Farah Bachtiar: Tentang pilihan perempuan, mencari jodoh dan mengejar PhD

Setelah vakum cukup lama, berikut obrolan saya dengan Farahdiba Bachtiar, yang biasa dipanggil Diba, tentang serba-serbi kehidupannya sebagai seorang perempuan muda lajang dan juga kandidat PhD di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Melbourne, Australia.

Apa yang mendorong Diba utk studi PhD diusia yg terbilang cukup muda – belum 30 tahun?

Ya Mbak, terus terang aku punya ketertarikan yang besar terhadap ilmu Hubungan Internasional (HI). Sejak kuliah S1 sudah suka sekali dengan kajian HI, suka juga membaca buku dan berdiskusi terkait isu-isu global, yang semuanya menjadi pendorong terbesar mengapa ingin kuliah lagi. Dulu sih nggak mikir waktu mau sekolah lagi, motivasinya pengen belajar aja. Soalnya aku bukan tipe yang bisa belajar tanpa ruang kelas dan guru. Harus ada yang menginstruksi.

Perempuan seusia Diba banyak yang sudah menikah dan berkeluarga. Apa respon Diba terhadap komentar bahwa perempuan lajang berpendidikan tinggi apalagi Doktor akan sulit menemukan jodoh?

Terus terang komentar itu tidak berpengaruh sih, Mbak. Aku tidak pernah menakutkan itu sama sekali. Makanya aneh ketika orang pada ribet mikirin jodohku, hehehe.

Urusan jodoh adalah urusan di luar kehendak manusia, tidak berkorelasi dengan pendidikan. Ada banyak faktor lain juga yang menentukan.

Saat mempresentasikan riset PhD di Asian Politics, Economics and Law Conference di Kobe, Jepang

Bagaimana komentar para lelaki lajang tentang perempuan lajang berprestasi – apa betul mereka “takut”?

Berdasarkan hasil diskusi dengan banyak teman lajang laki-laki, aku belajar bahwa ternyata kekhawatiran itu ada. Mereka –meski tidak semua, berpandangan bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi misalnya memiliki ego yang besar. Sehingga membuat mereka sulit diatur, lebih mudah memberontak dan membangun superioritas.

Tapi, sebagaimana kompleksnya masyarakat, aku melihat ketakutan itu salah satunya dipengaruhi oleh alasan-alasan emosional dan karakter individu yang bersangkutan. Ada banyak pula laki-laki yang bisa berpikir lebih rasional dan tidak tenggelam dalam ketakutan. Dan ternyata tidak selalu juga orang yang berpikir rasional itu memiliki pendidikan tinggi. Pengamatan pribadiku malah laki-laki dengan tingkat prestasi atau pendidikan tinggilah yang punya ekspektasi bahwa perempuan harus satu ‘level’ di bawah mereka, hehe.

Apa pandangan Diba tentang peranan perempuan pada umumnya – antara berkeluarga dan mengejar cita-cita?

Ya selama ini kan wacana yang dibangun di masyarakat adalah bahwa perempuan harus memilih salah satu diantara dua pilihan itu. Walaupun menurutku memang tidak semua perempuan memiliki kemampuan untuk mengelola keluarga dan cita-cita secara seimbang. Tapi bagi aku disinilah inti permasalahan dalam masyarakat kita.

Kita sering lupa bahwa perempuan perlu diberi pilihan. Apakah mereka ingin menjalani keduanya atau memilih salah satu. Aku melihat ada banyak sekali sosok-sosok di sekitar kita yang bisa membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan beriring. Aku melihat itu minimal dari ibuku, dan itu yang membuat aku ingin melakukan hal sama.

Bukan karena mau membuktikan apa-apa sih, tapi karena memang menurut aku, aku butuh keduanya.

Apa yang perlu dilakukan terkait cara pandang yang demikian?

Barangkali kita perlu merubah cara berpikir orang. Sebenarnya jika ditelusuri lebih dalam, budaya dan agama tidak menyudutkan perempuan terkait peranannya. Ada aturan memang, tapi aturan itu juga mempertimbangkan kebaikan perempuan dan masyarakat.

Dilain sisi, orang sering lupa sekarang banyak pintu yang terbuka lebar untuk kontribusi perempuan diluar urusan rumah tangga. Memang, perempuan di masa lalu kerjanya terbatas pada urusan domestik. Ya, karena saat itu masyarakat belum mengenal teknologi seperti sekarang, lembaga serta kondisi masyarakat masih sederhana.

Kalau sekarang kan sudah tidak relevan lagi seperti itu, di rumah pun perempuan sudah memiliki berbagai fasilitas dan pilihan berkegiatan. Masyarakat masa kini mestinya bisa melihat poin itu.

Jalan-jalan setelah presentasi bersama teman-teman

Diba asli dari Makassar ya, kalau tradisi Makassar sendiri, apakah perempuan cukup didukung untuk mengejar cita-citanya?

Menurut aku iya jika berkaca pada pengalaman aku dan adikku, walau mungkin kami tidak cukup representatif untuk mewakili masyarakat Bugis Makassar yang besar dan beragam.

Tetapi, prinsip hidup “kualleangi tallang na taoalia” (pantang biduk surut ke pantai) yang aku terjemahkan sebagai prinsip “pantang menyerah” tertanam kuat dalam diri anak-anak perempuan Makassar.

Ibu aku menggunakan itu sebagai prinsip hidupnya dan itu ‘turun’ kepada kami anak-anak perempuannya. Ibu dalam konteks masyarakat Makassar punya peran besar dalam menanamkan nilai-nilai dan nilai pantang menyerah serta tangguh itulah yang yang beliau turunkan pada anak-anak.

Serunya kegiatan roundtable discussion bersama penerima beasiswa LPDP di Melbourne bersama Prof Denny Indrayana

Apa rencana Diba setelah selesai studi?

Rencanaku adalah kembali mengabdi di Makassar. Menepati janji untuk berkontribusi ke daerah asal. Bukan karena tuntutan program beasiswa semata sih. Tapi, terkadang aku miris melihat bahwa orang-orang yang punya kesempatan mendapat privilege berpendidikan ternyata menjadi oportunis, lupa pada janji membangun daerah. Akhirnya daerah kekurangan orang-orang yang mau membangun dari nol.

Itulah mengapa penelitian S3 aku sangat berkorelasi dengan daerah. Aku meneliti tentang ekspansi BUMN yang mendunia yakni PT Semen Indonesia. Sesederhana karena aku melihat ada perubahan pada peta investasi asing di dunia yang dilakukan oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Perubahan konstelasi ekonomi politik itulah yang menjadi kajian riset aku. Sebagai anak daerah yang berasal dari kawasan penghasil semen, aku merasa bahwa kajian HI mestinya bisa lebih membumi. Karena itulah aku memilih meneliti tentang PT Semen Indonesia.

Sukses terus ya, Diba!

Terima kasih, Mbak.

**Foto-foto adalah dokumentasi pribadi dan atas seizin Bayun Binantoro.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s