Belajar, Bertumbuh, dan Berjejaring: Kisah di Balik Fellowship

Salam 24 jam mama hebat di seluruh belahan bumi! 

Pada artikel kali ini, tim blog PhD Mama Indonesia mendapat kesempatan untuk mendengarkan cerita dari Ria Oktorina yang baru saja mengikuti program Indo-Pacific Futures Fellowship. Selamat menikmati kisahnya! 

Mengapa ingin ikut fellowship?
Saya mendaftar Indo-Pacific Futures Fellowship karena program ini sangat dekat dengan pengalaman dan minat saya. Saya adalah perencana di Bappeda Provinsi Sumatera Barat, yang sedang menempuh studi doktoral di bidang perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan di IPB University. Selain itu, saya berpengalaman di isu pangan, gizi, perempuan, anak, dan respons bencana melalui kerja sosial di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.

Lebih lanjut, tema yang ditawarkan oleh fellowship ini sangat relevan dengan bidang kerja saya, yaitu food security, energy system, sustainability, leadership, dan masa depan kawasan Indo-Pacific. Dari fellowship ini, saya ingin mempelajari proses isu-isu besar ditelaah dari berbagai aspek, termasuk di dalamnya telaah dari sisi masyarakat, budaya, kepemimpinan, dan resiliensi lokal. Bagi saya, kesempatan ini bukan sekadar jalan ke luar negeri, tetapi ruang untuk memperluas cara pandang, menguji pengalaman lokal dari Indonesia, dan belajar dari pemimpin-pemimpin muda maupun profesional dari berbagai negara.

Darimana mengetahui informasi tentang fellowship?
Sejujurnya saya agak lupa detail pastinya, tetapi kalau tidak salah saya pertama kali mengetahui informasi ini dari salah satu akun Instagram yang sering membagikan informasi tentang kesempatan mengikuti fellowship, short course, scholarship, dan leadership program. Saya memang cukup rutin mengikuti beberapa akun seperti itu, karena menurut saya kesempatan-kesempatan seperti ini sering muncul dari informasi kecil yang lewat di media sosial.

Jadi salah satu tips saya adalah rajin mengikuti akun-akun opportunity yang kredibel, lalu kalau ada program yang cocok dengan pengalaman dan arah kerja kita, jangan hanya disimpan, tetapi benar-benar dibaca syaratnya dan dicoba.

Apa saja persyaratan untuk mengikuti seleksi fellowship?
Pada waktu saya mendaftar, aplikasi fellowship ini cukup lengkap. Ada formulir aplikasi yang harus diisi dengan serius, termasuk pertanyaan-pertanyaan esai, motivation statement, pengalaman kepemimpinan, dan alasan kecocokan untuk mengikuti program tersebut.

Selain itu, ada referensi dari orang yang mengenal kerja kita. Waktu itu saya mencantumkan nama dan email pemberi rekomendasi. Selanjutnya, pihak penyelenggara mengirimkan pertanyaan langsung kepada mereka untuk dijawab. Oleh karena itu, penting sekali memilih pemberi referensi yang benar-benar memahami kapasitas, rekam jejak, dan kontribusi kita.

Saya juga diminta untuk membuat video pendek berbahasa Inggris tentang diri kita, motivasi mendaftar, dan mengapa kita layak dipilih. Menariknya, program ini tidak mewajibkan TOEFL atau IELTS, tetapi tentu kemampuan berbahasa Inggris tetap penting karena proses seleksi dan programnya berjalan dalam bahasa Inggris. Jadi yang saya siapkan bukan hanya dokumen, tetapi juga narasi: siapa saya, isu apa yang saya bawa, pengalaman apa yang relevan, dan kontribusi apa yang bisa saya berikan kepada cohort.

Bagaimana persiapan keberangkatan bagi awardee fellowship?

Saat tahu diterima, persiapan keberangkatannya cukup banyak karena program ini bukan program singkat satu kali berangkat saja. Programnya berlangsung selama beberapa bulan, dengan kombinasi residensi di Hawai‘i, sesi virtual hampir setiap bulan, dan convening penutup di Wellington, New Zealand.

Persiapan pertama adalah komitmen waktu. Karena saya juga punya peran sebagai mahasiswa doktoral, ibu, dan anggota keluarga, serta sebagai relawan di komunitas, saya harus mengatur jadwal sejak awal. Sesi virtual perlu diprioritaskan, begitu juga masa residensi yang membutuhkan kehadiran penuh.

