Tatum Syarifah: Berburu Sekolah Anak di Auckland – Dari Lokasi, Sosio Ekonomi, Hingga Etnisitas

Maret 2015 saya menjejakkan kaki di Auckland, New Zealand (NZ), untuk memulai perjalanan PhD di University of Auckland (UoA). Suami dan anak-anak saya tinggalkan dulu di Indonesia agar saya dapat mempersiapkan tempat tinggal dan hal lainnya di Auckland, termasuk juga mental bertarung di level doktoral. Pada saat itu, UoA menempatkan saya di tempat tinggal (akomodasi) sementara untuk kemudian mulai berburu akomodasi permanen.

Di NZ, lokasi tempat tinggal dan sekolah anak merupakan dua hal yang bertalian. Ketika masih di Indonesia, saya berniat untuk menyewa apartemen di tengah kota Auckland agar bisa menyekolahkan anak-anak di sekolah top di tengah kota. Menurut saya, karena sekolah di NZ itu gratis, jadi harus cari yang terbaik. Tapi ternyata, ada beberapa faktor yang menghalangi niat saya. Pertama, mencari apartemen di tengah kota dengan standar gaji beasiswa itu sangat sulit. Akomodasi di Auckland luar biasa mahal dan sangat kompetitif. Apalagi saat itu, terjadi ledakan imigrasi ke Auckland yang menyebabkan harga sewa properti menjadi luar biasa – bahkan disebut-sebut lebih tinggi dari London. Sementara, gaji saya hanya bisa membayar sewa apartemen tipe studio yang tidak nyaman jika ditempati berempat.

Kedua, sekolah di Auckland menganut sistem zonasi. Karena itulah kita harus jeli mengenali zona tempat tinggal kita. Prinsipnya, apabila kita bisa menunjukkan perjanjian sewa jangka panjang maka anak kita wajib diterima di sekolah pada zona tersebut. Sekolah berzona pada umumnya bereputasi baik dan memiliki jumlah murid yang banyak, sehingga sangat ketat dalam menerima murid: harus dari zona yang telah ditentukan.

Faktor ketiga, yang ternyata paling unik, adalah sistem desil. Sekolah-sekolah di Auckland dibagi menjadi 10 kategori dalam desil 1-10. Desil merujuk pada lingkungan sosio ekonomi sekitar sekolah. Menurut kepala sekolah dan liaison officer international office UoA, penerapan sistem desil bertujuan untuk menentukan besaran subsidi pemerintah kepada sekolah. Makin tinggi tingkat sosio-ekonomi lingkungannya, makin sedikit subsidi pemerintah, tapi makin besar sumbangan tahunan dari orang tua kepada sekolah. Begitupun sebaliknya. Sehingga dapat digeneralisasi bahwa sekolah desil 1 akan berisi anak-anak dari lingkungan sosio-ekonomi rendah dimana orang tua memberikan sumbangan sangat murah atau bahkan gratis. Sedangkan sekolah desil 10 akan mendapatkan sumbangan terbesar dari orang tua (hingga New Zealand Dollar (NZD) 1000 per tahun).

Singkat cerita, keadaan saya waktu itu membuat saya tidak dapat memilih sekolah berzonasi. Akomodasi yang saya dapatkan membuat saya harus berpindah tempat: satu bulan di zona A, lalu pindah ke zona B dengan perjanjian setahun. Sedangkan sekolah di zona B tidak mau menerima anak saya sebelum saya benar-benar pindah ke zona B. Jadi, dengan berat hati saya mencari sekolah lain dan akhirnya mendapatkan sekolah tanpa zona. Sekolah yang ukuran bangunannya tidak besar, tapi memiliki lapangan bermain yang mewah, kolam renang, dan lapangan futsal berlantai karet sintetis. Semua fasilitas itu membuat saya lupa mengecek bahwa ternyata sekolah itu berdesil 1, yaitu desil terendah.

