Inge Dhamanti: Romantika pasangan PhD dan Beasiswa yang tinggal kenangan

Halo! Saya Inge, dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Saya mengambil PhD di Australia berkaitan dengan public health service management, bidang yang linier dengan studi S2 saya. Selama studi, keluarga: saya, suami dan kedua anak saya, semua bermukim di Australia. Bahkan kehamilan ketiga saya terjadi di tahun-tahun terakhir studi dan sempat membuat saya harus mengambil cuti.

Kerja Bareng Kuliah S3 Demi Membiayai Kuliah dan Keluarga Tinggal di Australia

Awalnya saya menargetkan beasiswa AAS (Australia Awards Scholaship) untuk membiayai studi S3 saya. Hal ini karena saya mendapatkan AAS saat studi S2. Tetapi karena sudah harus segera menyusul suami yang sudah memulai studi S3 di Australia, saya mengambil beasiswa dari DIKTI. Apapun beasiswa yang didapatkan, memang harus disyukuri ya. Tetapi – seperti yang sudah dialami awardee lain – beasiswa DIKTI cukup sering terlambat dalam pembayaran tuition fees. Akibatnya, saya harus mencari pekerjaan (secara part time) untuk mengisi kekurangan itu dan hal ini juga terjadi pada suami, sebagai sesama “Diktier” atau dibiayai Dikti.

Kuliah sambil bekerja itu bukan hal mudah, apalagi di jenjang S3, di luar negeri, plus harus mengurus anak-anak yang saat itu masih balita. Jadi, saya dan suami harus cepat dan giat memutar otak untuk mengatur strategi, agar kuliah kami lancar dan selesai tanpa mengorbankan keluarga. Bagi kami, kuncinya adalah kompak mengatur jadwal dan tanggungjawab, contohnya pengaturan hari untuk ke kampus dan standby di rumah bersama anak-anak dalam satu minggu. Karena anak-anak lebih ‘nempel’ ke mamanya, saya kesulitan untuk menulis di rumah sehingga saya mendapat jatah ke kampus lebih banyak dibanding suami.

Strategi ini kami jalankan hingga kurang lebih di dua tahun awal studi saya. Waktu itu si sulung masih TK, masuk sekolah 3x seminggu selama 5 jam. Adiknya masih belum bisa masuk PAUD. Saya memanfaatkan childcare milik komunitas, yang biayanya cukup murah. Untuk student $3.5/hari dengan syarat anak harus tetap ditunggu; atau $8/hari kalau ditinggal. Tentu saja, Saya pilih opsi pertama. Childcare tersebut satu tempat dengan gym, jadi lumrahnya si ibu nge-gym dan anaknya dititipkan di situ. Tetapi karena saya ada tanggungan menulis, yang saya lakukan hanya beli kopi di kafe, buka laptop dan menulis. Itupun maksimal hanya 3.5 jam. Keluar dari childcare menjemput si kakak, lalu pulang. Sampai rumah saya baru bisa buka laptop lagi di malam hari, saat anak-anak sudah tidur. Ribet-ribet ini baru sedikit berkurang setelah si adek masuk TK, dan si kakak masuk SD, saya jadi bisa lebih lama di depan laptop. Baru di tahun ketiga/keempat saat keduanya masuk SD, bisa dikatakan itulah masa saya dan suami merasakan ‘kemerdekaan’ studi – sambil bekerja- di Australia.

Kami melakukan pembagian expense/tanggungan. Saya bekerja part time untuk groceries – kebutuhan belanja sehari-hari dan suami bekerja full time untuk sewa rumah dan bill. Saya salut banget sama suami, karena kerjanya full time dari Senin sampai Jumat, dengan beban yang lumayan berat (dari buka boxes, memasang display, sampai ngepel juga) di warehouse jualan baju. Tapi hebatnya, malam masih bangun—kadang juga sampai Subuh, tidur sebentar dan berangkat kerja lagi. Plus dia bisa submit thesis lebih dulu dari saya.

