PhD Mama Ratri: Tentang pumping ASI, riset kanker dan keluarga sebagai support-system

Halo Mbak Ratri, bolehkah cerita sedikit seperti apa proses awal hijrah ke Inggris untuk studi PhD? 

Hai Mbak Kanti. Saya memutuskan untuk menempuh pendidikan doktoral, selain untuk memperdalam ilmu mengenai Women’s Cancer, juga karena saya adalah staf pengajar di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada. Awalnya saya berencana untuk PhD langsung setelah lulus Master of Science dari University College London, tapi tidak terlaksana.

Tantangannya saat itu adalah mencari supervisor yang pas dan mendapatkan beasiswa. Saya mengirimkan aplikasi untuk menjadi PhD student ke belasan PI (principal investigator) yang mempunyai riset dalam bidang Ovarian Cancer di Inggris. Ada 9 PI yang membalas, dan setelah melalui proses yang cukup panjang hanya 2 PI yang menerima saya.

Setelah mendapatkan calon supervisor, saya mendaftar beasiswa. Saat itu hanya 2 beasiswa yang saya apply, LPDP dan Merit Scholarship Programme for Ph.D dari Islamic Development Bank (IDB). Saya membutuhkan waktu sekitar 1 tahun untuk proses ini, sampai akhirnya saya diterima di Imperial College London dan berangkat dengan beasiswa LPDP.

Tidak disangka-sangka, setelah memulai PhD selama 3 bulan, saya mendapatkan email kalau lolos beasiswa IDB. Tawaran tersebut saya tolak, karena saya sudah terikat kontrak dengan LPDP. Semoga nanti saat akan PostDoc saya bisa mendapatkan funding dari IDB lagi.

Bagaimana dengan keluarga?

Alhamdulilllah keluarga sangat mendukung rencana saya untuk melanjutkan PhD, baik suami, mertua maupun orangtua saya.

Sejauh yang sudah dijalani, bagaimana Mbak mengelola tanggungjawab studi dan sebagai ibu/istri? 

Menjadi PhD mom tidak dipungkiri lebih membutuhkan usaha ekstra, dibandingkan menempuh pendidikan saat masih single. Tapi saya tidak menyesal, saya membuat keputusan untuk PhD dan mempunyai anak di saat yang sama tanpa paksaan dari siapapun.

Segala tantangan selama prosesnya saya anggap pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tiga bulan setelah saya mulai PhD, saya positif hamil. Awalnya agak sungkan memberi tahu supervisor saya mengenai hal ini, tapi ternyata supervisor saya juga hamil!

Kami melahirkan hanya terpaut 4 hari. Tahun pertama alhamdulillah berjalan dengan lancar, saya first year viva saat hamil 9 bulan, setelah itu saya langsung cuti melahirkan.

Masa-masa yang paling menantang adalah masa kembali lagi ke kampus setelah 3 bulan cuti. PhD saya adalah lab based project, dimana mayoritas waktu penelitian dihabiskan di laboratorium.

Rasanya berat sekali meninggalkan anak, apalagi saat itu anak sempat bingung puting. Saya berusaha untuk kuat dan ikhlas, sampai pada akhirnya anak mau menyusu lagi dengan damai setelah 3 bulan menyusu dengan penuh drama.

Masa-masa selanjutnya saya harus pintar-pintar membagi waktu dan ritme di lab karena saya harus pumping ASI. Biasanya saya pumping saat menunggu inkubasi eksperimen.

Sempat ada masa-masanya saya harus berlari-lari antara nursing room dan lab, pernah juga pumping di kamar mandi karena tidak punya cukup waktu untuk pumping di nursing room.

Manajemen lab melarang saya untuk pumping di office lab, jadi harus rela pindah gedung atau pulang ke rumah untuk pumping.

Bersama rekan-rekan di Laboratorium

Bagaimana Mbak membagi tugas di rumah bersama suami?

Alhamdulilllah suami adalah partner yang enak di ajak bekerjasama untuk urusan rumah tangga dan mengurus anak. Kami saling bahu membahu untuk bersih-bersih rumah, masak, cuci baju, dll.

Suamilah yang mengasuh anak kami saat saya ke kampus, sampai pada akhirnya kami bisa menitipkan anak kami di Nursery (tempat penitipan anak) di kampus (saat dia berusia 6 bulan). Biasanya saya masak pagi-pagi sekali setelah subuh, sehingga saat anak bangun langsung bisa bersiap ke kampus/nursery.

Sepulang dari beraktifitas adalah family time, kami saling bercerita, bermain dan membaca buku untuk si kecil sebelum dia beranjak tidur. Kalau untuk jadwal bersih-bersih rumah kami kerjakan saat akhir pekan.

Kami bergantian mengantar jemput anak ke nursery. Kebetulan jadwal bekerja suami lebih fleksibel dari pada jadwal saya, jadi masih ada ruang untuk mengatur jadwal bersama dan bernegosiasi.

Alhamdulilllah kampus saya hanya di seberang rumah, jadi kalau harus lembur dan harus jemput anak juga, saya akan menunggu suami pulang dan kemudian kembali ke kampus sampai pekerjaan selesai.                                                                   

Bisa ceritakan tentang studi Mbak dan pengalaman baru belajar coding sebagai bagian dari penelitian? Apa kesulitan yang Mbak rasakan?

