Imairi Eitiveni (Meri): Best practices of doing PhD

Nama saya Imairi Eitiveni, biasanya orang memanggil saya Meri. Saya adalah kandidat PhD jurusan Information Systems, di University of Melbourne, Australia, dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Saat ini saya sudah menyelesaikan thesis dan sedang menunggu wisuda. Pada tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman praktik terbaik yang telah saya lakukan untuk sampai pada level mendekati garis finish PhD.

Tentang Thesis

Fokus penelitian untuk thesis saya adalah IT dalam supply chain (rantai makanan) supaya lebih berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, sehingga dampak buruk terhadap lingkungan bisa dikurangi. Ketertarikan saya terhadap supply chain dan masalah lingkungan ini berawal dari diskusi dengan supervisor sebelum memulai PhD. Bidang keahlian saya adalah IT-enabled transformation dan supervisor mengarahkan fokus penelitan ke area sustainable supply chain, sesuai dengan bidang keahliannya. Dengan berfokus di area ini, dampak yang dapat diberikan oleh tesis saya bisa lebih panjang. Penelitian saya dilatarbelakangi oleh gap dalam literatur yang saya baca bahwa peran IT dalam membantu mengurangi dampak negatif dan sosial dari rantai pasok makanan masih belum banyak diteliti, padahal perannya sangat potensial. Oleh karena itu, saya ingin menciptakan kerangka kerja dalam ICT management untuk supply chain di Indonesia, dengan menghindari dampak buruknya terhadap lingkungan dan sosial.

Diskusi dengan supervisor terkait topik terjadi sebelum saya mendapatkan beasiswa. Baru setelah mendapatkan Letter of Acceptance alias diterima di jurusan yang saya sasar, saya berupaya mendapat beasiswa. Alhamdulilah saya lolos seleksi beasiswa LPDP dan berangkatlah saya ke Melbourne University untuk memulai perjalanan PhD.

My best practices 

Perjalanan PhD selalu penuh lika-liku, tidak terkecuali pengalaman saya. Karena itu, saya ingin berbagi berbagi kepada para calon mahasiswa atau sesama kandidat PhD tentang kiat-kiat yang saya lakukan selama perjuangan meraih PhD. Saya merasa bahwa mempraktikkan beberapa hal berikut ini membuat saya mampu bertahan hingga akhir perjalanan.

  1. Menerapkan effective reading skills

Di tahun pertama, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk membaca, meringkas, membandingkan dengan artikel lain, dan mengkritisi artikel yang saya baca. Effective reading skills ini sangat penting karena saya berhadapan dengan puluhan ribu artikel sekali search di mesin pencari situs perpustakaan. Terlebih lagi artikel-artikel tersebut ditulis dalam Bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing bagi saya. Oleh karena itu, saya menerapkan kiat sebagai berikut:

a) Tentukan tujuan baca artikel. Hal ini untuk menentukan fokus mencari informasi spesifik dalam artikel, misalnya untuk mempelajari metodologi penelitian, teori, atau mengeksplor database artikel seperti SCOPUS, Google Scholar, Science Direct, dan lain-lain.
b) Scanning untuk menemukan informasi spesifik dan skimming untuk mengetahui informasi general tentang artikel tersebut. Scanning dan skimming berguna untuk menentukan relevansi artikel dengan tujuan membaca.
c) Membaca dengan seksama. Pertama, lihat bagian mana yang gampang dibaca dalam artikel, hindari dulu bagian yang susah dan memerlukan waktu yang agak lama untuk dibaca. Kedua, identifiksi 10 key papers yang relevan lalu beri catatan-catatan penting pada paper tersebut. Ketiga, temukan kelemahan dari paper tersebut untuk mengidentifikasi gap dalam penelitian.
d) Membaca pada waktu yang cocok bagi kita. Sebagai contoh: karena saya memerlukan ketenangan untuk membaca, saya memilih untuk menunggu anak saya tidur dulu atau ketika anak pergi ke sekolah baru memulai aktivitas membaca. Sebab, konsentrasi saya gampang terpecah jika ada interupsi misalnya anak mengajak ngobrol atau bertanya sesuatu ketika saya sedang membaca. Konsekuensinya, saya memang jadi sering begadang.

