Lenny Suardi: Kisah “Bundo Kanduang” Studi bersama Bayi dan Suami Tangguh di Negeri Kangguru

Halo Lenny, sejak kapan merencanakan studi PhD dan apa kendala terbesar yang dirasakan?

Hai Kanti. Keinginan untuk lanjut PhD sudah dari awal lulus kuliah S2 tahun 2009, namun saya sadar bahwa pengalaman saya dalam riset masih sangat kurang, terutama riset terkait dengan bidang yang saya minati, yaitu keuangan dan perbankan. Dengan latar belakang saya sebagai lulusan Matematika yang mengajar di Fakultas Ekonomi, rasanya saya perlu mempersiapkan diri lebih baik jika ingin melanjutkan PhD di Keuangan dan Perbankan (saat itu belum terpikir bahwa saya akan melanjutkan ke Aktuaria).

Jadi dari tahun 2009-2013 saya melibatkan diri dalam beberapa riset yang di bawah arahan rekan dosen senior di Departemen Manajemen FEUI. Saya sangat bersyukur atas pengalaman saya selama terlibat dalam rangkaian riset ini. Sekitar akhir tahun 2012, saya sedikit terlibat dalam pengembangan kurikulum aktuaria MMUI dan saya berpikir bahwa ketersediaan akademisi aktuaria sangat penting sehingga saya banting setir untuk persiapan mendaftar program PhD aktuaria. Akhirnya tahun 2014, saya mendaftar beasiswa Australia Awards (AAS) dan LPDP dan Alhamdulillah lolos beasiswa AAS pada Januari 2015 di School of Risk and Actuarial Studies, Business School, University of New South Wales, Sydney.

Bagaimanakah tantangan berangkat dan memulai PhD tak lama setelah melahirkan? Apakah ada tips untuk teman-teman dalam situasi serupa?

Saya mengetahui kehamilan saya ketika mengikuti kelas persiapan keberangkatan dari AAS, sehingga keberangkatan saya tertunda selama satu semester. Tantangan pertama adalah mengurus kelengkapan visa, seperti akta kelahiran, paspor anak, cek kesehatan dan asuransi untuk anak yang baru lahir. Kami harus berangkat Januari 2016 yang berarti anak saya berusia 2 bulan pada saat berangkat. Meninggalkan anak rasanya juga bukan pilihan untuk saya saat itu. Alhamdulillah dengan segala bantuan dan kemudahan, satu tahapan ini terlewati.

Tantangan di tahun pertama kami di Sydney, lebih seru lagi. Bulan pertama saya di sini, saya sangat bergantung pada suami untuk mengurus anak kami.

Saya masih ingat ketika itu suami bolak-balik ke kampus mengantar anak ketika harus minum ASI sementara saya mengikuti kelas persiapan intensif selama sebulan.

Saran saya untuk teman-teman yang membawa bayi dan ingin bayi tetap mendapatkan ASI, usahakan semaksimalnya bayi bisa menyusu ASI perah karena hal ini akan sangat membantu. Walau saya tidak tahu bagaimana cara yang efektif, karena semua cara yang saya gunakan gagal, hehe.

Pada bulan-bulan berikutnya, keadaan memaksa suami untuk bekerja penuh di siang hari, sehingga saya lebih banyak menghabiskan waktu belajar di rumah dengan anak sebelum sore atau malamnya mengikuti kelas (di tahun pertama, saya perlu mengambil cukup banyak mata kuliah). Percayalah, belajar di rumah dengan bayi sama sekali tidak efektif, jangan ditiru, hehe.

Dan tahun pertama ini ditutup dengan hasil review saya yang mengharuskan saya mengganti topik penelitian dan mengulang proposal saya dari awal. Seru banget ya, hehe.

Tahun-tahun berikutnya keadaan sudah lebih baik karena anak kami sudah dapat tempat di childcare (kami perlu menunggu sekitar setahun untuk dapat tempat di childcare). Saya bisa lebih fokus di kampus dan suami bisa lebih fokus untuk bekerja.

13575763_10153611900067539_8066540880317976890_o
Suami adalah supporter utama dalam perjalanan studi saya

Bagaimakah Lenny berbagi peran dengan suami dalam kegiatan sehari-hari?

Suami adalah supporter utama saya dari awal mendaftar beasiswa, proses seleksi, dan turun naiknya perjalanan saya selama menjalani proses PhD ini.

Seperti gambaran di atas, suami adalah partner dan supporter terbaik saya dalam mengurus anak, dukungan finansial dan moril.

Untuk dukungan finansial sudah jelas hehe. Dukungan moril adalah sebagai teman diskusi, tempat berkeluh kesah dan mencari solusi, dan mengingatkan kembali kenapa kami memilih perjalanan ini dan apa yang ingin saya lakukan setelah selesai.

Bagaimana dengan aktivitas rumah tangga? Untuk urusan makan, karena pada dasarnya karena saya suka memasak, jadi memasak adalah salah satu cara saya membahagiakan diri hehe. Namun untuk urusan bersih-bersih rumah, lebih banyak suami saya yang mengerjakan. Untuk urusan mengurus dan bermain dengan anak rasanya tak ada aturan yang baku karena dilakukan bersama.

Bisakah diceritakan sedikit tentang perkuliahan di UNSW Sydney?

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang riset saya di sini, karena kadang saya lupa ingatan kenapa saya di sini, saking pusingnya, hehehe. Aktuaria adalah ilmu yang multidisiplin, yang dibangun oleh ilmu matematika, statistika, keuangan, data analisis, dan ekonomi. Jadi komponen utama riset saya (dan sebagian besar riset aktuaria) sederhananya adalah merumuskan dan menurunkan model matematis dengan segala definisi dan teorema, pemograman untuk analisis numerik, dan analisis terhadap hasil kalibrasi model.

Saya sangat bersyukur atas kesempatan berkuliah dan tinggal di sini terutama lingkungan akademis yang sangat suportif. Satu kalimat yang selalu ingat dari dosen di sini adalah “Kami punya standar yang tinggi untuk lulusan kami, tapi kami siap membantu mereka untuk bisa mencapai standar tersebut”. Hal itulah yang selalu saya rasakan di sini. Dukungan paling utama adalah dari supervisor, yang selalu memberikan semangat positif pada saya.

Tentang School of Risk and Actuarial Studies, satu hal unik adalah kelas riset yang berlangsung selama satu tahun pertama. Kelas ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa tahun pertama, namun juga dosen, pembimbing, mahasiswa PhD senior, dan research fellow di school ini. Setiap mahasiswa mempresentasikan riset mereka dan mendapat feedback (walau kadang keras namun) positif dari seisi kelas.

Untuk kandidat PhD, presentasi di kelas ini tetap berlanjut di tahun-tahun berikutnya setidaknya sekali setahun. Jadi bisa dikatakan kami saling tahu apa yang dikerjakan oleh rekan lainnya. Pada saat candidature saya tertunda dari jadwal semestinya karena pergantian topik penelitian, dan saat-saat menghadapi saat-saat berat dalam riset lainnya, supervisor, teman sesama mahasiswa riset, dan dosen mengulurkan tangan untuk membantu tanpa diminta.

Kata-kata seperti, “you are doing well today”, “don’t worry, you’ll be okay” atau “Lenny, I found these interesting articles. I think it will be helpful for your research” (baik langsung ataupun email) adalah hal yang lumrah.

Percayalah, perlakukan seperti ini sangat ampuh mengembalikan kepercayaan diri mahasiswa.

Support lainnya adalah dari sesama mahasiswa Indonesia dan keluarga mereka serta rekan Indonesia yang berkunjung ke Sydney. Walaupun tidak selalu bertemu, namun menjaga komunikasi dan silaturahmi cukup membangkitkan motivasi dan mengobati rasa rindu kampung halaman.

22426410_10154849913897539_1485998445956557050_o
Lingkungan dan pertemanan kampus yang positif dan suportif ikut memudahkan studi saya

Ada hal yang berkesan tentang sistem pendidikan anak di rantau?

Untuk pendidikan anak, saya tidak terlalu punya banyak informasi, selain tentang pengalaman anak saya di Childcare.

Anak saya masuk childcare di usia 14 bulan dan awalnya kami cukup was-was apakah dia akan bisa beradaptasi. Ternyata anaknya sangat menikmati dan antusias selama di sana. Salah satu kuncinya adalah guru dan kurikulum yang menghargai pendapat anak dan memberikan argumen untuk tiap aktivitas mereka. Sehingga penekanannya lebih pada pembangunan rasa percaya diri. Laporan umum dan foto/video kegiatan kelas diinfokan ke orang tua, baik dengan komunikasi langsung ataupun tertulis.

Laporan perkembangan untuk tiap anak juga dikirimkan secara mingguan, bulanan, dan tahunan (beserta kompetensi yang akan dan telah dicapai anak). Walau saya dan suami cukup sedih karena anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sana, tapi kami berusaha melihat sisi positifnya bahwa kami bisa fokus dan anak saya juga mendapatkan pengalaman yang sangat berharga.

22384045_10154847720317539_2352009068152249465_o
Tak cuma saya yang bersekolah, anak kami juga mendapatkan banyak pengalaman hidup yang berharga selama kami hidup di rantau

Apa harapan untuk perempuan Indonesia?

Saya berasal dari keluarga Minang yang berdasarkan pengalaman saya sangat memperhitungkan suara perempuan.

Khususnya di keluarga saya, Ayah saya selalu berpikir pentingnya pendidikan untuk anak perempuan karena mereka lah yang akan jadi “bundo kanduang” di rumah dan lingkungannya.

Tertanamnya pemikiran ini sedari kecil sedikit banyaknya membentuk kepribadian saya bahwa saya bisa melakukan banyak hal.

Harapan terbesar saya untuk perempuan Indonesia semakin terbukanya kesempatan perempuan dalam menyuarakan pemikiran mereka dan dukungan dari lingkungan terdekat mereka untuk perempuan dalam berkarya.

*Lenny Suardy adalah dosen Universitas Indonesia yang sedang menyelesaikan PhDnya di School of Risk and Actuarial Studies, Business School, University of New South Wales, Sydney.

49025965_10155861247822539_940977285299699712_o
Di sela-sela kesibukan berjuang di rantau, kami beruntung masih diberi kesempatan menengok kota Melbourne dan kota lainnya di Australia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s