Salah satu konsekuensi sekolah berdesil rendah adalah memiliki banyak murid non-pakeha, utamanya etnis Pasifika. Pakeha adalah bahasa Maori untuk orang kulit putih atau istilahnya bule. Tidak dapat saya pungkiri bahwa saya berangan kalau sekolah di luar negeri itu pasti ketemu bule. Ternyata, ketidakfamiliaran saya dengan sistem pemilihan sekolah membuat saya tidak memiliki gambaran bahwa sekolah pilihan saya itu mayoritas diisi anak Pasifika, yaitu keturunan etnis Pasifik seperti Samoa, Fiji, Vanuatu, dan sekitarnya. Selain Pasifika, kebanyakan adalah anak-anak dari etnis lain seperti India, Cina, Afganistan. Selebihnya, hanya ada kurang dari sepuluh anak Pakeha.

Namun, saya kagum pada kepemimpinan kepala sekolah Glenavon School yang sangat visioner dan memiliki misi untuk menjadikan anak-anak yang sering dianggap sebagai warga negara kelas dua memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak di sekolah berdesil tinggi. Tentu saja, standar kurikulum yang diterapkan berkualitas sama, ditambah dengan kualifikasi guru yang tinggi untuk memastikan bahwa anak-anak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Fasilitas olahraga, kegiatan-kegiatan sains dan seni juga sangat didorong. Terlebih lagi karena kebudayaan orang Pasifika yang sangat ramah dan kekeluargaan, membuat anak-anak saya sangat betah di sekolah dan langsung mendapatkan teman-teman baru yang sangat ramah dan sopan. Setiap kali saya datang menjemput, pasti mayoritas murid-murid dengan ramah menyampaikan salam, “Hi, Nantan’s Mum“.

Di sisi lain, sekolah berdesil tinggi dipenuhi oleh etnis pendatang, terutama Cina dan India, yang komposisinya mungkin menyamai jumlah murid Pakeha. Salah satu teman yang mendapatkan akomodasi di dekat sekolah berdesil 10 menceritakan banyaknya etnis Cina di sekolah anaknya, dan mereka sangat kompetitif. Salah satu keuntungan dari sekolah berdesil tinggi adalah memiliki kegiatan luar kelas yang lebih variatif. Selain itu, anak-anak dari latar belakang ekonomi mampu umumnya memiliki kebiasaan akademik yang lebih baik pula (misal, minat membacanya lebih tinggi). Sehingga, secara akademik lebih kompetitif. Tapi tentunya ada kelemahan, yaitu biaya sekolah yang cukup mahal (walaupun tetap tidak semahal sekolah swasta di Indonesia). Anak sulung saya sempat masuk ke Blockhouse Bay Intermediate yang berdesil tengah. Sekolah tersebut sangat terkenal secara akademik sehingga banyak murid dari daerah non-zona rela mengantri untuk masuk ke sekolah tersebut. Di sekolah ini juga sangat variatif secara etnis, dengan dominasi India dan Cina.

Bila ditanya apakah saya menyesal mendapatkan sekolah berdesil 1 untuk anak-anak saya, jawabannya adalah TIDAK. Standar dan pengawasan mutu sekolah di Auckland cukup ketat, sehingga secara akademik anak-anak dapat mengikuti pelajaran. Secara umum, pelajaran di Indonesia juga lebih sulit dibanding kurikulum NZ yang cenderung santai. Jadi menurut saya, asalkan sudah bisa mengikuti pelajaran dalam Bahasa Inggris maka anak-anak maka mereka tidak akan mengalami kesulitan berarti. Kepala sekolah dan guru-guru di Glenavon School sangat luar biasa dan sangat inspiratif. Saya pun sebagai pendidik mendapatkan banyak pelajaran dari situ. Secara pertemanan, kami mendapatkan pengalaman yang sangat unik, yaitu berteman dengan multi etnis (non-Pakeha). Saya bersyukur bahwa anak-anak sangat menikmati dan mendapatkan kenangan pertemanan yang menyenangkan dan kuat. Walaupun sepertinya begitu jauh perbedaan antara perencanaan dengan kenyataan, tapi ternyata hasilnya sama: mendapatkan pengalaman manis dan terkenang seumur hidup!

Notes: Foto-foto diambil di Glenavon School

Ditulis oleh: Tatum Syarifah Adiningrum

Editor: Della Rahmawati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s