  1. Membuat literature review yang efektif 

Saya menggunakan pendekatan systematic literature review dalam menulis kajian pustaka. Caranya adalah sebagai berikut:identifikasi leading journals sesuai bidang penelitian

a) Gunakan artikel dari leading journals,
b) Telusuri referensi dari setiap artikel yang bagus,
c) Sebelum membaca, tentukan kriteria dari artikel yang bagus, dan
d) Gunakan referencing system, misalnya EndNote atau Mendeley. Ini sangat penting karena seiring berjalannya waktu, bacaan kita bertambah banyak. Referencing system membantu kita mengorganisir dan melakukan database pada sumber-sumber bacaan. Tanpa ini, kita mungkin akan kewalahan karena terlalu banyak sumber bacaan yang harus ditelusuri. Silakan pilih referencing system yang sesuai dengan kebutuhan. Pengalaman saya, EndNote merupakan pilihan tepat karena memiliki performa yang lebih stabil.

  1. Mulai menulis seawal mungkin 

Saya mulai menulis berdasarkan perjalanan saya membaca literatur. Writing skills merupakan hal yang paling menantang sehingga saya harus sering berlatih. Supervisor juga menyarankan saya untuk menulis sedini mungkin walaupun belum tahu apa-apa. Tips untuk menulis adalah sebagai berikut:

a) Gunakan kalimat yang paling simple, kalimat aktif yang pendek. Verbs diletakkan di dekat subject, tujuannya supaya pembaca gampang mengikuti ide yang kita tuangkan dalam tulisan. Kalau perlu, kalimat yang panjang dibagi menjadi dua kalimat yang lebih sederhana.
b) Pilih kata kerja yang tepat dan paling cocok. Saya menjelajahi phrase bank untuk menyampaikan argumen dengan hati-hati. Phrase bank menyediakan daftar frase-frase ilmiah termasuk untuk keperluan disertasi.
c) Gunakan topic sentence approach: Kalimat utama di awal, berikutnya kalimat pendukung. Istilah lain dari pendekatan ini adalah signposting setiap membuka paragraf. Tujuannya adalah untuk mengarahkan pembaca dalam memahami argumen.
d) Perhatikan koherensi dan kohesivitas tulisan. Cek apakah masing-masing kalimat dalam paragraf saling menyambung dan apakah keseluruhan tulisan itu membentuk kesatuan ide.
e) Time management: Tentukan tujuan dalam menulis, misalnya ingin menulis berapa kata dan membaca berapa artikel. Dengan begini, kita bisa memperkirakan berapa waktu yang akan kita gunakan untuk aktivitas tersebut.

Tips lainnya

Jika Anda adalah mahasiswa doktoral, ada beberapa hal yang bisa saya sarankan. Pertama, kurangi ‘baper’ (terbawa perasaan). Saat supervisor tidak membalas email, jangan langsung terpuruk dan merasa jadi orang paling malang sedunia. Bisa jadi supervisor sedang sibuk. Daripada baper lama-lama, mending tulis email lanjutan untuk mengingatkan mereka, dengan bahasa yang sopan tentu saja. Kedua, mulailah menulis seawal mungkin dalam fase PhD Anda, meskipun Anda merasa belum tahu apa-apa. Menulis perlu latihan, dan ketika latihan menulis kita juga melatih diri kita untuk membaca, memahami isu, dan menuangkan argumen. Ketiga, bangun komunikasi dengan supporting system Anda. Saya pernah stres karena tuntutan publikasi, dan penyelesaiannya adalah dengan berbicara dengan supervisor. Saya meminta perpanjangan tenggat kepada supervisor sehingga punya cukup waktu untuk memenuhi tugas. Untuk bisa mencapai target, saya juga menyampaikan situasi saya kepada suami agar beliau memahami kendala yang saya hadapi dan dapat memberikan dukungannya.