Persiapan kedua adalah administrasi dan teknis perjalanan, seperti visa, paspor, dokumen program, formulir yang diminta, asuransi, tiket, akomodasi, serta kebutuhan perjalanan. Saya juga mempelajari tempat yang akan dikunjungi, termasuk cuaca, budaya, aturan berpakaian, dan konteks sosial masyarakat setempat.

Narasumber di Honolulu, Hawaii, Program Residensi (dok. pribadi)

Persiapan ketiga adalah kesiapan mental dan substansi. Saya membaca agenda, memahami tema program, menyiapkan diri untuk berdiskusi dalam bahasa Inggris, serta memikirkan apa yang bisa saya bawa sebagai peserta dari Indonesia. Karena saat menjadi fellow, kita tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa konteks negara, daerah, dan isu yang selama ini kita kerjakan.

Manfaat apa saja yang diperoleh dari fellowship?

Manfaat yang saya dapat dari Indo-Pacific Futures Fellowship ini sangat banyak, baik secara finansial, pengalaman, jejaring, maupun pengembangan diri.

Pertama, program ini sangat membantu karena praktis fully funded untuk komponen utama program. Biaya perjalanan, visa, akomodasi selama program resmi, dan kebutuhan utama selama kegiatan ditanggung atau direimburse sesuai ketentuan program. Yang menarik, untuk perjalanan peserta juga bisa memilih apakah tiket diatur oleh pihak program atau membeli sendiri lalu direimburse sesuai batas budget yang mereka tetapkan. Kondisi ini cukup fleksibel, karena selama tetap sesuai aturan dan tidak mengganggu jadwal program, kita bisa mengatur perjalanan dengan lebih strategis, misalnya jika ingin menyesuaikan transit atau agenda lain sebelum atau sesudah kegiatan resmi.

Kedua, benefit terbesarnya adalah exposure. Saya mendapat kesempatan belajar langsung di dua lokasi yang sangat kaya secara budaya dan ekologis, yaitu Hawai‘i dan Wellington, New Zealand. Di Hawai‘i, kami tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga diajak melihat langsung bagaimana masyarakat lokal memaknai alam, budaya, pangan, energi, dan resiliensi. Salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya adalah kunjungan ke Big Island, melihat lanskap lava, dan belajar bahwa alam bukan hanya objek pembangunan, tetapi bagian dari kehidupan, identitas, spiritualitas, dan cara masyarakat bertahan.

Bahkan kami para peserta suka berseloroh bahwa fellowship ini bukan hanya leadership journey, tetapi juga semacam spiritual journey. Bukan spiritual dalam arti ritual keagamaan tertentu, tetapi perjalanan batin yang membuat kita lebih rendah hati saat berhadapan dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal. Ketika melihat lanskap lava di Big Island, mendengar cerita masyarakat setempat tentang tanah, laut, pangan, energi, dan leluhur mereka, saya merasa pembelajaran tentang sustainability menjadi jauh lebih dalam. Kita tidak hanya diajak berpikir tentang masa depan secara teknis, tetapi juga diajak bertanya ulang: bagaimana manusia seharusnya hidup bersama alam, bagaimana kebijakan seharusnya menghormati budaya, dan bagaimana kepemimpinan seharusnya berangkat dari rasa hormat, bukan sekadar ambisi perubahan.

Di depan Marae, kompleks tempat berkumpulnya masyarakat adat Māori (dok. probadi)

Ketiga, program ini membuka akses belajar dari orang-orang penting dan tempat-tempat yang tidak mudah dijangkau kalau kita datang sendiri sebagai wisatawan. Kami bertemu dengan praktisi, pemimpin komunitas, akademisi, pembuat kebijakan, dan organisasi lokal yang bekerja langsung pada isu food security, energy system, indigenous knowledge, sustainability, dan resilience. Jadi pembelajarannya tidak berhenti pada teori, tetapi benar-benar mempertemukan kita dengan orang dan tempat yang sedang mengerjakan perubahan.

