Imairi Eitiveni: Menjadi Tutor Memberi Semangat Baru untuk Studi

Halo Meri, terima kasih sudah berkenan berbincang dengan phdmamaindonesia. Boleh tanya, di tengah kesibukan sebagai mahasiswi PhD, kenapa memilih jadi tutor (asisten dosen)?

Hai Mbak Kanti. Motivasi utama saya yaitu ingin cari pengalaman, seperti apa sih mengajar mahasiswa internasional. Selain itu juga pengalaman kolaborasi dengan kolega di sini, cari ilmu sebanyak-banyaknya karena latar belakang saya sebagai dosen. Saya juga senang berinteraksi dengan banyak orang. Satu lagi, jujur saja penghasilan jadi tutor itu lumayan untuk menambah uang saku, hehe.

Di luar itu, ini mungkin yang jarang terpikir oleh orang lain tetapi penting bagi saya. Menjadi tutor memberikan kebanggaan tersendiri bisa membawa identitas sebagai mahasiswi Indonesia, perempuan, dari negara yang sering dikatakan negara berkembang. Bisa menunjukkan bahwa saya mampu, meninggalkan persepsi positif bahwa orang Indonesia itu kompeten dan knowledgeable, baik di mata mahasiswa maupun tutor dan dosen lain yang jadi kolega saya.

presentasi di konferensi
Mempresentasikan riset saya disebuah konferensi

Seperti apa proses mendapatkan pekerjaan sebagai tutor?

Prosesnya waktu itu di akhir semester pertama studi, saya lihat ada lowongan di web kampus. Saya coba melamar, memilih mata kuliah yang kira-kira saya bisa, ikut apply lewat sistem. Selain itu, saya kirim CV juga secara personal ke dosen pengampu. Saya dipanggil wawancara, lalu diterima. Kemudian saya diberi penjelasan seperti apa tugas-tugas saya. Sekarang sudah berjalan tiga semester.

Bagaimana membagi waktu?

Pertama kali mulai mengajar waktu itu saya masih tahap membuat proposal. Kebetulan mata kuliah yang saya ajarkan saya sudah pernah ambil waktu semester 1, jadi tidak terlalu banyak kesulitannya. Memang banyak manuver ya membagi waktu, termasuk tugas keluarga. Ada sesekali anak harus ikut saat harus seminar dan training, saya bawa masuk ke ruangan. Tidak masalah dan memang itu bagian dari manuver agar semua bisa berjalan dengan baik. Tak jarang juga harus begadang setelah menidurkan anak yang kecil. Atau mau tidak mau multitasking, sambil ngelonin ya ngoreksi ujian.

Apa hal yang paling berkesan dari pengalaman ini?

Teaching is one of the best things that happened to me during PhD. Saat ngajar, jawaban yang saya kasih untuk mahasiswa membuat saya merasa berdaya dan memberikan semangat baru. Karena dalam penelitian kita sendiri, tidak jarang kita merasa banyak kurang dimata supervisor, salah melulu kan membuat lelah mental, hehe. Sementara di mata mahasiswa sebaliknya, kita itu berharga sekali, jadi baik sekali untuk me-recharge semangat hehe.

Hal berkesan lainnya, saya melihat profesi tutor itu profesi yang serius. Tutor harus ikut training sebelum mulai mengajar. Lalu ada sesi feedback dari mahasiswa juga. Hasil review kita juga bisa dibaca oleh dosen untuk rekrutmen di semester berikutnya. Lalu terkait marking (penilaian ujian), dosen pengampu sudah membuat kunci jawaban dan skema penilaian.

berfoto bersama mahasiswa setelah salah satu sesi tutorial
Kenangan bersama mahasiswa kelas tutorial saya

Dan ada rapat dulu selama 2 jam untuk mengkritisi kunci jawaban bersama-sama dosen dan para tutor. Lalu ada sampel marking, tutor diminta memberi nilai sambil diawasi. Selesai marking, dosen akan periksa lagi. Kalau ada yang dinilai tidak konsisten, akan diminta re-marking. Ada juga mahasiswa yang minta waktu konsultasi pribadi, termasuk yang konsultasi tentang marking.

Penelitian Meri tentang apa?

Penelitian saya di bidang supply chain management, bagaimana bisa mengurangi dampak negatif pada lingkungan juga pada aspek sosial. Bagaimana caranya salah satunya lewat IT, supaya lebih sustainable.

