Titissari Rumbogo: Kisah STATA, Batita, dan Robusta di Belanda

Hai Titis, dari pengalaman Titis apa sih motivasi utama studi PhD?

Hai Kanti, terima kasih atas kesempatannya untuk sharing.

Saya sangat menyadari bahwa melanjutkan studi ke jenjang PhD bukan serta merta hal yang wajib hukumnya bagi setiap orang, karena itu saya betul-betul menghitung manfaat bagi karir saya sebagai dosen dan juga ongkos-ongkos kesempatan yang hilang apa yang mungkin timbul nantinya.

Niat untuk bersekolah lagi sebetulnya sudah muncul sejak tahun 2009, namun ternyata buat saya momentum yang tepat datang di tahun 2016. Di tahun 2016 inilah, berbekal restu suami, orang tua, serta Beasiswa LPDP Pemerintah Republik Indonesia, saya berangkat bersekolah di University Groningen The Netherland untuk meraih gelar doctor di Department of Economic Geography.

Apa saja milestones PhD in Netherlands dan tantangannya?

Kandidat PhD di Belanda menghadapi R&O (Resultaat- en Ontwikkelingsgesprek) interview sebagai tahapan monitoring dan evaluasi setiap tahunnya. Di tahun pertama, R&O dilakukan pada fase 6 bulan pertama studi PhD dan kemudian 9 bulan pertama studi PhD.

Di tahapan evaluasi 9 bulan pertama studi ini adalah saat yg paling menegangkan karena di sinilah keputusan apakah studinya layak dilanjutkan atau tidak. Setelahnya, evaluasi dilakukan setiap satu tahun sekali.

Skema PhD di Belanda yang aku jalani adalah research-based PhD selama 4 tahun dengan luaran adalah 4 substantive chapter untuk disertasi disertai publikasi artikel jurnal bereputasi atau buku. Adapun persyaratan untuk mengikuti course dengan jumlah credit ECTS yang bervariasi antara satu fakultas dengan fakultas lainnya.

Perkembangan studi dan penelitian saya cukup menggembirakan dan memuaskan bagi saya dan tim promotor. Di tahun pertama (2016), saya berhasil menyelesaikan 2 draft paper penelitian dan salah satunya sudah diterima sebagai book chapter dengan penerbit Springer New York.

Di tahun ketiga PhD saya saat ini, saya sedang dalam fase penyelesaian paper ketiga dan secara simultan memulai paper final untuk melengkapi disertasi saya. Selama tiga tahun ini, saya juga menikmati kesempatan untuk mempresentasikan paper dan penelitian saya dan membawa nama Indonesia di berbagai forum internasional seperti : European Regional Science Association World’s Congress, Scholarship Award from Regional Science Association International – RSAI to attend Summer School in Advanced Economic Geography in GSSI L’Aquilla Italy, Summer school in Financial Inclusion and Sustainable Development, European Research Conference on Microfinance.

Seperti apa rutinitas Titis sehari-sehari yang juga seorang ibu untuk seorang putra?

Tahun pertama PhD saya masih relatif lebih mudah, karena kala itu saya dan suami sama-sama tinggal dan bersekolah di kota dan universitas yang sama. Kehidupan kami bertiga, saya, suami dan anak batita (bayi berusia bawah tiga tahun) yang kala itu masih berusia 2.5 tahun bisa dijalani dengan baik. Terkadang terasa berat karena kami sama-sama studi tetapi ada satu anak yang harus diurus bersama, namun kami sangat menikmati kebersamaan dan kemandirian kami untuk hidup bertiga mandiri jauh dari support system keluarga besar di Indonesia.

Pekerjaan rumah tangga, pekerjaan akademis, dan mengasuh anak batita kami lakukan berdua bersama suami dengan suka cita. Tentu kehidupan sehari-hari kami tidak seindah dan seglamor foto-foto di media sosial ya, hehe. Tapi kami juga merasakan apa yang dirasakan sebagian keluarga mahasiswa di rantau, dari mulai mengganti pipa wastafel/mesin cuci yang rusak, berbelanja perabot antik dari pusat barang bekas dan mengangkutnya sendiri ke apartemen kami di lantai 3, atau pengalaman perdana mengecat tembok apartemen, dan hal-hal lainnya.

Happy kid, happy parents, kata orang. Tapi sayangnya terkadang kenyataannya tidaklah seperti itu. Unhappy kid, and miserable parents, itulah kami! Fase awal tersulit adalah proses adaptasi anak batita kami dengan lingkungan baru, bahasa baru, kultur baru, suasana day-care, dan sekolah pre-school berbahasa Belanda.

Day-care di Belanda cukup mahal dengan biaya 6 Euro per jam. Kami menghabiskan lebih dari separuh beasiswa kami untuk biaya day care -5 x 8 jam x 6 Euro- putra kami tersayang. Setelah proses evaluasi selama 6 bulan, kami memutuskan untuk berhenti memasukkan putra kami ke day-care, bukan karena kesulitan keuangan, namun karena putra kami sulit untuk betah, sangat tidak happy dalam menikmati kesehariannya di day-care. Kami harus memutar otak lagi bagaimana agar anak kami dapat bahagia dengan kehidupan barunya di Belanda.

