapat belajar dari sekolah tersebut. Karena itulah kami ingin membawa pulang ilmu tersebut untuk kami bagi kepada para guru di Indonesia lewat GSM.

12374959_10205840954203057_7633398953567423142_o
Saya ingin semua anak Indonesia bisa menikmati suasana kelas yang menyenangkan yang dapat membantu mereka menikmati proses belajarnya di sekolah

Awalnya itu berangkat dari sebuah program sederhana bernama ‘Berbagi Satu Mimpi’. Kami kumpulkan cerita-cerita tentang praktek baik pendidikan Australia yang ditulis oleh para orangtua yang diantaranya juga adalah mahasiswa PhD Indonesia yg ada di Australia. Cerita itu lalu diterbitkan dalam buku berjudul ‘Sekolah itu Asyik’.

Saat ini kami juga akan mempublish satu buku lagi berjudul ‘Sekolah nir Kekerasan: Inspirasi dari 4 Benua’.

Sejak itu kami bergerak membagikan praktek baik tersebut untuk sekolah di Indonesia sampai beberapa sekolah melakukan perubahan dan membuat jejaring atas inisiatif sendiri.

Jadi GSM adalah gerakan akar rumput pendidikan bertujuan menjadikan sekolah Indonesia menjadi tempat menyenangkan dan manusiawi untuk belajar anak anak Indonesia, untuk menumbuhkan kompetensi abad 21 (kreatif, kolaborasi, berpikir kritis dan komunikasi).

Seperti apa mbak menggambarkan kondisi pendidikan di Indonesia — apa sajakah kekuatan dan kelemahannya, serta potensi ke depan?

Selain aksesibilitas yang tidak merata, kualitas pendidikan yang tidak merata pun menjadi isu.

Pendidikan Indonesia secara umum masih berorientasi pada hasil bukan proses (makanya nilai sangat penting di Indonesia), pendidikan Indonesia juga masih untuk tujuan standarisasi bukan pengembangan kompetensi (makanya masih banyak testing-testing/ulangan), pendidikan kita juga masih mengutamakan kognitif bukan kompetensi utuh dan terakhir pendidikan kita masih berpusat pada guru belum berpusat pada anak anak sebagai pembelajar.

Padahal kita memiliki kekuatan luar biasa yaitu anak-anak Indonesia yang potensial, guru guru yang ingin melakukan perubahan serta kekayaan budaya yang luar biasa yang dapat memperkaya konsep pendidikan Indonesia.

Kelemahannya: sistem birokrasi yang masih lemah. Pemerintah selalu menyatakan bahwa pendidikan adalah yang utama namun bebarengan dengan itu terobosan yang dibuat pun belum optimal.

Pak mantan Menteri Anies Baswedan sebetulnya sudah memberikan dukungan untuk gerakan sekolah menyenangkan yang ikut menyemangati kami untuk terus bergerak dari bawah.

Nah sekarang dengan pergantian Menteri, apakah mewujudkan sekolah menyenangkan tetap menjadi salah satu fokus kebijakan atau tidak, saya tetap yakin anak-anak Indonesia membutuhkannya.

Sekolah semestinya mampu menjadi rumah kedua bagi anak anak kita. Dan kita tidak sedang bicara satu, dua, tiga atau puluhan sekolah yang telah menyenangkan, kita berbicara tentang sebagian besar sekolah di Indonesia.

Terkait ide sekolah penuh hari (full day school), menurut saya tak apa sekolah lebih lama asal membuat anak anak bahagia. Namun pernahkan kita bertanya apa yang membuat mereka bahagia dan tak bahagia di sekolah? Kadang banyak hal tak terpikirkan dari sudut pandang mereka.

13418676_10207061321991489_2530371751244419139_o
Ekspresi antusias anak-anak saat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan

Apa saja rintangan/tantangan yang dihadapi GSM? Apa harapan mbak ke depannya?

Tantangannya adalah mindset lama yang dimiliki oleh para pendidik, orangtua dan masyarakat bahwa pendidikan yang berkualitas adalah yang berstandarisasi melalui ujian dan anak-anak yang hebat adalah anak-anak yang pintar secara akademis.

Ke depan kami berharap GSM mampu mengubah mindset bahwa setiap anak adalah manusia yang memiliki keunikan untuk dikembangkan, oleh karenanya nilai bukan segala-galanya.

