PhD Mama Ima: Menyiasati studi dengan balita dan menjalani LDR

Perempuan, pengawasan dan ‘realita’ yang subjektif

Sering kali, pilihan hidup yang dibuat oleh seorang perempuan menjadi objek pengawasan (scrutiny) orang sekitarnya. Seolah abai pada kenyataan bahwa setiap orang (terlepas ia laki-laki atau perempuan), menghadapi ‘realita’ yang berbeda-beda yang tak dapat disamaratakan.

Simak obrolan saya dengan PhD Mama Ima yang mengupas tentang tantangan hidup studi di rantau yang penuh lika-liku. Pahit dan getir yang tak jarang menjadi bekal kita menjadi pribadi yang lebih bijak dan tak mau sembarang menghakimi ‘realita’ yang sedang dijalani oleh orang lain.

Mbak, bagaimana perasaan setelah lulus PhD?

Aduh Kanti… perasaannya antara lega banget dan ada insecure nya juga. Lega karena berhasil melewati masa sekolah dan masa berkeluarga yang lumayan banyak tantangannya.

Lega karena berhasil lulus PhD tanpa halangan secara akademis yang berarti. Lega juga karena berhasil menyelesaikan tugas dari negara. Sementara rasa insecure datang karena nggak yakin apakah setelah lulus PhD mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat.

Maksudnya bagaimana Mbak?

Ya, ini terkait kondisi pasangan yang tugas berpindah pindah dan belum menetap dan ada komitmen kami tentang keluarga, ada kekhawatiran bahwa ilmu yang didapat tidak bisa diaplikasikan secara optimal karena saya juga terpaksa harus ikut berpindah.

Bagi saya, PhD adalah langkah awal untuk dapat melanjutkan perjalanan di dunia penelitian yang sebenarnya, saya sangat khawatir apakah saya mampu melanjutkan perjalanan ini.

Apa saja kesibukan sekarang?

Saya masih menjalankan kewajiban saya sebagai Dosen S1 dan S2 di Universitas Negeri Padang (UNP), kesibukannya ya mengajar, melakukan bimbingan skripsi/tesis, menguji, melakukan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Selain penelitian di kampus, Alhamdulillah saat ini diberi kesempatan untuk mengaplikasikan Ilmu dengan menjadi research fellow di salah satu lembaga pemerintah dibidang keuangan dan juga aktif menjadi peneliti di lembaga lainnya.

392005_10150523525868578_1890823332_n
Serius mempresentasikan riset saya di konferensi akademik di Doha, Qatar

Tadi Mbak bilang suami masih bertugas berpindah-pindah, apa artinya masih menjalani long-distance relationship (LDR)?

Iya, LDR dalam artian tidak setiap hari dalam seminggu kami bisa bersama. Itulah kenapa saat menjalani kesibukan saat ini masih ada tantangan yang luar biasa untuk kami sekeluarga. Sekarang suami telah pindah tugas di Pekanbaru, sementara saya masih terikat sebagai Dosen di UNP.

Saya harus rutin melakukan perjalanan luar kota yang lumayan memakan energi dan biaya. Ternyata perjuangan setelah PhD masih ada juga hehehe…

Apa cobaan terberat semasa studi dan bagaimana Mbak melaluinya? 

Di 2 tahun pertama, saya ditemani suami dan anak-anak di Melbourne. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

Suami saya mendapatkan pekerjaan casual yang penghasilannya dapat digunakan untuk mensupport kehidupan kami, anak saya yang kecil mendapatkan Child Care Benefit sehingga bisa mengikuti pengasuhan full day di daycare dan kakaknya sudah mulai masuk sekolah dasar.

Saya bisa mengerjakan riset dengan tenang ketika semua anggota keluarga beraktifitas. Secara ekonomi dan emosional kondisi kami sangat aman.

278002_10150954792048105_948341363_o
Suasana meja kerja saat anak-anak mampir ke kantorku untuk numpang makan

Keadaan sedikit berubah di 2 tahun terakhir, ketika suami harus kembali berdinas di Indonesia karena cuti diluar tanggungan-nya tidak bisa diperpanjang. Saya harus menjalani 2 tahun terakhir masa PhD dengan 2 orang anak dalam pengasuhan.

Setiap hari saya harus mengatur waktu se-efisien mungkin untuk menjalani rutinitas sehari hari, menjadi mahasiswa, mengantar anak-anak ke sekolah dan day care, menjadi ibu, mengerjakan perkerjaan rumah tangga sendirian sampai kadang-kadang harus melakukan pekerjaan casual untuk mendukung kondisi keuangan.

Sempat ada kejadian ponsel saya tertinggal di bus. Waktu itu saking terburu-burunya mengejar seminar supervisor di kampus. Seminar gagal dihadiri, akhirnya duduk menghabiskan sekantong anggur sambil mengenang ponsel yang hilang, hehehe.

