PhD Mama Dewi: Perempuan tak hanya dapur, kasur dan sumur

Mbak Dewi bolehkah cerita sedikit seperti apa proses awal hijrah ke Inggris untuk studi PhD? Seperti apa dukungan keluarga saat itu?

Sesuai dengan life plan saya, saya memang ingin melanjutkan studi S3. Pilihan kami jatuh di London, kota yang sama seperti saat saya menyelesaikan studi di Imperial College London. Dulu saya ingin langsung melanjutkan S3, qadarullah Allah tangguhkan selama 2 tahun.

Tanpa diduga, sesuai dengan skenario-Nya, Allah rezekikan saya Beasiswa Presiden Republik Indonesia tahun 2014, terpilih di antara ribuan aplikasi yang masuk. Saya pun langsung mendapatkan supervisor tanpa harus mengajukan proposal, bahkan LoA (Letter of Acceptance) langsung jadi dalam waktu 3 hari. Iya, jika memang rezeki kita, Allah akan sampaikan menurut waktu terbaik-Nya.

Karena sejak awal saya dan suami sudah menyepakati life plan kami bersama, maka S3 saya pun sudah menjadi rencana kami berdua. Suami mendukung penuh, pun keluarga saya dan keluarga suami. Alhamdulillaah tidak ada hambatan berarti.

Pernahkah Mbak merasa berada di titik terendah selama menjalani peran sebagai mahasiswi dan juga seorang ibu dan istri? Bagaimana Mbak membagi tugas di rumah?

Hmm… saya enggan menyebutnya titik terendah, tapi mungkin lebih tepat dianggap sebagai sebuah tantangan. Tantangan yang sebetulnya bisa kami hadapi, mekipun berat dirasa, dan tidak sedikit perjuangannya. Atas seizin Allah, setelah saya memulai PhD di bulan November 2014, suami juga sama-sama menjalani studi PhDnya di bulan November tahun 2016. Tantangannya adalah, saat kami sedang sama-sama menjalani S3, pun putri kami yang sudah masuk sekolah.

Kami prefer menjaga anak kami sendiri, sehingga jadwal menjaga anak harus kami bagi. Normalnya PhD full time itu 35 jam di kampus, tapi saya memiliki waktu yg lebih sedikit dari itu, karena harus berbagi waktu dengan keluarga di rumah. Mulai terasa berat saat suami persiapan ujian upgrade PhD, atau saat ini ketika saya sedang dalam proses menyelesaikan thesis. Strategi membagi waktunya sudah saya tuliskan disini.

Sebagai perempuan berkeluarga yang diberi jalan mengejar ilmu hingga ke jenjang S3 di luar negeri, bagaimana Mbak memandang peran gender laki-laki dan perempuan? Bagaimana pula pendapat Mbak terkait persepsi umum masyarakat tentang “kodrat wanita”?

Saya memandang bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perannya masing-masing. Keduanya adalah sama di hadapan Allah SWT. Bukan berarti laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi, atau wanita memiliki kodrat yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Jika kita pahami, dalam ayat Alqur’an pun Allah tidak membedakan kedudukan laki-laki dan perempuan.

Hanya satu penentu kedudukan disisi-Nya, yaitu adalah taqwa. Dan hakikatnya kita di dunia menjalani peran masing-masing dan saling berlomba dalam taqwa. Yang laki-laki, menjadi imam dalam keluarga, tanggung jawabnya pun besar kepada istri, ibu, dan saudara perempuannya. Yang wanita Allah titipkan rahim kepadanya, hingga Allah sandingkan surga di telapak kakinya. Jadi meskipun Allah menitipkan peran yang berbeda, hakikatnya masing-masing bekerja dan berlomba dalam taqwa melalui peran yg diemban-nya.

Namun bukan berarti, dengan terlahir sebagai seorang perempuan, kita tidak berhak untuk mengenyam pendidikan. Bukan berarti pula, tempat kita berperan terbatas pada kasur, sumur, dan dapur. Bukankah yang pembeda di hadapan-Nya hanyalah taqwa? Maka bagi saya, menjadi apapun seorang wanita, jadilah hamba sepenuh waktu, yang setiap hela nafasnya hanya kepada Allah tertuju. Hingga ketaqwaan menghias harimu, kemuliaan menjadi pakaianmu.

3. DNA - Foto konferensi
Saat berpartisipasi dalam salah satu konferensi internasional

Apa saja tantangan dan juga kemudahan hidup sebagai Muslim(ah) di Inggris, dan apa perbedaannya jika dibandingkan pengalaman di Indonesia?

Tantangannya menurut saya lebih kepada mempertahankan taqwa. Di saat pilihan makan makanan yang tidak halal, menghabiskan waktu dengan teman, atau melalaikan waktu shalat tersedia, tantangannya adalah bagaimana kita tetap bisa mempertahankan identitas muslimah kita dan senantisa bergerak dalam taqwa, tanpa harus malu dengan pakaian taqwa yang kita kenakan.

Tantangan itu akan lebih terasa saat ada kejadian yang melibatkan nama muslim di Inggris, seperti peristiwa penusukan di Westminster Bridge, ledakan di Manchester, dsb. Kami sebagai muslimah harus lebih waspada jika ada hate crime yg terjadi. Kemudahan yang saya rasakan di UK, saya merasa Inggris adalah negara yg sangat welcome dengan etnis dan agama apapun. Saya merasa Islam diterima dan mendapatkan apresiasi di UK, pun Mayor London adalah seorang muslim. Sedikit catatan saya tentang kehidupan muslim di Inggris bisa dibaca disini.

Mbak Dewi sering mengisi kegiatan diskusi dan sudah menerbitkan 2 buku, bagaimana membagi waktu dengan tugas-tugas lain? Bagaimana juga dengan kebutuhan rekreasi?

Saya mengisi kajian biasanya di saat jadwal suami saya ngampus, jadi waktu di rumah, saya luangkan 2-3 jam untuk mengisi kajian. Seperti sudah saya tulis di blog, saya menulis blog lewat tengah malam, saat suami dan anak sudah tidur. Menulis buku saya masukkan ke dalam agenda kampus saya. Rekreasi dilaksanakan saat konferensi ke luar negeri, atau rekresasi yang sederhana yaitu dengan meluangkan waktu saat weekend mengajak anak ke taman besar di pusat kota London.

Boleh cerita sedikit tentang riset PhD dan apa harapan Mbak terkait riset tersebut?

PhD saya membahas tentang kemungkinan eliminasi hepatitis C jika dilihat dari sisi epidemiologi. Saya berharap agar ilmu yang saya dapatkan selama PhD dapat diterapkan dan bermanfaat bagi Indonesia.

1. DNA - Foto aktivitas akademik
Bersama peserta kursus internasional phylogenetics di London School of Hygiene and Tropical Medicine
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s