Belajar Bersama Mempersiapkan Aplikasi Beasiswa HEAT Korea

Published by chlarayunita on

Kelas Persiapan Sekolah Lagi PhD Mama Indonesia kembali lagi di hari Sabtu tanggal 20 Mei 2023. Kali ini menghadirkan narasumber Anggaunita Kiranantika. Wanita yang akrab dipanggil Angga ini berhasil meraih beasiswa Higher Education for ASEAN Talents (HEAT) tahun 2021. HEAT adalah beasiswa tingkat doktoral yang diselenggarakan oleh ASEAN – Korea Cooperation Fund (AKCF) dan Korean Council for University Education (KCUE). Tujuan utama dari beasiswa ini selain untuk mendukung para staf pengajar dari lembaga pendidikan tinggi ASEAN dalam memperoleh gelar doktor di Korea Selatan juga meningkatkan keahlian mereka, serta mempromosikan pertukaran individu antara ASEAN dan Korsel. Untuk lebih lengkapnya bisa cek website berikut ya https://www.heatscholar.kr/index.do.

Dosen Universitas Negeri Malang, Departemen Sosiologi, ini membuka sesi mentoring dengan menjelaskan berbagai macam beasiswa yang ada di Korea diantaranya yaitu, beasiswa yang diselenggarakan oleh pemerintah misalnya melalui HEAT, kemudian ada juga Beasiswa Kerjasama Kementerian Indonesia dengan Kampus Korea, lalu beasiswa dari Non-Government Organization (NGO) swasta seperti Korea International Cooperation Agency (KOICA), beasiswa project professor dan tidak ketinggalan juga beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Wah banyak sekali ya pilihannya.

Tidak lupa Angga juga memberikan beberapa tips sebelum mempersiapkan aplikasi beasiswa HEAT. Pertama adalah Dokumen Studi seperti Ijazah asli dan yang telah di legalisasi serta persiapan Bahasa Korea. Kedua adalah Dokumen Kepindahan. Sebelum apply beasiswa sebaiknya perlu diperhatikan jika membawa anggota keluarga, harus dipastikan terlebih dahulu mengenai tempat tinggal. Di flat atau di apartment. Ketiga, Persiapan Finansial. Sebagai peraih beasiswa ada baiknya mempersiapkan tabungan juga untuk hal darurat maupun untuk starting life disana. Mengingat, beasiswa HEAT hanya meng-cover seluruh biaya Pendidikan, Tiket airfare PP, Health Insurance, Monthly Allowance, Academic support per semester dan Publication fee. Sehingga dibutuhkan biaya mandiri untuk kebutuhan selain tersebut diatas. Keempat adalah Persiapan Fisik. Tinggal diluar negeri khususnya di negara maju dengan transportasinya yang modern, membuat kita banyak melakukan aktivitas dengan berjalan kaki menuju stasiun atau halte bis, naik turun tangga (menyesuaikan kondisi geografis) dan lain sebagainya yang mungkin jarang dilakukan di Indonesia. Sehingga persiapan fisik ini sangat penting dilakukan sebelum keberangkatan.

Ibu dua anak ini juga menyampaikan bahwa persiapan mental untuk mau belajar dan beradaptasi dengan lingkungan baru adalah hal yang paling penting bahkan sangat penting untuk diperhatikan. Salah satunya adalah mau dan mampu beradaptasi dengan kehidupan kampus (lokasi kampusnya, dosennya, kurikulum, dan teman-temannya). Kedua, persiapan menjadi pribadi yang baru seperti logat berbicara, kebiasaan warga lokal dan lain sebagainya. Ketiga, persiapan untuk beradaptasi di lingkungan baru terutama saat membawa keluarga, karena di Korea tidak semua familiar dengan anak kecil. Keempat, persiapan mental dalam hal menerima kritik dan tidak mendapatkan apresiasi. Kemudian yang terakhir adalah persiapan mental baja dan terus berjuang khususnya saat mengalami kegagalan dan menghadapi hal diluar kondisi normal. “Pada intinya persiapan mental untuk sekolah di luar negeri itu benar – benar harus dipersiapkan sematang mungkin. Jangan sampai mudah menyerah, harus bermental kuat seperti baja.” Ujarnya dengan mantap.

Pada sesi dialog, muncul beberapa pertanyaan seru seperti apa Motivasi terbesar Anggaunita untuk studi PhD di Korea? Dengan tersnyum ia menjawab keluarga dan mahasiswa didikannya. Anak Perempuannya yang pertama sangat menyukai lagu Korea (KPOP) dan Bahasa Korea, dari situ ia jadi termotivasi untuk terus belajar. Selain itu, mengingat topik riset yang ia tekuni berhubungan dengan Perempuan, Gendered Labor and Politics of Exclusion for Indonesian Women Workers in South Korea, menjadikan para mahasiswa didikannya menjadi salah satu motivator terbesarnya untuk melanjutkan studi doktoralnya.

Pertanyaan selanjutnya yaitu apakah seorang penerima beasiswa HEAT bisa melakukan study secara remote? Kemudian, Anggaunita menjelaskan bahwa meskipun ada beberapa kegiatan juga dilakukan secara daring, kehadiran fisik mahasiswa sebagai grantee di Korea sangat diharapkan.

Di akhir sesi, Wanita yang hobi menulis dan memasak ini memberi semangat kepada para mentee melalui quote, “Saya percaya bahwa makhluk paling adaptif adalah perempuan, ia mampu menjalankan banyak peran, tugas dan banyak hal sebaik laki laki. Berilah kesempatan ia mendapatkan pendidikan yang lebih baik, niscaya ia akan memberikan hidupnya dengan maksimal. Mari Rayakan kebenaran dan kesetaraan dengan pendidikan yang lebih baik. Seorang Mama juga wajib menyuarakan pengetahuan”.

Bersama Kelas Persiapan Sekolah Lagi PhD Mama Indonesia, mari bersama kita saling belajar untuk meraih mimpi masing-masing.

Artikel ini ditulis oleh Laksita Gama Rukmana, dan diedit oleh Aini Khodijah dan Chlara Yunita untuk PhD Mama Indonesia.

 


0 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: