Ayu Swandewi: Studi S3 bersama suami dan membesarkan empat anak itu sesuatu!

Hai Mbak Ayu, boleh cerita seperti apa rasanya studi Ph.D. bersama-sama dengan suami?

Halo, Kanti. Kilas balik sedikit ya. Keinginan studi S3 bersama suami sebetulnya sudah muncul ketika waktu itu (2007-2008) suami ikut menemani saya kuliah S2 dengan membawa dua anak kami yang akhirnya menyebabkan tertundanya karir suami. Sekembalinya kami ke tanah air, suami saya melanjutkan S2 di Universitas Gadjah Mada sehingga kami harus menjalani long distance relationship (LDR) selama dua tahun karena saya bersama anak-anak tinggal di Bali.

Inefisiensi saat kuliah master, masa kuliah doktoral yang cukup lama, pengalaman LDR yang berat diongkos, dan susahnya kami terutama saya untuk pisah dari anak-anak, makin menguatkan tekad kami untuk bisa sekolah bersama-sama jika kami lanjut S3 kelak. Doa kami didengar oleh Yang Maha Kuasa, kami berhasil mendapatkan beasiswa LPDP, suami saya Program Keberangkatan (PK) 30 dan saya PK 33.

45906099_10156361998954017_5098880346544406528_o
Menikmati indahnya kota Sydney

Mengapa Australia?

Ya, pilihan sekolah ke luar negeri kami buat dengan beberapa pertimbangan terutama pendidikan bagi semua dan keuangan. Berdasarkan pengalaman selama S2, sekolah ke luar negeri memberikan dampak positif tidak hanya bagi saya namun juga bagi anak-anak. Anak-anak mendapatkan kesempatan merasakan sistem pendidikan yang sangat bagus dan juga mengasah kemampuan berbahasa Inggris mereka. Ini juga kesempatan membuka wawasan, mengenal kultur dan lingkungan hidup yang berbeda.

Alasan lainnya yaitu keuangan, seandainya kami sekolah di dalam negeri, belum tentu kami sanggup menanggung biaya satu keluarga kami plus sekolah anak-anak. Kebijakan pendidikan dasar di luar negeri pada umumnya gratis. Sebagai contoh di New South Wales, Australia kami hanya membayar beberapa keperluan sekolah dan pelajaran yang tidak mencapai $500 setahun untuk high school (setingkat SMP-SMA) dan untuk sekolah dasar hampir tanpa biaya.

Australia kembali menjadi pilihan karena beberapa alasan, terutama karena dekat dan familiar untuk kami. Australia cukup dekat dari Bali, domisili kami, sehingga kalau terjadi sesuatu dengan keluarga di Bali, kami bisa pulang dengan waktu dan biaya yang terjangkau. Kami sudah cukup familiar dengan Australia sehingga mudah untuk beradaptasi. Selain itu, reputasi kampus dan keseuaian pembimbing juga mengarahkan kami ke negeri kangguru ini.

Seperti apa persiapan keberangkatan sekeluarga waktu itu?

Ya, di tengah kompleksitas persiapan sekolah dan penyelesaian proyek penelitian, ternyata Tuhan mempunyai rencana lain dan memberikan kami anugerah yang mengejutkan, saya hamil anak yang keempat! Mungkin karena faktor umur dan psikologis, kondisi saya sempat drop karena hyperemesis dan gangguan tidur sehingga harus dirawat di rumah sakit dan butuh waktu pemulihan yang cukup lama. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk tetap berangkat sesuai dengan waktu enrolment dari universitas dengan keyakinan kami bisa menjalaninya asalkan tetap positif, saling mendukung, dan berserah kepada Yang Maha Kuasa.

Pertanyaan pertama yang muncul saat kami memutuskan berangkat bersama-sama adalah tempat tidur satu kompi yang beranggotakan lima setengah orang ini. Beruntung kami punya teman sesama orang Indonesia yang membantu menginspeksi beberapa apartemen dan mengurus deposit dengan agen perumahan.

Kami cukup melihat dari foto dan mempercayakan sepenuhnya pada penilaiannya. Sehingga di hari pertama kami sampai di Sydney kami sudah bisa tanda tangan kontrak dengan agen. Kami juga diberikan kesempatan bermalam ditempat beliau untuk dua malam pertama sampai kami bisa pindahan ke apartemen kami. Ditambah lagi kami juga mendapatkan hibah beberapa peralatan rumah dari teman yang sudah pulang sehingga cukup untuk masa adaptasi. Aren’t we just lucky?

Selain itu, pertemanan dengan sesama mahasiswa di rantau yang kebetulan para Ph.D. Mama juga sangat membantu kami sejauh ini. Mulai dari menitipkan anak-anak saat saya melahirkan dan suami harus menemani di rumah sakit, atau saat kami berdua mempunyai keperluan di kampus pada hari yang sama, juga sebagai teman curhat saat sedang galau.

13592409_10154117395444017_6434600194742954149_n
Membawa anak-anak ke kantor ketika si kecil masih bayi

Suami istri berdua sama-sama sekolah dan membawa empat anak, bagaimana caranya membagi waktu dan tugas-tugas?

Salah satunya, kami membuat kesepakatan diawal, yaitu saya butuh waktu dua hari untuk kerja di kampus dan suami bisa memakai hari lainnya. Kebetulan jenis penelitian kami sangat berbeda, saya penelitian lapangan, sedangkan suami penelitian di laboratorium, sehingga suami butuh lebih banyak waktu untuk bekerja di lab.