Supaya tetap bisa bekerja, saya sedikit merahasiakan kehamilan ketiga saya sampai bulan kelima. Demi uang groceries. Dan notabene saya selalu pakai baju longgar dan gelap jadi tidak terlihat hamil. Saya berhenti bekerja setelah kelihatan besar kehamilannya, teman-teman mulai berkomentar, dan faktor health concern. Walau aktivitas dan performa saya tidak terasa berkurang, ternyata ada efek samping di badan sampai ke timbulnya flek-flek kehamilan.

Selama bekerja, meeting (dengan supervisor) sudah dijadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya. Jadi kami berdua bisa merencanakan tugas masing-masing, terutama terkait dengan anak-anak. Kalau kepepet pun jadinya dibagi, si kakak ikut saya dan si adek ikut suami atau sebaliknya. Pernah sekali itu saya bawa si kakak konsultasi, dia tidur kepalanya di meja saking ngatuknya. Untungnya tidak pernah ada namanya meeting tiba-tiba.

Tantangan PhD di Luar Negeri dengan Beasiswa yang tersendat

Kebetulan hubungan saya dengan principal supervisor bagus sekali, karena beliau adalah supervisor saya pada saat S2. Yang sedikit repot adalah supervisor kedua, yang belum menyetujui saya untuk submit thesis karena dianggap belum siap. Karena itu dan ditambah kasus beasiswa DIKTI yang sering telat tadi, saya sampai harus mengajukan permohonan agar tidak didenda karena belum membayar uang kuliah. Alhamdulillah disetujui di permohonan pertama, tapi ternyata hanya berlaku sekali selama masa studi. Bagaimanapun, memang kalau Allah memberi jalan itu ya ternyata kami bisa membayar juga. Kebetulan perjuangan suami sehubungan dengan beasiswa juga. Jadi kami berjuang bersama-sama dengan hal yang sama, sampai-sampai seperti berasa lebih stress karena beasiswa daripada karena kuliahnya sendiri. Saat beasiswa habis di tahun kelima itu, ya.. walaupun capek fisik memang (karena kerja harus lebih berat), tapi menurut saya dibikin asik aja.

Hikmah Keharusan Bekerja Sembari Menempuh PhD dan Mengurus Keluarga

Hikmah dari kekurangan uang itu, saya jadi aktif (karena ada “larangan” untuk diam itu tadi), dan punya berbagai macam pekerjaan dengan gaji minimal masih $25/jam. Pengalaman saya jadi bertambah kaya. Saya jadi punya banyak teman/rekan yang beragam. Jadi lebih tahan banting.

Entah mengapa supervisor dua merasa masih belum puas dengan disertasi saya—masih belum ready untuk submit. Saya menjelaskan ke principal supervisor kendala menulis yang akan saya hadapi jika sampai si kecil lahir dan saya belum submit. Mulai dari tidak adanya childcare sampai makin susahnya membagi waktu Dan akhirnya dia bilang “Sudah disubmit aja, nanti urusan dengan pembimbing satunya saya yang tangani.” Kebetulan juga saat itu pembimbing dua sedang cuti. Saya berterima kasih sekali atas dukungan principal supervisor ini.

Dan kami sangat bersyukur karena dikelingi orang-orang baik di tempat kerja, jadi masih berasa mudah dan nyaman untuk sekolah sambil bekerja. Salah satu hikmah terbesar adalah kami bisa survive menghadapi kondisi saat itu, yang mana merupakan level terendah dalam perekonomian keluarga yang pernah kami alami. Di samping itu, pandangan saya terhadap orang menjadi lebih berkembang karena mengenal bermacam-macam orang tadi. Saya jadi lebih ‘dewasa’ dalam menghadapi beragam orang. Setelah kembali ke Indonesia, saya jadi bisa ngomong sesuatu seperti, “Saya udah pernah lebih susah kok di Australia” dan apapun yang berasa susah di Indonesia seyogyanya akan berasa lebih mudah. Semoga…..

*Artikel ini adalah hasil wawancara Kanti Pertiwi yang telah ditayangkan pada instalive Instagram @phdmamaindonesia. Ditulis oleh Siti Muniroh dan diedit oleh Faranita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s