
Dalam perkembangan karir dan pendidikan, masyarakat kita diam-diam mempercayai ada jam biologis yang menentukan kapan seseorang kuliah, lulus, dan menikah. Usia tertentu dipercayai sebagai waktu terbaik untuk memulai pendidikan dan pintu pendidikan dianggap tertutup jika sudah melewati usia tertentu. Anggapan ini merupakan ekspektasi sosial yang melekat pada individu dan tantangannya juga dipengaruhi gender seseorang, terutama untuk perempuan. Akan tetapi, pada kenyatannya jam biologis seperti sebuah hambatan yang membuat perempuan sulit untuk mencapai potensi terbaiknya.
Perempuan yang kembali bersekolah di usia tua sering dianggap bukan sebuah kondisi yang ideal. Hal ini karena mereka sudah memiliki tanggung jawab keluarga dan pekerjaan, sehingga keputusan kembali bersekolah dianggap tidak terlalu penting. Ini berkaitan dengan bagaimana masyarakat kita yang melihat urusan domestik tidak memerlukan keterampilan khusus. Mereka menganggap bahwa pekerjaan menjadi ibu rumah tangga seperti membesarkan anak, bersih-bersih rumah, dan merawat anggota keluarga tidak perlu keahlian tertentu dan dapat dikerjakan tanpa harus sekolah yang tinggi. Dengan demikian, jika pekerjaan tidak mensyaratkan untuk sekolah lagi, dianggap hal yang sia-sia dan merasa lebih baik uangnya dipakai untuk hal lain. Padahal dalam belajar tidak bisa dilihat dari tolak ukur angka atau material yang dianggap penting. Pendidikan bisa menjadi sarana untuk perbaikan pola pikir, meningkatkan kepercayaan diri, serta membuka wawasan perempuan terhadap fenomena sosial tertentu yang ada di masyarakat.
Tantangan Perempuan Bersekolah Lagi
Dalam keputusan perempuan dewasa untuk bersekolah lagi, ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kemungkinan perempuan terjebak dalam beban ganda. Bagi perempuan dewasa yang sudah menikah dan bekerja, kembali bersekolah merupakan tantangan yang terasa cukup berat. Tidak jarang perempuan terjebak dalam beban ganda ketika harus mengurus rumah tangga dan beban akademik. Hal ini yang kadang membuat perempuan lebih mudah terjebak dalam burn out.
Bukan hanya faktor sosial, perempuan juga harus menghadapi tantangan struktural yang belum mendukung dalam melanjutkan pendidikan. Mulai dari ketimpangan program pendidikan, akses yang belum layak, dan masih kurangnya dukungan pemerintah untuk memfasilitasi perempuan yang sudah berkeluarga untuk sekolah lagi. Hal ini bisa dilihat dari kurang fleksibilitas jadwal kelas, dukungan fasilitas penitipan anak, hingga masih sedikitnya beasiswa khusus bagi perempuan yang kembali belajar.
Tantangan berlapis tersebut, membutuhkan usaha ekstra bagi seorang perempuan untuk melanjutkan pendidikan dibandingkan laki-laki. Menurut data terbaru BPS (Badan Pusat Statistik), perempuan yang mengakses pendidikan tinggi beberapa tahun belakangan melampaui laki-laki. Pada tahun 2024, perempuan mengungguli laki-laki dalam kepemilikan ijazah dengan presentase 14.08% dan 12.69%. Meskipun begitu, hal tersebut tidak serta merta membuat perempuan lebih mudah untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat selanjutnya dari faktor yang dipaparkan sebelumnya. Sehingga, diharapkan ada kebijakan yang bisa mempermudah perempuan untuk bisa melanjutkan pendidikan magister dan doktoral. Baik itu bantuan finansial maupun dukungan ekosistem pendidikan dan dunia kerja yang bebas dari bias gender.
Kemerdekaan yang Belum Selesai Diperjuangkan
Kemerdekaan belajar seharusnya bukan sesuatu yang memiliki tanggal kedaluwarsa. Kita semua percaya pendidikan merupakan adalah hal penting untuk semua orang, tapi tidak semua menyadari bahwa tantangan sosial yang dialami perempuan itu lebih berlapis dibandingkan laki-laki. Masyarakat mengamini pendidikan penting, tapi sayang sekali tidak mengimani. Sehingga, tantangan budaya dan sosial lebih sering dialami banyak perempuan adalah hal paling berpengaruh membuat perempuan tidak percaya diri. Ini seperti hambatan internal yang membuat perempuan mempertanyakan kapasitasnya untuk bisa sekolah. Pada akhirnya keinginan perempuan untuk bersekolah seringkali berbenturan dengan ekspektasi dan stigma sosial yang berkembang.
Bagi perempuan yang berhasil kembali bersekolah, telah membuktikan bahwa pendidikan adalah kemerdekaan yang dapat diperjuangkan dan keterlambatan bukan akhir dari kesempatan. Akan tetapi, bagi perempuan yang masih terhalang ekonomi, dukungan keluarga, dan hambatan struktural lainnya, semangat saja tentu saja tidak cukup untuk membuka pintu yang masih terkunci. Momen kemerdekaan ini menjadi titik balik kita bersama untuk saling mendukung dan membantu membuka akses bagi perempuan lain yang ingin bersekolah lagi. Sehingga, merayakan kemerdekaan ke-81 tidak berhenti pada mereka yang beruntung untuk bersekolah lagi, tapi juga menjadi pengingat agar bisa memastikan bahwa pintu pendidikan bisa terbuka bagi siapa saja dan kapanpun waktunya.
Pada akhirnya, kembali bersekolah lagi merupakan keputusan yang tidak mudah bagi perempuan. Ini bukan berkaitan untuk menjadi yang paling hebat, tapi siapa yang mau belajar dan hadir untuk memperjuangkan keadaan yang lebih baik. Penting sekali untuk bisa mendapatkan lingkungan yang mendukung untuk bisa termotivasi dan bahu-membahu menghadapi tantangan tersebut. Oleh karena itu, PhD mama Indonesia bisa menjadi komunitas yang suportif untuk perempuan memperjuangkan cita-cita sekolah yang mungkin sudah terpendam.
Kamu bisa mengeksplorasi cerita-cerita semangat perempuan yang melanjutkan sekolah dan berbagai isu pendidikan lainnya. Setiap tulisan punya cerita dan sudut pandang yang berbeda. Jelajahi berbagai tulisan lainnya di phdmamaindonesia.com!