Di luar kesepakatan itu, tentu saja ada pengecualian yang butuh negosiasi dan toleransi bila ada kegiatan yang harus dihadiri di luar jadwal rutin kami atau ada hal yang urgent. Misalnya ada jadwal meeting dengan pembimbing di luar hari ngampus kami, ada pelatihan/workshop; dll. Tentu saja yang perlu dinegosiasikan tidak hanya urusan kampus tapi juga urusan jaga bayi dan jemput anak dari pre-school. Sering kali dua anak yang terkecil harus dibawa ke kampus bila kebetulan kami berdua punya kepentingan di kampus pada hari yang sama; atau mereka kami titipkan pada teman student yang tinggal cukup dekat dengan kami.

Di samping itu, suami juga sering pergi dan mengerjakan penelitiannya di laboratorium pada pagi dini hari sehingga ia bisa balik lagi ke rumah dan selanjutnya saya yang pergi ke kampus. Tag-team ini sejauh ini berjalan dengan lancar. Terkadang suami harus bekerja di laboratorium saat weekend. Saya dan anak-anak sering turut serta, saat suami bekerja di laboratorium, kami menunggu dan bermain di ruang kerjanya kemudian kami main ke taman dekat kampus atau cukup bermain di lingkungan kampus yang juga indah dan menyenangkan, dan setelahnya kami jalan-jalan ke pusat kota.

29366144_10155824954744017_8971427915241619456_n
Bersama suami yang menjadi partner tag-teamku tiga tahun terakhir di Sydney

Ada tips atau trik khusus lain?

Sadar waktu kerja saya di kampus sangat terbatas, saya selalu berupaya menggunakannya seoptimal mungkin. Biasanya membaca artikel atau buku saya lakukan disela-sela pekerjaan rumah atau sambil mengasuh anak-anak. Itupun kalau si bayi tidak merebut kertas-kertas yang saya pegang. Waktu di kampus saya upayakan untuk menulis atau menyusun draft yang memerlukan waktu tenang.

Walaupun terus terang saja, tidak selalu mudah dilakukan karena pasti saja ada distraksi-distraksi. Tetapi terkadang saya perhatikan, menjadi produktif itu bergantung pada banyak hal, tak cuma ketersediaan waktu, tapi juga kemampuan untuk fokus serta mood yang bagus. Jika ketiga hal itu bertemu, saya bisa menghasilkan banyak dibanding waktu lain ketika saya menghabiskan waktu lebih lama di depan komputer.

Perpustakaan komunitas yang ada di dekat rumah juga beberapa kali menjadi tempat kabur saya untuk bisa bekerja barang tiga-empat jam apabila urusan rumah dan anak-anak sudah terkelola dan suami pas tidak ke kampus. Perpustakaan setempat mempunyai beberapa ruangan yang cukup nyaman untuk dipakai bekerja. Ini saya lakukan dengan pertimbangan menghemat waktu perjalanan dari rumah ke kampus (±1 jam sekali jalan), sehingga waktu bisa dimanfaatkan dengan efisien.

Seperti apa Mbak mengenang tahun pertama studi?

Melihat ke belakang, tahun pertama kami adalah masa yang cukup berat dan di luar gambaran. Kami berdua masih sedang mencari-cari bentuk untuk Ph.D. kami, anak yang ketiga perlu penyesuaian di childcare (penitipan anak) dan tiga bulan setelah sampai di Sydney kami mempunyai bayi. Jujur saja, saya cukup overwhelmed. Kami berusaha tetap berpikir positif dan optimis kalau semuanya pasti bisa dikelola.

Waktu itu saya minta dua bulan leave of absence alias cuti dari kampus atas saran pembimbing agar saya punya waktu untuk mengurus bayi. Kehadiran bayi kami jadikan penyemangat untuk bisa mengatur ritme pekerjaan kampus dan rumah termasuk mengurus anak-anak yang lebih besar. Yang merasakan perubahan yang terbesar adalah anak kami yang ketiga, sehingga kami berupaya membagi waktu agar salah satu dari saya atau suami bisa selalu menemani dan memberikan perhatian secara bergantian.

Dua anak yang terbesar, juga membutuhkan perhatian dan sedikit bantuaan dengan tugas-tugasnya. Kami berusaha bergantian untuk meluangkan waktu bagi mereka. Saya sangat bersyukur anak-anak yang besar sudah cukup mandiri dan bahkan sangat membantu untuk menjaga adik yang lebih kecil.

Sering kali saat saya harus mengetik atau memasak, kakaknya yang mengasuh adik bayi sampai tertidur. Kami sangat terbantu olehnya. Begitulah, antara saya dan suami saling mengisi dalam menjalankan peran sebagai orangtua, sembari menjaga komitmen pada pembagian waktu yang kami buat bersama. Perjalanan ini masih panjang, namun semangat terus kami jaga demi kehidupan yang lebih baik bersama anak-anak.

41713454_10156232300684017_6995102317464780800_n
Momen konferensi pengendalian tembakau di Bali 

*Putu Ayu Swandewi Astuti (Ayu) adalah seorang dokter yang bertugas sebagai dosen pengajar di bidang kesehatan Masyarakat di Universitas Udayana, Bali. Ayu juga merupakan ibu dari 4 orang putra-putri (Erika, Erland, Emma, Eileen-4E) yang mempunyai kegemaran travelling, baking dan nonton film. Ia bisa dihubungi di ayu.swandewisurya@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s