Perkenalkan, saya Yustina. Saya adalah seorang ASN di Badan POM. Saat ini saya sedang menempuh studi PhD di bidang Cancer and Pharmaceutical Science di King’s College London. Banyak orang mengira tantangan terbesar seorang ASN yang ingin melanjutkan studi adalah mendapatkan beasiswa, mencapai skor IELTS atau TOEFL yang dipersyaratkan, atau memperoleh izin belajar dari instansi yang untuk mendapatkannya sangatlah tidak mudah, baik bagi ASN pusat, apalagi ASN daerah. Saya tidak bilang semua tahap yang saya sebutkan di atas itu mudah. Namun, setelah berhasil melewati berbagai tahapan yang melelahkan dan sendirian, saya justru menyadari bahwa tantangan terbesar sebenarnya bukanlah pada proses seleksinya. Tantangan terbesar bagi seorang mahasiswa PhD adalah berani menjadi pemula lagi saat studi PhD dimulai.

Pengalaman bekerja bertahun-tahun membentuk diri menjadi terbiasa dengan pola pekerjaan, sehingga hal tersebut menjadi rutinitas. Pengalaman saya selama lebih dari 18 tahun berkecimpung di bidang analisis kosmetik serta implementasi regulasi global maupun nasional di bidang kosmetik pun turut menjadikan saya terbiasa dengan ritme kerja. Durasi bekerja ini, membuat kecenderungan yang sama yang mungkin dialami juga oleh teman-teman sesama ASN maupun non-ASN. Kita tahu ke mana harus mencari jawaban, terbiasa memberikan masukan dalam rapat, menjadi tempat bertanya bagi rekan kerja, bahkan dipercaya untuk mengambil keputusan penting. Identitas sebagai seorang profesional perlahan melekat pada diri kita.
Lalu, ketika kita sudah memulai studi PhD, pada suatu hari, kita kembali duduk di ruang kelas. Tidak ada lagi yang mengenal rekam jejak kita. Tidak ada yang peduli berapa lama kita sudah bekerja atau jabatan apa yang pernah kita emban di Tanah Air. Penting untuk dipahami bahwa ketika kita kembali menjadi mahasiswa baru, kita menjadi orang baru yang belajar beradaptasi di lingkungan dan budaya akademik yang baru, hingga berbagai istilah yang juga baru kita ketahui dan belum pernah kita dengar sebelumnya.
Saya masih ingat bagaimana pada minggu-minggu pertama menjalani studi doktoral, hampir setiap hari saya berhadapan dengan puluhan artikel ilmiah yang dipenuhi istilah-istilah baru. Tidak jarang saya harus membuka kamus atau mencari arti sebuah istilah yang ternyata sangat umum bagi para peneliti di bidang tersebut. Bahkan, untuk memahami satu paragraf saja, saya perlu berhenti beberapa kali agar benar-benar menangkap konteksnya.
Pengalaman serupa juga saya rasakan saat mulai mengerjakan eksperimen di laboratorium. Saya melihat rekan-rekan lain begitu terbiasa menggunakan berbagai teknik dan instrumen yang bagi saya masih terasa asing. Di tengah proses belajar itu, saya beberapa kali harus mengajukan pertanyaan yang menurut saya sangat mendasar, bahkan sempat khawatir terdengar “bodoh”. Namun, saya kemudian menyadari bahwa bertanya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar.
Beruntung, saya dibimbing oleh dua supervisor yang sangat baik, profesional, suportif, dan penuh pengertian. Mereka memahami bahwa saya berasal dari latar belakang yang berbeda. Meskipun memiliki pengalaman bertahun-tahun di bidang regulasi dan analisis kosmetik, saya memasuki penelitian doktoral ini melalui jalur lintas disiplin, sehingga banyak konsep dan teknik yang harus saya pelajari dari awal.

Perlahan saya menyadari bahwa fase ini bukan hanya tentang mempelajari ilmu baru, tetapi juga tentang menyesuaikan cara memandang diri sendiri. Berada di lingkungan yang dipenuhi orang-orang dengan keahlian luar biasa membuat saya kembali berada pada posisi sebagai pembelajar. Ada banyak hal yang sebelumnya terasa mudah kini harus dipelajari dari awal, dan itu ternyata tidak selalu nyaman.