Kami berharap sekolah Indonesia ke depan adalah tempat menumbuhkan manusia manusia yang berjiwa, peduli pada lingkungannya juga mampu memberi manfaat pada sekitarnya. Bukan manusia yang memiliki nilai akademik tinggi namun kering jiwa dan tak peduli dengan sekitarnya.

Juga mindset bahwa guru Indonesia itu ‘kurang pintar’ sehingga tidak sanggup membuat inovasi, imbasnya adalah pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah selalu top-down.

Ada banyak guru Indonesia yang memiliki kreativitas dan kemampuan menginspirasi, oleh karenanya ke depan GSM berharap mampu membantu para guru bahwa sejatinya mereka adalah juga pembelajar yang mampu berinovasi dan mengispirasi.

13227330_10206896115981442_6309228473712387722_o
Salah satu sesi saya bersama para guru yang bersemangat untuk perubahan demi anak-anak didiknya

Tiga kata yang paling pas untuk menggambarkan perempuan?

Perempuan adalah.. sumber kehidupan, kekuatan dan kebijaksanaan.

Kanti, buat saya pribadi mengetahui banyak hal tentang bangsa ini membuat saya merefleksi bahwa perjalanan sebagai PhD student sekaligus PhD yang seorang ibu bukan sekadar perjalanan meraih sebuah gelar doktor.

Tapi bagi saya perjalanan saya sebagai PhD adalah perjalanan spiritual yang justru mengingatkan bahwa gelar doktor pun tidak akan berarti apa apa jika kita tidak melakukan sesuatu yang sangat sederhana yang dibutuhkan bangsa kita.

Terima kasih mbak Novi!

Thanks Kanti buat kesempatannya. Sukses selalu.

Tentang sekolah anak dan ‘resilience’

image
ilustrasi dari web blog.uad.ac.id

CATATAN PHDMAMA

Selamat hari pertama sekolah untuk anak-anak Indonesia dimanapun berada!

Terkait dengan tema sekolah, izinkan saya menuliskan catatan saya dari obrolan dengan PhD Mama Hani Yulindrasari yang berlatar belakang psikologi pendidikan. Obrolan ini berawal dari kegalauan beberapa Mama terkait memilih sekolah untuk anak-anak kami sekembalinya ke tanah air.

Pemberitaan yang begitu keras di media yang memotret betapa ruwetnya permasalahan sekolah di Indonesia membuat saya jadi gelisah: bagaimana memilih sekolah yang tepat untuk anak? Pada umumnya, para ibu khawatir tentang 2 hal: bullying dan beban pelajaran.

Sebelum itu, ada catatan penting bahwasanya obrolan ini tidak ditujukan untuk menstigmatisasi pilihan-pilihan tertentu yang dibuat oleh orang tua yang memiliki pertimbangannya masing-masing dalam merencanakan pendidikan untuk anaknya.

Tulisan ini sifatnya pengaya informasi, dan mudah-mudahan bisa menghadirkan wacana alternatif (dibanding apa yang banyak dipotret media dan ilmuwan psikologi dan pendidikan mainstream) soal sekolah anak.

Mbak, bagaimana sebaiknya kita mencermati berbagai persoalan di sekolah seperti kekerasan dan pornografi?

Ya, nggak bisa dipungkiri bahwa itu terjadi dibeberapa tempat. Ditambah lagi hal-hal seperti itu diberitakan sedemikian rupa oleh media dan diangkat oleh ilmuwan-ilmuwan psikologi dan pendidikan seperti saya ini (tertawa).

Ini kemudian membuat banyak orang tua yang menjadi gelisah atau bahkan shock karena merasa kok banyak sekali ya, permasalahan sekolah anak saat ini. Jadi wajar jika banyak orang tua jadi bingung ketika mencari sekolah.

Lalu apa yang sebaiknya jadi pegangan untuk orang tua?

Waspada itu penting, tapi saya juga mau bilang, jangan sampai orang tua menjadi paranoid. Paranoid itu yang harus dihindari.

Dan harus disadari betapa pendidikan sekarang betul-betul dikomersialisasi.

Sekolah-sekolah dengan biaya yang aduhai banyak yang mengklaim bahwa mereka punya program pendidikan yang paling baik yang bisa menghasilkan manusia-manusia yang unggul.

Memang sih, lewat penelitian saya, saya menemukan ada kultur sekolah yang berbeda antara TK murah meriah di desa dengan TK mahal di kota besar.

Waktu itu saya melihat, kultur sekolah yang di desa ya sesuai dengan kebiasaan masyarakat sekitar, banyak jajan, permainannya adalah main kejar-kejaran laki-laki mengejar yang perempuan, intinya permainan kolaborasi. Sementara di TK mahal terlihat anak-anaknya lebih individual milih main sendiri-sendiri.