Sampai akhirnya kami bertemu dengan adik-adik Indonesia yang sedang bersekolah master dan bachelor di Groningen dan bersedia bermain dengan putra kami dirumah secara bergantian. Adik-adik ini, Meilinda, Ayu, Era, Tania Benita, Sofi, Shania, Alvieda sudah menjadi bagian keluarga kami di Groningen.

Di tahun kedua PhD saya atau tahun terakhir studi master suami saya di Groningen, anak kami mulai menikmati kesehariannya hidup dan bersekolah di International School di Groningen. Suami saya pun berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu di tahun 2018 dan segera kembali ke Indonesia untuk bekerja di institusinya kembali.

Bagaimana Titis melanjutkan perjalanan studi berdua dengan anak?

Ya, semenjak April 2018, setelah suami kembali Indonesia, tentu saya merasakan ada perubahan dalam kehidupan saya dan anak di Groningen. Beruntung saya masih memiliki support system yang kuat yaitu keluarga besar yang secara berkala datang dari Indonesia, juga dukungan dan support moral dari tim promotor saya di kampus. Sehari-hari beginilah jadwal saya:

-4.30 am :bangun pagi, memasak, menyiapkan kebutuhan anak bersekolah
-6am-7.30am :anak bangun dan bersiap-siap sekolah
-8am-3 pm : anak bersekolah
-9am-2pm :saya bersekolah, meeting dengan tim promotor, dan mengerjakan semua pekerjaan riset di fakultas
-3pm-8pm :pekerjaan rumah tangga di rumah dan mengurus anak
-8pm : anak tidur
-10pm-2am : saya mengerjakan riset saya dirumah
-2am-4.30 am : waktu tidur dan istirahat saya

Saya hanya tidur selama total 3 jam sehari, lelah sudah pasti. Namun saya berupaya tidak menjadikan itu penghambat studi saya. Saya selalu berusaha mengoptimalkan semua deadline dan outcome penelitian saya untuk selesai tepat waktu. Dan yang terpenting, kami (dalam kondisi LDR) dengan suami selalu berusaha menjaga agar anak kami selalu ceria setiap harinya.

Alhamdulillah, sampai sekarang semua berjalan sesuai jadwal. Suami dan orang tua saya pun kerap mengunjungi saya di Belanda setiap 2-3 bulan sekali. Suami saya juga sempat mengambil cuti panjang untuk menemani saya di Belanda sambil mengikuti course untuk sertifikasi Chartered Financial Analyst (CFA) di Belanda.

Boleh cerita sedikit tentang riset yang sedang dilakukan?

Riset saya adalah tentang keuangan inklusif yang berusaha untuk memperbaiki akses dan penggunaan jasa keuangan formal (seperti bank dan lembaga non-bank lainnya) untuk semua populasi di Indonesia. Indonesia merupakan negara yang sektor keuangannya berkembang sangat masif namun di tahun 2011 baru 20% populasi dewasa di Indonesia yang memiliki rekening bank. Padahal kita tahu bahwa keterlibatan dalam sistem keuangan formal berdampak pada pengurangan kemisikinan pada jangka panjang.

Hambatan untuk dapat mengakses dan menikmati jasa keuangan formal di Indonesia datang dari 3 dimensi yakni : faktor geografis, faktor institusional , dan faktor sosial-budaya. Variasi interregional yang sangat tinggi di Indonesia menjadikan tantangan tersendiri untuk mendesainn kebijakan yang tepat guna tidak saja di level makro, regional, namun juga level mikro-individual.

Ada pesan khusus untuk perempuan Indonesia yang ingin studi lanjut? 

Saya percaya bahwa perempuan merupakan agen perubahan yang mampu merubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Perempuan terdidik mampu memberikan efek eksponensial untuk pendidikan primer anak dan keluarganya. Pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Bahkan gelar S1/S2/S3 yang kita peroleh pun tidak dapat menggambarkan bagaimana evolusi kemajuan intelektualitas yang kita miliki.

Dan ingat, status menikah dan punya anak bukan merupakan hambatan untuk bersekolah lagi! As family we go far together. Justru, bersekolah dengan status berkeluarga merupakan kesempatan dan peluang emas untuk membagi  nilai tambah untuk anak dan keluarga. Jadi saya ingin mengajak semua perempuan Indonesia, yuk, kita rubah dunia menjadi tempat yang semakin baik untuk anak-anak kita, generasi penerus yang membangun dunia inklusif untuk semua orang.

*Titissari Rumbogo – a proud Mom who embarked on her PhD, is juggling between studying and motherhood: running quantitative research using STATA, dealing with toddler BATITA, loves cooking PASTA and having daily ROBUSTA coffee to keep her sane.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s