PhD Mama Desi: Berjibaku Bareng Suami

Hai Mama!

Kali ini saya ingin membagikan cerita PhD Mama Desi yang melahirkan anak pertamanya di tahun pertama studi dan hamil anak kedua ketika sidang PhD. Kebayang ya serunya? Desi mengambil program studi Biomedical Engineering di Eindhoven University of Technology (Technische Universiteit Eindhoven), Belanda. Selamat membaca!

Desi bolehkah cerita sedikit seperti apa proses awal hijrah ke Belanda untuk studi PhD ?

Proses hijrah saya ke Belanda sebenarnya dimulai pada saat akan mengambil studi Master. Waktu itu saya baru saja menikah. Orang tua dan suami alhamdulillah mendukung saya untuk melanjutkan Master. Sempat melewati masa-masa beratnya satu tahun long distance relationship (suami sedang menyelesaikan PhD-nya di Jepang), sebelum kemudian tahun berikutnya suami menyusul ke Belanda. Setelah selesai studi Master, alhamdulillah saya ditawari profesor saya untuk melanjutkan PhD.

Melihat ke belakang, momen apa yang dirasa sangat berat atau penuh tantangan ?

Momen berat barangkali terkait hamil dan melahirkan ya. Jadi ceritanya, satu bulan setelah memulai PhD, saya mengandung, jadi anak pertama saya lahir di tahun pertama saya PhD. Saya baru mengandung anak kedua ketika saya akan sidang PhD.

Sebagian besar riset PhD saya dikerjakan di lab. Walaupun sebagai PhD student saya memiliki kebebasan untuk mengatur riset saya sendiri, karena fasilitas di lab dipakai bersama-sama kolega lain dan juga eksperimen saya berkaitan dengan makhluk hidup, ada kalanya jadwal eksperimen tidak terlalu fleksibel.

Alhasil, jika anak sakit dan saya tidak bisa meninggalkan eksperimen, saya pun bernegosiasi dengan suami bagaimana agar ia bisa mengatur waktu kerjanya supaya bisa ada di rumah saat saya harus eksperimen. Kalau hari itu tidak ada eksperimen, saya mengambil cuti atau bekerja di rumah. Alhamdulillah supervisor saya, yang juga seorang ibu dari 2 anak, sangat pengertian dengan tantangan-tantangan menjadi seorang ibu. Suami juga membantu mengasuh anak ketika saya harus eksperimen di akhir pekan.

“Alhasil, jika anak sakit dan saya tidak bisa meninggalkan eksperimen, saya pun bernegosiasi dengan suami bagaimana agar ia bisa mengatur waktu kerjanya supaya bisa ada di rumah saat saya harus eksperimen.”

28318_386578191649_1397646_n-2
Saat suami giliran piket menjaga bayi pertama kami sambil mengerjakan pekerjaannya

Bagaimana menyiasati waktu yang terbatas?

Ya waktu terasa terbatas banget waktu datang tugas nulis paper, karena salah satu tugas PhD student adalah membaca dan menulis paper. Karena waktu di kampus dipenuhi dengan eksperimen, membimbing mahasiswa Bachelor (Sarjana) di lab, atau membantu supervisor dengan aktivitas mengajarnya, seringkali saya perlu membaca di rumah.

Inginnya saya bisa membaca dengan tenang ketika anak sudah tidur, tapi selalu tidak kesampaian (tertawa). Bayi pertama kami tidak bisa tidur nyenyak tanpa merasakan kehangatan ibunya (waktu itu kebetulan masih ASI), jadilah hampir selalu saya membaca sambil berbaring menyusui (ditemani kindle berlampu). Awalnya sulit, karena bawaannya ingin ikut tidur (tertawa), tapi lama-lama terbiasa dan mau nggak mau harus bisa.

Bayi pertama kami tidak bisa tidur nyenyak tanpa merasakan kehangatan ibunya (waktu itu kebetulan masih ASI), jadilah hampir selalu saya membaca sambil berbaring menyusui ditemani kindle berlampu. Awalnya sulit, karena bawaannya ingin ikut tidur (tertawa), tapi lama-lama terbiasa dan mau nggak mau harus bisa.

