Pengalaman Ikut Konferensi Internasional dan Dukungan Ramah Keluarga yang Tak Terduga

Halo, saya Lintang, dosen Program Studi Ilmu Gizi di Universitas Esa Unggul. Pada tahun 2025, saya berkesempatan mengikuti HiPPP EMR-C & EPOCH-Connect Joint Conference 2025 dengan tema “Unified Frontiers in Parental and Early Childhood Health: Integrating Consumer and Community Involvement.” Konferensi ini diselenggarakan di School of Public Health and Preventive Medicine, Monash University, Melbourne, dan mempertemukan peneliti serta praktisi di bidang kesehatan ibu, anak, dan pencegahan obesitas sejak usia dini. 

Saya mengajukan abstrak melalui call for abstracts yang dibuka oleh panitia. Setelah melalui proses seleksi, abstrak saya diterima untuk dipresentasikan dalam format presentasi oral. Dorongan utama saya untuk mengirimkan abstrak adalah keinginan untuk memperkenalkan riset saya ke komunitas akademik internasional sekaligus mendapatkan masukan dari peneliti lain yang memiliki fokus serupa, terutama di bidang gizi ibu dan anak. Penerimaan abstrak tersebut saya ketahui melalui email resmi dari panitia konferensi. 

Dampak nyata dari dukungan pendanaan tak terduga

Dalam konferensi ini, saya menerima dua bentuk dukungan, yaitu travel grant award dan childcare bursary. Travel grant digunakan untuk membantu biaya perjalanan dan akomodasi, sementara childcare bursary diberikan sebagai bentuk dukungan bagi peserta yang memiliki tanggung jawab pengasuhan anak. 

Awalnya, saya tidak mengantisipasi adanya childcare bursary untuk kondisi saya. Saya mengira dukungan tersebut hanya ditujukan bagi peserta yang membawa anak atau menggunakan layanan penitipan anak selama konferensi. Karena saya tidak membawa anak ke Australia, saya sempat berpikir bahwa saya tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Namun, setelah konferensi selesai, saya justru menerima email bahwa saya terpilih sebagai penerima travel grant sekaligus childcare bursary. Bahkan jumlah childcare bursary yang semula direncanakan sebesar AUD150 ditingkatkan menjadi AUD200. 

Korespondensi dengan panitia konferensi

Untuk travel grant, prosesnya dilakukan melalui mekanisme reimbursement setelah konferensi, dengan pengumpulan bukti pengeluaran seperti tiket, akomodasi, dan transportasi sesuai dengan kuota yang tersedia. Sementara untuk childcare bursary, saya tidak mengajukan secara khusus. Dalam formulir abstrak, saya hanya mencantumkan informasi bahwa saya adalah ibu dari tiga anak dan memiliki keahlian di bidang gizi ibu dan anak. Kemungkinan informasi inilah yang menjadi dasar pertimbangan panitia. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah bahwa dukungan tersebut diberikan secara proaktif, tanpa saya harus secara eksplisit membuktikan kebutuhan atau mengajukan permohonan tambahan. 

Dukungan tersebut memiliki pengaruh besar terhadap keputusan saya untuk tetap berangkat. Meskipun institusi asal saya memberikan bantuan dana, biaya perjalanan internasional tetap mencakup banyak komponen yang tidak sepenuhnya tertutup, seperti tiket pesawat, visa, akomodasi, transportasi lokal, dan kebutuhan selama konferensi. Di luar itu, ada juga invisible costs yang sering tidak terlihat, terutama bagi seorang ibu yang harus meninggalkan keluarga di rumah. Dukungan ini membuat saya merasa bahwa kondisi saya sebagai ibu sekaligus akademisi dipahami dan dihargai. 

Selama konferensi, saya merasakan manfaatnya secara emosional maupun praktis. Sebagai ibu dari tiga anak, meninggalkan rumah selama beberapa hari bukan hal yang ringan. Saya meninggalkan suami bersama tiga anak tanpa bantuan tambahan di rumah, sehingga wajar jika muncul rasa khawatir dan bersalah. Namun, adanya dukungan dari konferensi membuat beban emosional itu terasa lebih ringan, karena saya merasa perjuangan saya dilihat dan saya tidak sendirian dalam menghadapi situasi tersebut. 