Jujur, ada kalanya saya merasa insecure. Saya membandingkan diri dengan rekan-rekan yang tampak begitu fasih berdiskusi, memahami konsep-konsep yang bagi saya masih asing, atau begitu percaya diri dalam menggunakan berbagai teknik di laboratorium. Perasaan itu sempat membuat saya bertanya-tanya, “Apakah saya benar-benar cukup mampu berada di sini?”
Namun, perlahan saya mencoba mengubah cara memandang rasa tidak percaya diri tersebut. Alih-alih menganggapnya sebagai tanda bahwa saya tidak cukup baik, saya memilih melihatnya sebagai pengingat bahwa masih banyak hal yang perlu saya pelajari. Rasa insecure itu justru menjadi dorongan bagi saya untuk lebih banyak membaca, lebih sering bertanya, dan lebih terbuka terhadap pengetahuan maupun pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah saya temui.
Dalam salah satu sesi one-on-one meeting bersama supervisor, saya sempat bercerita kepada beliau tentang betapa overwhelming-nya saya dalam menjalani minggu-minggu pertama sebagai mahasiswi PhD. Saat itu beliau tersenyum dan berkata,
“Knowing nothing is not a big deal. That’s why you go for a PhD!”
Kalimat sederhana itu benar-benar mengubah cara pandang saya. Saya menyadari bahwa tujuan studi doktoral bukanlah untuk membuktikan bahwa kita sudah mengetahui banyak hal. Justru sebaliknya, PhD adalah ruang untuk mengakui bahwa masih ada begitu banyak hal yang belum kita pahami, lalu dengan rendah hati terus belajar, bertanya, dan bertumbuh. Mungkin, keberanian terbesar dalam melanjutkan studi bukanlah merasa sudah siap, melainkan tetap melangkah meski menyadari masih banyak hal yang belum kita ketahui.
Saya kemudian menyadari bahwa menjadi mahasiswa lagi bukan sekadar kembali belajar teori. Ini adalah latihan untuk kembali memiliki beginner’s mindset, kerendahan hati untuk mengakui bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui, serta keberanian untuk terus bertanya dan belajar. Ironisnya, semakin lama seseorang bekerja, semakin sulit rasanya menjadi pemula lagi. Hal ini bukan karena kemampuan kita berkurang, tetapi karena identitas sebagai “orang yang sudah tahu” sering kali membuat kita takut terlihat tidak tahu. Ketakutan inilah yang bisa menghambat kita untuk bertumbuh. Ada yang relate?!.
Padahal, justru di situlah pertumbuhan terjadi.
Bagi banyak perempuan ASN, perjalanan ini sering kali terasa lebih rumit. Kita tidak hanya meninggalkan rutinitas pekerjaan, tetapi juga keluar dari zona nyaman yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Di saat yang sama, tidak sedikit dari kita yang masih berhadapan dengan pandangan bahwa setelah menikah atau memiliki keluarga, pendidikan bukan lagi prioritas utama bagi perempuan. Di tengah berbagai peran yang dijalani sebagai profesional, istri, dan ibu, keputusan untuk kembali ke bangku kuliah sering kali menuntut keberanian yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Kita belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, cara berpikir yang berbeda, dan standar akademik yang jauh lebih menantang, sambil tetap menjalankan tanggung jawab yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa melanjutkan studi bukan semata-mata tentang mengejar gelar yang lebih tinggi. Gelar hanyalah salah satu hasil dari sebuah perjalanan. Yang jauh lebih berharga adalah proses yang membentuk kita selama menjalaninya: keberanian untuk kembali menjadi pemula, kerendahan hati untuk terus belajar, dan kesediaan untuk terus bertumbuh, bahkan ketika kita sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun. Karena pada akhirnya, ukuran seseorang yang benar-benar belajar bukanlah seberapa banyak yang sudah ia ketahui, melainkan seberapa besar kerendahan hatinya untuk mengakui bahwa masih ada begitu banyak hal yang belum ia pahami.
Narasumber Yustina merupakan mahasiswi PhD di bidang Cancer and Pharmaceutical Science di King’s College London. Artikel ditulis oleh Yustina dan diedit oleh Shiva Devy untuk PhD Mama Indonesia.