1918576_373258401649_4234797_n
Bersama bayi pertama menuju ke kampus

Biasanya sebagai mahasiswa PhD juga harus traveling menghadiri conference di kota bahkan negara berbeda, bagaimana pengalaman Desi?

Conference jadi liburan keluarga (tertawa). Conference internasional pertama saya adalah ketika anak pertama masih berusia 16 bulan. Conference ini berlangsung di Kanada selama 7 hari. Pada saat itu anak saya masih menyusu, apalagi malam hari. Demi kenyamanan semua (saya tidak perlu memompa sepanjang waktu, anak tidak kehilangan ibunya, dan suami juga tidak pusing ditinggal mengasuh bayi sendirian), akhirnya suami dan anak pun ikut serta, anggap aja lah conference ini jadwal liburan keluarga (tertawa). Di conference-conference berikutnya, setelah anak saya stop ASI, suami full time menjaga anak di rumah ketika saya harus pergi sebentar.

Ya, kalau mengenang masa-masa PhD, dukungan suami untuk bersedia mengasuh anak dan berbagi tugas rumah tangga betul-betul membantu saya untuk menyelesaikan PhD saya.

defense1 Desiree
Desi saat presentasi di sidang terbuka disertasi

Bagaimana dengan urusan mengatur jadwal sehari-hari?

Hmm.. Saya ke kantor (kampus) formalnya hanya 4 hari/minggu. Jadi waktu anak saya masih belum usia sekolah (di sini 4 tahun mulai masuk sekolah dasar, sekolah dasar total 8 tahun, 2 tahun pertama seperti TK), anak saya dititip di daycare 4 hari/minggu. Setelah masuk sekolah, dia sekolah hingga jam 3 sore, padahal saya masih harus di kampus.

Jadi saya atur ketika pulang sekolah 1 hari/minggu dia masuk daycare, 1 hari/minggu saya pulang cepat, dan 2 hari/minggu ada teman baik orang Indonesia yang anaknya seumuran dan sesekolah dengan anak saya bersedia mengasuh anak saya di rumahnya. Alhamdulillah lingkungan teman-teman orang Indonesia saling bantu-membantu meringankan langkah.
IMG_4361
Sepeda – alat transportasi kami sehari-hari

Kalau sedang perlu relaksasi, apa yang Desi lakukan?

Relaksasi buat saya adalah main piano. Saya suka latihan piano malam hari, kalau pas ada waktu, weekend, atau di sela-sela waktu, misal sambil menunggu makanan di oven matang dan anak lagianteng main sendiri. Anak saya biasanya ikut menari-nari sendiri dengar ibunya main piano.  Saya di sini juga jadi anggota perkumpulan seni. Setiap bulannya ada open podium (konser terbuka), jadi kadang-kadang ikut berkontribusi nampil di konser tersebut. Untuk ini, perlu atur-atur prioritas karena bagi-bagi waktu antara latihan serius dan aktivitas lain ya tricky juga.

12193653_10153055331841650_9156408196983635377_n
Duduk main piano bareng anak-anak

Bagaimana dengan kehidupan sebagai muslim di Belanda ?

Alhamdulillah selama ini kami tidak mengalami kesulitan yah, dalam menjalani kehidupan sebagai muslim di Belanda. Di Belanda ada banyak imigran muslim dari Turki dan Maroko, sehingga makanan halal mudah untuk didapatkan dan ibadah pun tidak sulit untuk dilakukan. Mesjid juga cukup banyak, dan warga muslim Indonesia di sini juga punya komunitas untuk aktivitas keagamaan.