Keempat, saya belajar banyak tentang leadership dengan cara yang berbeda. Program ini tidak hanya mengajarkan kepemimpinan sebagai konsep besar, tetapi juga sebagai kemampuan mendengar, hadir secara mindful, berefleksi, dan menghargai pengalaman orang lain. Di setiap kegiatan, kami tidak sekadar ditanya “apa materinya?”, tetapi “apa yang kamu rasakan?”, “apa yang kamu pelajari?”, “apa yang berubah dari cara pandangmu?”. Buat saya ini sangat berharga, karena kita dilatih untuk tidak hanya pintar bicara, tetapi juga mampu mendengar, memahami konteks, dan merespons dengan lebih bijak.

Kelima, saya mendapat skill baru dalam narrative framing dan storytelling. Salah satu sesi yang berkesan adalah belajar bagaimana menyampaikan isu dengan cara yang lebih kuat, manusiawi, dan bisa menggerakkan orang. Hal ini penting sekali, karena sering kali kita punya data, pengalaman, dan ide yang bagus, tetapi belum tentu mampu membingkainya menjadi narasi yang menyentuh dan meyakinkan. Dari sesi seperti ini saya belajar bahwa kepemimpinan juga membutuhkan kemampuan menyampaikan cerita perubahan. Saya juga belajar tentang futures thinking, yaitu bagaimana membaca masa depan bukan sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mulai kita bayangkan, diskusikan, dan rancang sejak sekarang. Ini sangat relevan dengan pekerjaan saya sebagai perencana pembangunan dan mahasiswa doktoral, karena kita tidak hanya bicara kondisi hari ini, tetapi juga bagaimana masyarakat, wilayah, pangan, energi, dan lingkungan bisa lebih siap menghadapi masa depan.

Keenam networking-nya luar biasa. Saya bertemu dengan fellows dari berbagai negara di kawasan Indo-Pacific, dengan latar belakang yang sangat beragam: pemerintah, NGO, akademisi, entrepreneur, dan pegiat komunitas. Menariknya, jejaring ini tidak berhenti ketika program selesai. Sampai sekarang kami masih saling berbagi informasi, cerita, dan update melalui grup WhatsApp. Jadi, fellowship ini bukan hanya program beberapa bulan, tetapi juga jembatan relasi jangka panjang.

Bagi saya pribadi, fellowship ini juga memperkaya cara berpikir saya tentang riset dan pekerjaan. Saya sedang meneliti kelembagaan lokal dan resiliensi wilayah di Sumatera Barat, dan pengalaman mengikuti program ini membuat saya semakin melihat pentingnya budaya, komunitas, alam, dan kepemimpinan lokal dalam pembangunan. Jadi, benefit-nya bukan hanya pengalaman internasional, tetapi juga cara pandang baru yang bisa saya bawa pulang untuk kerja, riset, dan kontribusi saya di Indonesia.

Di Wellington, Aoeteroa, New Zealand, Penutupan Residensi (dok. pribadi)

Apakah fellowship dapat diikuti oleh perempuan di segala lapisan?

Tentu! Program ini dapat diikuti oleh perempuan semua usia. Berdasarkan pengalaman saya, program ini sangat terbuka dan tidak membatasi peserta berdasarkan gender. Bahkan di cohort saya, peserta perempuan cukup dominan. Ini menunjukkan bahwa perempuan sangat punya ruang dalam program leadership seperti ini.

Namun, bukan berarti programnya tanpa syarat sama sekali. Yang dilihat bukan semata-mata usia, gelar, atau jabatan, tetapi rekam jejak, pengalaman kepemimpinan, isu yang dibawa, kontribusi di masyarakat atau sektor masing-masing, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dan komitmen mengikuti seluruh rangkaian program. Jadi menurut saya, perempuan dengan latar belakang apa pun sangat bisa mencoba, sepanjang ia punya pengalaman, isu yang jelas, komitmen belajar, dan keberanian untuk membawa perspektifnya ke ruang internasional.

Pesan saya jangan menunggu merasa “terlalu siap”. Kadang kita merasa pengalaman kita biasa saja, padahal justru pengalaman lokal, kerja komunitas, dan isu yang kita rawat bertahun-tahun bisa menjadi kekuatan yang sangat bernilai di forum seperti ini.

Narasumber Ria Oktorina merupakan mahasiswi doktoral Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan, IPB University. Artikel ditulis oleh Ria Oktorina dan diedit oleh Inna Ar dan Shiva Devy untuk PhD Mama Indonesia. Ria dapat dihubungi via IG @oktorinaria

Leave a comment