Di TK desa pengajaran nilai tidak diinstusionalisasikan, di formalkan dalam sesi pengajaran, tetapi muncul berdasar konteks, misal ada kejadian teman jatuh, guru mengajarkan untuk menolong. Sementara di TK mahal, hal-hal tersebut diinstusionalisasikan dalam kurikulum, diatur dan diingatkan setiap hari.

Jadi sekolah seperti apa yang ideal?

Menurut saya fokusnya harus dirubah. Bukan pada sekolah, tapi pada anak kita.

Setiap anak itu tangguh. Punya daya survival yang tinggi.

Punya kemampuan memaknai pengalamannya sendiri. Selalu bisa mengambil pelajaran berharga dari good or bad pengalamannya.

Saya yakin semua ibu sudah menanamkan nilai kebaikan ke anak-anaknya.

Selama kita membantu anak untuk mengasah nuraninya, empatinya, saya pikir mereka akan baik-baik saja di manapun sekolahnya.

Bagaimana dengan masalah beban kurikulum dan potensi bullying, terutama untuk murid pindahan?

Kalau menurut saya, semakin banyak anak menghadapi tantangan, semakin baik. Dan tantangan yang mendewasakan itu adalah tantangan emosional.

Beban pelajaran, bullying, pornografi, adalah permasalahan yang bisa terjadi dimanapun, oleh karenanya kita sebagai orang tua lah yang perlu lebih tanggap membentengi kejiwaan anak kita.

Anak juga perlu pengalaman tantangan yang bervariasi. Anak yang tidak pernah gagal akan terbanting saat gagal pertama kali.

Supaya bisa menghargai kesuksesan dan kemenangan, ya harus pernah melalui kegagalan. Jadi memang perlu mengalami nano-nano.

Saatnya susah berteman, saatnya takut, saatnya gagal, dan saatnya berhasil.

Bagaimana dengan homeschooling?

Tergantung tujuannya apa.

Sebetulnya tiap pilihan menurutku punya keunggulan dan kelemahan, termasuk homeschooling.

Perlu dipikirkan juga sampai kapan kita mau lakukan homeschooling. Kapan kita akan berani lepaskan anak ke dunia nyata di luar proteksi kita.

Lihat juga kondisi anak. Salah seorang teman bercerita bahwa salah satu kesulitan anaknya adalah social skill, jadi dia berpikir malah akan jadi lebih parah kalau homeschooling.

Jadi apa yang harusnya menjadi pertimbangan utama memilih sekolah?

Menurutku jarak sekolah ke rumah lebih penting. Lalu familiaritas orang tua dengan lingkungan sekolah.

Setelah diputuskan mau masuk sekolah mana, selanjutnya dijalani dengan pemahaman bahwa, masalah-masalah yang dihadapi anak di sekolah, selama tidak mengancam fisiknya, kita tak perlu panik! Kita perlu ada di dekat mereka, memposisikan diri sebagai teman dialog, teman curhat masalah mereka di sekolah.

Anak diajari mengatasi masalahnya, bukan menghindari masalah, sehingga anak jadi punya ‘resilience’ dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Ini akan jadi pelajaran berharga buat anak-anak dan membekali mental anak juga untuk masa depannya.

PhD Mama Bella: thesis, terapi dan sholat di emergency exit

Bella bolehkah cerita sedikit seperti apa proses awal hijrah ke Kanada?

Jadi awalnya aku lulus dari jurusan Teknik Gas dan Petrokimia UI tahun 2005 lalu diterima bekerja di BPPT. Tapi kemudian baru sebulan kerja aku mendapat rekomendasi dari teman sehingga dapat undangan wawancara Schlumberger yang ternyata juga menawarkan pekerjaan buatku.

Dengan berbagai pertimbangan aku putuskan mengambil tawaran tersebut dan aku langsung dikirim ke Brooks, Alberta, Kanada.

Aku merasakan bekerja dari 2005 sampai 2007, dan aku memutuskan berhenti karena terus terang melelahkan sekali ya kerja di rig dengan jadwal 3 bulan on 1 bulan off.

Sebelum kembali ke ke Balikpapan, aku dipertemukan sama suami, yang ketika itu sedang mengambil S2 di University of Calgary ambil Mechanical Eng. Komunikasi berjalan terus sampai akhirnya aku pulang ke Indonesia dan bekerja di perusahaan Total di Balikpapan dari 2007-2009.