Di kampus juga ada ruangan untuk sholat, walaupun saya lebih sering sholat di kantor saya sendiri. Untuk kehidupan di kampus, saya perlu menjelaskan ke teman-teman atau kolega soal makanan, puasa, sholat, tapi dari pengalaman saya, mereka sangat toleran dan mengakomodasi. Pernah saat kami mengadakan BBQ, mereka dengan special memesan daging halal dan juga memisahkan tempat panggangannya. Yang saya rindukan di sini sebagai muslim, adalah suasana saat hari besar, contohnya suasana Ramadan dan Idul Fitri.

 “Untuk kehidupan di kampus, saya perlu menjelaskan ke teman-teman atau kolega soal makanan, puasa, sholat, tapi dari pengalaman saya, mereka sangat toleran dan mengakomodasi. Pernah saat kami mengadakan BBQ, mereka dengan special memesan daging halal dan juga memisahkan tempat panggangannya.”

Sempat lihat di facebook Desi sering tampil main angklung?

Iya, jadi ceritanya anak pertama umur 9 bulan, kami mahasiswa-mahasiswa di Eindhoven menginisasi pembentukan grup angklung di sini (sekalian promosi: silakan kunjungi www.AngklungEindhoven.com). Kami latihan rutin setiap senin malam, dan lumayan sering ada permintaan untuk tampil.

Hari senin malam ketika saya latihan angklung, suami menjaga anak di rumah karena sudah jamnya dia tidur. Kalau kegiatan angklung di waktu weekend, anak dan suami ikut. Untuk urusan organisasi yang berkaitan dengan angklung, saya kerjakan di waktu break di kampus dan di malam hari juga. Alhamdulillah sekarang sudah tahun ke-6, sudah beberapa kali ada regenerasi organisasi. Mudah-mudahan bisa terus begitu.

Ditemani anak pertama bermain angklung

Boleh cerita sedikit tentang riset PhD Desi?

Riset PhD saya adalah mengenai efek lemak terhadap fungsi dan metabolisme jantung. Untuk ini saya mengembangkan teknik imaging dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) agar MRI dapat digunakan untuk mengukur fungsi jantung, kadar lemak, dan kadar energi dalam jantung. Teknik ini kemudian diaplikasikan untuk meneliti mencit, contohnya mencit dengan diabetes.

Diabetes dan penyakit jantung adalah penyakit yang kompeks. Contohnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar lemak tinggi berefek buruk untuk metabolisme dan fungsi jantung, namun di sisi lain ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa lemak justru diperlukan untuk memberikan energi tambahan pada kondisi gagal jantung. Saya berharap dengan adanya teknik MRI, penelitian mengenai mekanisme penyakit ini bisa dilakukan lebih luas, bukan saja di level hewan, namun juga pada manusia. Pada akhirnya, saya berharap pemahaman mengenai mekanisme penyakit akan memberikan input untuk penanganan/pengobatan yang lebih efektif.

Adakah pesan khusus buat pembaca?

Ya barangkali untuk para ibu sedang menjalani studi PhD atau berpikir untuk melakukan PhD, semangat! Kita bisa! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “PhD Mama Desi: Berjibaku Bareng Suami

  1. Penelitian Mba Desi bergelut langsung dengan chemical nggak? Kalau iya, bagaimana “mengatasinya” saat hamil dan menyusui? Apakah tidak berpengaruh terhadap kesehatan baby?

    Like

    1. Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut jawaban dr Desi:
      Saya bergelut juga dengan chemical.. Seperti prosedur biasanya, saat akan bekerja dengan chemical, saya cek dulu safety datasheet-nya, dan lakukan handling dengan cara aman (gloves, di fume hood). Salah satu chemical yang saya waktu itu berhati-hati adalah isoflurane (sejenis bahan anestesi). Ketika hamil, saya tidak kontak langsung. Kalau perlu isoflurane, kolega atau teknisi di lab yang membantu. Ketika menyusui, saya memakai masker yang bisa memfilter isoflurane.

      Kalau efek kesehatan, saya ga bisa jawab :). Tapi yang pasti semua kontak dengan chemical saya lakukan dengan aware dan hati-hati, dan mengikuti prosedur proteksi yang ada. Kalau ada keraguan dan bisa dihindari, saya memilih untuk menghindari.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s