Saya tidak pernah berpikir bahwa saya harus melakukan coding sebagai bagian dari PhD saya. Background saya adalah dokter, saya tidak tahu cara menulis skrip sama sekali. Tahun ketiga PhD saya mayoritas adalah mengenai Bioinformatics.

Untuk itu, saya mendaftar ikut short course mengenai Cancer Informatics di awal tahun kedua PhD saya. Awalnya cukup kewalahan, saya perlu waktu yang cukup lama untuk menganalisis data yang simple karena harus googling kanan kiri dulu.

Setelah setahun belajar cara membuat kode, saya semakin lancar bermain coding, walaupun belum pada tahap ahli, masih suka macet kalau analisis dengan metode yang baru. Alhamdulillah, di awal tahun ketiga PhD saya berkesempatan untuk mengikuti training lanjutan mengenai bioinformatika di Cambridge, sehingga bisa menunjang analisis thesis saya.

Sebenarnya di lab saya ada bioinformatician yang bisa diajak berkonsultasi mengenai analis data, tapi beliau sibuk sekali. Kesulitan itulah yang saya rasakan sampai sekarang.

Bersama peserta course “Introduction to multiomics data integration” di EMBL-EBI, Hixton, Cambridge

Sekarang kita beralih ke kehidupan luar kampus, apa saja tantangan maupun kemudahan hidup sebagai Muslim(ah) di Inggris? Apa perbedaannya jika dibandingkan pengalaman di Indonesia?

Alhamdulillah di UK banyak muslim jika dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Orang UK pun ramah terhadap muslim. Di London banyak komunitas muslim, banyak yang berhijab, mudah menemui makanan dan daging halal.

Kami tinggal di daerah muslim, ada beberapa masjid di sekitar kami. Di rumah sakit tempat saya berkerja pun ada Musholanya, biasanya suami sholat berjamaah disitu, karena dekat sekali dengan rumah. Perbedaannya, disini tidak ada adzan, kalau Ramadhan pun sepi-sepi saja, tidak seramai di Indonesia.

Tantangannya adalah lebih ke menjaga fitrah anak sebagai muslim. Nursery putri kami adalah nursery public (sekolah umum/pemerintah), jadi disana juga ada perayaan natal, paskah, dan lain lain.

Kami perlu memberi pengertian mengapa di rumah kami tidak merayakan hal yang serupa. Kami berupaya menanamkan iman dan Islam dengan cara yang menyenangkan, sehingga dia bahagia menjadi seorang muslimah.

Si kecil beraktifitas di London Transport Museum

Bagaimana Mbak mengupayakan agar si kecil tetap tumbuh sehat dan ceria selama merantau di Inggris menemani ibunya studi?  Siapa yang menemani si kecil saat Mbak harus ke kampus?

Selama saya di kampus, anak kami berada di nursery. Suami bekerja 3 hari di luar kota London dan 2 hari bekerja di London. Jadi biasanya saat suami beraktivitas di Luar kota, saya yg bertugas mengantar jemput anak di nursery. Di dua hari yang lain saat saya bebas tugas antar jemput anak, biasanya saya akan lembur atau berangkat pagi-pagi sekali ke kampus.

Cara saya catch-up dengan anak adalah dengan menyapanya dengan riang saat pagi hari dan saat menjemput di nursery, main bersama anak selagi bisa, membuat perjalanan pulang pergi ke nursery menyenangkan misalnya dengan menyanyi bersama, melewati taman, bertanya aktifitas anak di nursery.

Setiap malam sebelum tidur juga menjadi sesi sharing saya bersama putri tercinta, apakah dia bahagia hari ini, apakah dia menangis di nursery, dll. Saya berusaha masak sendiri di rumah, memastikan anak makan makanan yang bergizi dan sehat. Kami juga berusaha olahraga bersama seminggu sekali, biasanya berenang atau jalan-jalan di taman.

Boleh cerita sedikit ttg riset PhDnya dan apa harapan Mbak terkait riset tersebut?

PhD saya adalah mengenai keberagaman profil molekular kanker ovarium. Kanker ovarium adalah kanker yang sangat mematikan dengan harapan hidup yang rendah karena tidak ada metode deteksi dini yang efektif dan adanya resistensi kanker terhadap kemoterapi.

Kami berharap bisa mengetahui lebih dalam bagaimana keberagaman profil tersebut berhubungan dengan timbulnya resistensi kanker terhadap kemoterapi. Sehingga bisa meningkatkan manajemen atau strategi pengobatan kanker ovarium.

Eksperimen di laboratorium

Adakah hal lain yang mungkin Mbak ingin share kepada pembaca phdmamaindonesia?

Untuk teman-teman yang akan PhD dan sudah berkeluarga, carilah supervisor yang oke secara akademik dan yang family-friendly, apalagi jika ada rencana mempunyai anak saat PhD. 

PhD adalah studi yang panjang, butuh support system yang kuat, dari keluarga inti-maupun dari extended family.

Niatkan segala sesuatu untuk ibadah, agar kaki ringan melangkah dan amalan bertambah. Selamat berjuang dan nikmati prosesnya 🙂

Si kecil sedang menemani perjalanan ke laboratorium
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s