Sempat pulang ke Indonesia untuk penelitian?

Ya, saya sempat pulang ke Indonesia selama 5,5 bulan dan mau tak mau pindahan sekeluarga. Kesulitannya saat itu mencari narasumber, dan cari sekolah yang mau menerima murid untuk 6 bulan, dan pastinya ada tambahan biaya juga untuk itu semua. Bersyukurnya, selama saya pergi, ada suami yang menjaga anak-anak. Suami bekerja sebagai engineer telekomunikasi, bekerjanya lewat internet, jadi cukup fleksibel.

perjuangan nyari data
Kenangan studi lapangan mengumpulkan data untuk penelitian

Tantangan terbesar dalam studi sejauh ini?

Dari segi riset, alhamdulillah supervisor mudah sekali diakses. Hubungan dengan supervisor itu penting sekali. Beliau juga paham sekali dengan topik saya. Dan paham juga dengan peran saya sebagai istri dan juga ibu.

Tantangan yang saya rasakan salah satunya perasaan bersalah ya. Saat di kampus terpikir, “aduh harusnya saya sama anak-anak..”. Saat di rumah, “aduh harusnya saya di kampus mengerjakan ini itu..” Serba salah awalnya.

Tapi saya teringat, saya pernah merasakan di semester pertama merasakan beban yang berat dari sisi psikologis karena kangen sama keluarga. Tapi begitu keluarga datang, gantian badan saya yang capek, tapi ingat dulu waktu berpisah itu berat. Jadi ini jauh lebih baik buat saya. Lebih baik capek badan dari pada capek di hati, hehe. Akhirnya sekarang saya mencoba total dimanapun saya berada. Jika di kampus ya maka saya akan serius dengan urusan kampus. Saat di rumah juga begitu, serius membersamai suami dan anak-anak.

Support-system terpenting?

Suami adalah support-system saya nomor satu. Tiap pagi turun tangan membantu di rumah. Kedua adalah supervisor, yang pengertian dengan ritme kerja saya. Kalau dia lihat saya mulai kewalahan, dia akan melonggar.

Juga teman-teman sesama PhD yang jadi tempat berbagi tentang riset. Satu lagi, ini kemudahan dari Allah yang saya rasakan betul, berkat doa orang tua saya merasakan banyak kemudahan untuk studi. Doa orang tua teramat penting buat saya.

Seperti halnya saya, suami pun ikut belajar multitasking

Pesan untuk calon PhD Mama?

Sebagai perempuan khususnya ibu yang ingin sekolah lanjut, satu hal yang perlu dilakukan yaitu banyak-banyaklah berdiskusi dengan suami dan keluarga. Buat saya pribadi, butuh 1-2 tahun untuk saya berproses dengan suami dengan berdiskusi. Setelah diputuskan, ya mempersiapkan diri secepat dan sebaik mungkin. Keterampilan yang disiapkan tidak cuma akademik, tapi juga masak dan menyetir mobil.

Di Melbourne buat saya pribadi lebih enak kemana-mana jika bisa nyetir. Selanjutnya cari supervisor yang pas, sesuai topik, pelajari negara tujuan yang kira-kira kondusif dari segi biaya dan pekerjaan suami. Lihat juga bagaimana supervisor responsif atau tidak, bisa jadi indikasi respon mereka. Perhatikan gaya bahasa, terkadang bisa mencerminkan pribadi orang tersebut.

Terakhir, saya melihat bahwa persistence (kegigihan) dan perseverence (ketekunan) lebih penting untuk perjalanan PhD, dari pada intelligence (kepandaian). Intelligence hanya penting diawal, karena sering ada syarat nilai untuk masuk program PhD.

Tapi selanjutnya, perjalanan PhD itu sendiri banyak diwarnai ketidakpastian dan keraguan pada diri sendiri apa saya cukup pandai untuk menyelesaikan studi saya? Memenuhi standar supervisor dan lain-lain? Jadi kegigihan itu rasanya lebih dibutuhkan.

Imairi Eitiveni, Kandidat PhD Computing and Information Systems Department, School of Engineering, University of Melbourne, dapat dihubungi di ieitiveni@student.unimelb.edu.au

foto keluarga
Bersama keluarga menikmati salju musim dingin kota Melbourne

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s