Pengalaman konferensi dengan peran ganda sebagai ibu dan makna inklusivitas dalam dunia akademik 

Konferensi ini juga menjadi pengalaman pertama saya menghadiri konferensi internasional secara langsung dan pertama kali bepergian ke luar negeri untuk kegiatan akademik. Pengalaman tersebut sangat berkesan, baik secara akademik maupun personal. Saya dapat bertemu langsung dengan peneliti dari berbagai negara, mendengarkan perspektif yang berbeda, dan melihat bagaimana isu kesehatan ibu dan anak dibahas dalam konteks global. Selain itu, pengalaman ini juga meningkatkan rasa percaya diri saya bahwa riset yang saya lakukan memiliki tempat dalam percakapan akademik internasional. 

Lintang bersama peserta konferensi (dok. pribadi)

Pengalaman ini juga menegaskan tantangan yang sering dihadapi seorang ibu akademisi: menyeimbangkan peran profesional dan peran keluarga. Di satu sisi, ada keinginan untuk berkembang secara akademik. Di sisi lain, ada tanggung jawab domestik yang tidak bisa diabaikan. Dukungan yang saya terima menunjukkan bahwa sistem akademik sebenarnya bisa lebih inklusif jika benar-benar mempertimbangkan realitas kehidupan peserta. Hal ini mengubah cara saya memandang akses terhadap konferensi internasional. Sebelumnya, saya cenderung melihatnya sebagai ruang yang lebih mudah diakses oleh mereka yang memiliki sumber daya finansial kuat atau kondisi keluarga yang lebih fleksibel. Pengalaman ini menunjukkan bahwa akses tersebut bisa menjadi lebih setara jika ada kebijakan yang sensitif terhadap kebutuhan pengasuhan. 

Bagi saya, pengalaman mendapatkan dukungan yang tidak terduga ini menjadi pengingat bahwa perkembangan akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh lingkungan dan sistem yang mendukung. Dukungan yang tampak sederhana ternyata memiliki dampak besar, karena membuat saya merasa dilihat secara utuh, baik sebagai peneliti maupun sebagai ibu. Pengalaman ini juga memperkuat pandangan saya tentang inklusivitas akademik. Inklusivitas bukan hanya tentang keberagaman peserta, tetapi juga tentang bagaimana institusi menciptakan ruang yang mempertimbangkan kondisi hidup yang berbeda. Dukungan seperti childcare bursary menunjukkan bahwa dunia akademik dapat lebih empatik terhadap peneliti dengan tanggung jawab keluarga. Saya juga semakin yakin bahwa dukungan semacam ini penting untuk menjaga partisipasi peneliti perempuan, terutama ibu, dalam dunia riset. Tidak semua orang memiliki sistem dukungan domestik yang memadai, sehingga kebijakan yang ramah keluarga seharusnya menjadi bagian dari budaya akademik, bukan sekadar program tambahan. 

Lintang di Monash University (dok. pribadi)

Harapan ke depan 

Jika saya bisa memberikan masukan, saya berharap semakin banyak konferensi internasional yang menyediakan dukungan ramah keluarga secara lebih sistematis, baik dalam bentuk childcare bursary, fasilitas anak, ruang laktasi, maupun fleksibilitas partisipasi. Yang tidak kalah penting, informasi mengenai dukungan ini sebaiknya disampaikan sejak awal agar peserta dapat merencanakan keikutsertaan dengan lebih percaya diri. Pada akhirnya, pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa dukungan kecil dapat membawa dampak besar dalam perjalanan akademik seseorang. Saya berharap semakin banyak ibu akademisi, khususnya dari Indonesia, yang merasa bahwa mereka tetap bisa bertumbuh, berkarya, dan berpartisipasi di forum internasional tanpa harus melihat peran sebagai ibu sebagai penghalang.

Artikel ini ditulis oleh Lintang Purwara Dewanti, diedit oleh Russasmita Sri Padmi untuk PhD Mama Indonesia. Lintang dapat dihubungi melalui email lintangpurwara@gmail.com atau IG @lintangpdewanti

Lintang Purwara Dewanti adalah dosen dan peneliti di bidang gizi masyarakat, kesehatan ibu dan anak, serta laktasi. Fokus kajian dan pengabdiannya mencakup promosi menyusui, telelaktasi dan digital health, literasi kesehatan, serta penguatan gizi remaja dan keluarga. Ia aktif dalam berbagai kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi internasional, termasuk pengembangan inovasi edukasi kesehatan berbasis teknologi dan pendekatan komunitas. Selain berkiprah di dunia akademik, ia juga aktif dalam pengembangan jejaring perempuan akademisi dan ibu melalui berbagai inisiatif pemberdayaan dan advokasi pendidikan. Sebagai seorang ibu dari tiga anak, ia memiliki perhatian besar terhadap isu keseimbangan peran perempuan, kesehatan keluarga, dan dukungan bagi ibu dalam melanjutkan pendidikan maupun karier profesional.

Leave a comment