Di tahun 2009 itulah suami mengajak nikah dan PhD bareng. Aku mengiyakan, dan kembali ke Kanada tahun itu juga, dan memulai studiku sendiri setelah mendapat beasiswa di tahun 2010.

Melihat kebelakang, momen berat apa yang Bella rasakan selama studi?

Momen-momen terberat adalah ketika harus menjalankan tugas sebagai istri ibu dan murid dan peneliti di waktu yang bersamaan ya, dan suami juga sedang menjalani studi PhDnya. Kalau anak sakit, kita gantian ambil cuti. Lalu kalau ada conference sebisa mungkin kita ikut semua.

268935_10150247688753815_2826624_n
Jalan-jalan bersama keluarga sekaligus menghadiri conference di San Fransisco, USA

Ya seperti phdmama lain, sulit memisahkan kehidupan keluarga dengan kehidupan sebagai mahasiswa. Sementara tugas rumah tangga seperti masak, mencuci, bersih-bersih ya jadi rutinitas biasa, yang kita bisa melakukannya karena terbiasa.

271145_10150247690953815_4202542_n
Berpartisipasi dalam salah satu simposium

Yang agak spesial adalah mungkin karena kami harus memberi perhatian ekstra pada anak pertama kami yang memiliki kebutuhan khusus.

Jadi lah keseharian kami tak cuma jadi PhD student yang punya kewajiban mengikuti perkuliahan di kelas dan penelitian, tapi juga mendampingi putra kami ikut program intensif gratis dari pemerintah Kanada terkait kebutuhan khususnya.

Aku betul-betul terkesan dengan para therapist yang membantu kami saat itu, mereka semua betul-betul sabar dan profesional. Alhamdulillah aku merasa bersyukur banyak kemajuan yang aku rasakan di anakku dan tentunya dikehidupan keluarga kami.

Bagaimana tentang kehidupan sebagai Muslim di Kanada?

Ya sejujurnya salah satu tantangan hidup sebagai Muslim di Kanada adalah lokasi mesjid yang jauh dari tempat kita tinggal dan sedikit jumlahnya.

Sehari-hari, aku bisa sholat di ruangan kantor hanya ketika sedang tidak ada orang. Kalau ada orang ya sholat di emergency exit supaya tidak mengganggu yang lain.

Walau sebetulnya alhamdulillah aku nggak pernah mengalami racial abuse atau sejenisnya karena aku Muslim.

10534654_10204447464174640_3755382180735856369_n
Suasana halal-bihalal dengan komunitas muslim di Kanada tahun 2014

Boleh cerita sedikit tentang riset PhD Bella?

Alhamdulillah setelah perjalanan yang cukup panjang yaitu 6 tahun 4 bulan aku lulus bulan April 2016. Sementara suami lulus sebulan sebelumnya.

IMG_7280
Presentasi riset S3 alias thesis defence di bulan April 2016

Aku melakukan penelitian untuk optimisasi produksi gas dari sumur yg unconventional. Harapannya bisa membantu industri oil and gas dan pemerintah Kanada.

IMG_4749
Wisuda bareng suami dibulan Juni 2016

Ada pesan khusus untuk teman-teman pembaca yang mungkin tertarik melanjutkan studi ke jenjang S3?

Hmm.. apa ya. Kalau dari pengalamanku, yang paling pertama aku sadari adalah bahwa mengambil PhD sambil jadi istri dan ibu itu sulit luar biasa, aku pribadi sering ada perasaan mau give up.

Tapi alhamdulillah ada suami dan anak dan utamanya Allah. Suami adalah orang yang selalu meng-encourage aku. Dulu juga mendaftar PhD karena diajak suami. Mendaftar jadi asisten profesor juga dorongan suami, padahal maunya jadi ibu rumah tangga aja (tertawa). Sumber kekuatan yang lain adalah lewat mendengarkan kisah-kisah orang lain seperti ceritanya Dr. Ingrid Mattson, salah satu Islamic scholar di Kanada yang juga seorang muallaf dan ibu yang memiliki anak yang lumpuh.

Jadi aku melihat barangkali PhD itu syarat utamanya adalah tahan banting ya, dan bisa menjaga komitmen dalam jangka waktu panjang.

13584704_10154232236938815_5857922973922863163_o
Serunya berry picking bersama putra pertama
13332772_10154165781628815_6238058594780080312_n
Bersama buah hati nomor 1 dan nomor 2 di dalam kandunganku