Khusus masalah supervisor, menurut saya mencari supervisor yang baik sangatlah krusial buat mahasiswa PhD. Sebab, supervisor ini yang akan menjadi tim pendukung utama dalam meraih gelar doktor. Karena itu, sebisa mungkin carilah supervisor yang dari awal dapat menjadi bagian dari tim ini. Untuk memilih supervisor yang baik, saya punya beberapa tips:

a) Pilih supervisor yang berhati baik, lihat passion-nya terhadap bidang riset kita. Hindari menilai kualitas supervisor hanya dari H-index karena publikasi yang banyak.
b) Telusuri profil dan latar belakang calon supervisor, misalnya lewat website kampus atau situs pribadi beliau (jika ada). Jika memungkinkan, hubungi mahasiswa yang sedang dibimbing tesisnya oleh supervisor tersebut. Cari tahu bagaimana cara dia membimbing dan apa pendapat mahasiswa tersebut.
c) Peka dalam melihat sinyal-sinyal bahwa dia orang baik, misalnya ketika korespondensi apakah cenderung menjawab pendek seperlunya atau memperlakukan Anda secara humanis, tidak hanya sekadar urusan kerja.
d) Identifikasi tipe kepribadian Anda dan supervisor. Kecocokan kepribadian juga berpengaruh dalam kesuksesan studi doktoral. Misalnya, ada orang yang suka diberi arahan dan mendapat supervisor direktif, sehingga hubungan mereka selama PhD berjalan naik.

Selain tips-tips di atas, penting juga bagi mahasiswa PhD untuk memikirkan kontribusi praktis dari temuan penelitian. Tujuannya adalah agar ilmu yang kita peroleh bisa diaplikasikan oleh masyarakat pengguna. Artinya, apa yang kita lakukan bertahun-tahun selama PhD dapat memberikan manfaat yang lebih luas secara nyata.

Demikianlah refleksi pengalaman saya dalam menjalani PhD. Semoga tips-tips ini bermanfaat dan dapat membantu Anda melalui masa-masa PhD yang penuh tantangan. Sukses selalu dan tetap semangat, ya!

*Artikel ini adalah hasil wawancara Kanti Pertiwi yang telah ditayangkan pada instalive Instagram @phdmamaindonesia. Ditulis oleh Siti Muniroh dan diedit oleh Pratiwi Utami.

One thought on “Imairi Eitiveni (Meri): Best practices of doing PhD

  1. Luar biasa bermanfaat, sayangnya saya bukan mahasiswa doktoral sih, cuman tertarik buat penelitian, ya mungkin gak semua yang ditulis ini kepake, dalam artian bukan gak berguna atau salah saya gak bisa make, lebih mungkin saya gunain buat beberapa hal yang saya cari2 dalem ngerjain beberapa tulisan.

    Ada yang saya bingungin soal ini, tapi emang perlu bimbingan sih ya buat ngarahin kita kemana, dan lain seterusnya saat kita ngelakuin kerjaan ilmiah kaya gini.

    Tapi ya sukurlah, ini jawaban dari saya yang nulis serampangan, tapi pengen juga ngelakuin hal ilmiah, padahal saya anaknya tuh lemot, cuman banyak pengen tau aja sih dasarnya, ya selamat buat Ibu atas usahanya, selamat atas gelarnya, semoga tetep menjadi bermanfaat buat siapa aja yang membutuhkan. Semoga dari tulisan ibu ini juga saya bisa buat karya yang bagus, tapi jujur, ni singkat banget tapi daging semua ni tulisan Ibu teh euy.

    Hahah, ya udah, saya akhir dengan salam. Salam.

    Sukses bu, saya bloger iseng yang suka komen, hehehe.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s