Saya waktu itu tidak bisa menyetir mobil dan merasa sangat kehabisan waktu ke kampus dan mengerjakan riset karena harus setiap kali menunggu public transport dari mengantarkan anak-anak. Dengan tekad yang kuat akhirnya saya belajar menyetir dan pertama kali menyetir kendaraan di Melbourne karena kondisi yang memaksa hehehe…

Bagaimana Mbak menjaga keseimbangan hidup berkeluarga dengan beban studi yang cukup berat? 

Kuncinya time management, berdisiplin dengan waktu. Saya harus memaksimalkan proses dan hasil belajar saya selama masa anak-anak di sekolah atau di daycare. Sewaktu anak-anak bersekolah/di daycare, saya berusaha selalu mengurung diri di perpustaakaan untuk meminimalkan distractions.

Ya saya masih ingat hari-hari yang diisi dengan mendorong stroller sejauh 2 km mengantar kakak ke TK dan Deeja ke daycare ketika harus beraktifitas di kampus. Harus kuliah S3 bersama dua orang balita yg masih perlu banyak perhatian.

Seringkali saya terpaksa harus menolak ajakan kawan untuk melakukan sesuatu di jam kantor ini, jadi agak anti-sosial deh, hehehe. Saya juga selalu pulang dari kantor ketika jam pulang sekolah untuk menjemput anak-anak dan menjalankan tugas saya sebagai Ibu.

Weekend juga saya usahakan untuk menjalankan aktifitas menyenangkan bersama anak-anak. Waktu kerja saya adalah jam anak-anak ada di sekolah, daycare atau malam sekali ketika mereka terlelap.

1488127_10151902134263105_2057289749_n
Masa-masa penat namun masih terselip momen-momen bahagia mengajak anak-anak jalan-jalan menikmati pemandangan alam kota Melbourne

Seperti apa dukungan supervisor, kolega dan keluarga?

Supervisor sangat memahami kondisi saya. Setiap kali bertemu pertanyaannya adalah tentang keluarga untuk memastikan bahwa kami semua dalam keadaan baik.

Saya juga beruntung mempunyai teman sharing yang selalu datang di akhir pekan ke rumah. Keceriaan bersama teman dan keluarganya ini sangat membantu saya untuk tetap gembira meskipun banyak deadline di kampus.

Keluarga juga mensupport, misalnya ketika saya harus konferensi keluar negeri, ada keluarga yang datang untuk membantu menjaga anak-anak.

255170_10150218684523578_263604_n
Tertidur di jalan pulang setelah seharian beraktifitas di daycare

Diluar itu, ya terus terang ada saja komentar-komentar yang kurang mengenakkan, misalnya “Apa nggak kasihan anak-anaknya. Apa nggak capek bolak balik? Apa yang masih kurang sekarang? Demi apa sih?”, sejenis itulah.

Jujur, tidak ada yg mudah pasti buat saya memilih jalan hidup saya waktu itu: menjadi istri, ibu dan dosen yang suaminya dinas di luar pulau dan kadang harus berpindah pindah. Tapi entahlah dengan semua tantangan yang ada, Alhamdulillah kami masih kompak berjuang bersama.

Pak Yahya yang selalu tenang saja menggantikan peran menjaga anak-anak ketika saya harus pergi, selalu menemani menunggu travel, mengantar jemput ke airport, memastikan anak anak baik baik saja dan banyak hal lain yang membuat saya tenang menjalani perjalanan ini. Anak-anak? Just beyond my expectations. Alhamdulillah atas penjagaanMu Ya Allah. Terima kasih Ayah, kakak n dedek…

untitled-2
Bersama sang suami – partnerku yang tangguh dan handal

Kami tahu tidak ada yang kebetulan. Juga dengan takdir yang membuat saya harus melewati semua perjalanan ini beasiswa S2, S3, kesempatan mengajar, kesempatan riset dll. Dan apakah kami akan berpangku tangan saja setelah itu. Rasanya nggak enak hati, yah. Kami hanya ingin menjalani takdir ini sebaik baiknya. Mensyukuri semua nikmat yang telah diberikanNya. Berbagi apa yang bisa kami bagi. Itu saja.

Semoga saja anak anak belajar banyak dari semua perjalanan ini seperti saya juga belajar semua perjalanan hidup dari Bapak, Ibu dan kakak kakak saya yang selalu memikirkan kemasyalahatan umat.

317860_10150351958483578_190535528_n
Mensyukuri momen-momen kebersamaan dengan jalan-jalan bersama anak-anak

Kira-kira apa manfaat yang bisa diambil dari riset Mbak untuk kehidupan di Indonesia?

Disertasi saya mengevalusi lembaga keuangan mikro di Indonesia yang mengintegrasikan fungsi sosial dan komersial. Saya membuat model lembaga mikro yang bisa diaplikasikan di Indonesia dengan mempertimbangkan beberapa karakteristik yang unik.

Saat ini alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk memberikan training implementasi model lembaga mikro yang sustainable pada beberapa Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) di Kota Padang. Saya juga sedang menginisiasi pilot project KJKS percontohan yang dapat digunakan sebagai role model KJKS di kota Padang.

Luar biasa. Terima kasih ya Mbak, sukses selalu untuk Mbak Ima sekeluarga.

Sama-sama, Kanti. Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s