Perempuan Terdidik di Tengah Jeratan Stigma Sosial

Angka pernikahan perempuan di Indonesia terus menunjukan penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data Badan Pusat Statistik 2024, penurunan angka pernikahan paling drastis terjadi pada tahun 2021-2024 dengan penyusutan sebanyak 2 juta pertahun. Pada tahun 2018, angka pernikahan ada di angka 2.016.171, dan pada tahun 2023 angka pernikahan menyusut di angka 1.577.255 jiwa. Angka tersebut kembali menurun di tahun 2024, yakni di angka 1.478.302 jiwa (CNN Indonesia). 

Tren penurunan angka pernikahan kini terjadi di berbagai belahan dunia.  Negara-negara Asia seperti Jepang, Cina, dan Korea Selatan juga mengalami fenomena serupa. Data Statistik Korea menunjukkan bahwa hanya 27,5 persen perempuan muda berusia 20-an yang menyatakan bersedia untuk menikah. Angka ini berarti bahwa hanya satu dari empat perempuan muda di Korea Selatan yang masih memiliki keinginan untuk menikah (CNBC Indonesia).

Penurunan angka pernikahan setiap tahun berdampak pada menurunnya angka kelahiran dalam setiap tahun. Data BPS tahun 2020 menunjukkan bahwa Total Fertility Rate (TFR) Indonesia tercatat sebesar 2,10, yang berarti rata-rata setiap perempuan Indonesia akan melahirkan dua anak selama masa reproduksinya. Secara keseluruhan dalam 10 tahun terakhir BPS mencatat adanya penurunan angka kelahiran sebesar 0,39 poin. Tren yang sama juga terjadi secara global. Menurut World Fertility Report 2024, angka kelahiran global terus mengalami penurunan drastis dari yang sebelumnya 4,8 kelahiran per perempuan pada tahun 1970, menjadi 2,2 per perempuan pada tahun 2024. Angka ini diperkirakan akan terus mengalami penurunan hingga 1,8 kelahiran per perempuan pada tahun 2100 (bincangperempuan.com). 

Berbanding terbalik dengan angka pernikahan dan kelahiran anak yang terus mengalami penurunan, angka perempuan terdidik justru mengalami kenaikan yang signifikan. Data BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa penduduk perempuan mendominasi kelompok usia sekolah 7–23 tahun, dengan tingkat partisipasi mencapai 75,76 persen, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang berada pada angka 73,26 persen.

Tingkat kelulusan perempuan di perguruan tinggi juga terlihat lebih tinggi, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Di perkotaan, persentase perempuan yang menyelesaikan pendidikan tinggi mencapai 14,08 persen, sementara laki-laki berada pada angka 12,69 persen. Di pedesaan, persentase perempuan lulusan perguruan tinggi mencapai 6,30 persen, sedangkan laki-laki hanya 4,86 persen (Kompas.com).

Menurut dosen sosiologi Universitas Padjadjaran, Farah Firsanty, fenomena tersebut dinamakan reversal of gender inequalities in higher education. Menurutnya, fenomena tersebut tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global khususnya di negara-negara maju. Ia menambahkan, hari ini perempuan semakin sadar bahwa peran di ranah domestik juga memerlukan skill. Di sisi lain, fenomena tersebut bisa terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor seperti faktor demografik, sosiologis, ekonomik, dan edukasional.

Dari aspek demografik, standar usia menikah cenderung mengalami peningkatan dikarenakan mudahnya akses informasi dan teknologi. Sementara dari aspek sosiologis, diskriminasi terhadap perempuan mengalami penurunan. Dari aspek ekonomi, banyak perempuan yang lulus di perguruan tinggi mendapatkan gaji yang lebih tinggi (Kumparan). 

Menurut Farah Firsanty, stigma perempuan terdidik sudah mulai memudar di masyarakat. “Nggak apa-apa kuliah tinggi terus ujung-ujungnya ke rumah jadi ibu dan jadi istri. Emang kenapa? Kan mereka (laki-laki) layak memiliki ibu atau istri yang juga berpendidikan,” ujarnya seperti dikutip dari Kumparan. 

Terkait stigma terhadap perempuan terdidik, Deputi Direktur PhD Mama Indonesia Fitri Hariana Oktaviani, memberikan pandangan yang berbeda. Menurutnya, meskipun akses pendidikan semakin terbuka, perempuan masih menghadapi banyak tantangan yang memerlukan perhatian serius. Ia menilai bahwa perempuan kerap tidak mendapatkan dukungan memadai baik secara struktural, kebijakan, maupun dari lingkungan pertemanannya. Perempuan terdidik sering distigma egois dan tidak mementingkan keluarga. Fitri percaya bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk terus mengembangkan dirinya, tetapi kenyataannya banyak perempuan yang justru dihalangi, dilabeli dengan berbagai stigma negatif maupun diberikan beban tambahan.

Sebagaimana dilansir oleh BPS, angka perempuan terdidik semakin meningkat, tetapi hal tersebut baru sampai di level S1 dan terus mengalami penurunan di level S2 dan S3. Hal ini dikarenakan oleh adanya stigma sosial di masyarakat terkait perempuan terdidik yang seringkali membatasi pergerakan perempuan terlebih setelah menikah dan memiliki anak.  

Data statistik menunjukkan bahwa meskipun partisipasi perempuan di pendidikan tinggi semakin meningkat, masih ada hambatan yang menghalangi untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” papar Fitri seperti yang dikutip dari Bandungbergerak.id. 

Stigma perempuan terdidik tidak saja dialamatkan untuk perempuan yang sudah berkeluarga tetapi juga ditujukan kepada perempuan lajang yang memilih untuk mengendepankan pendidikan. Bagi masyarakat, perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi karena akan berujung menjadi ibu rumah tangga. Perempuan yang masih lajang karena mengejar pendidikan akan terus diteror masyarakat dengan pertanyaan personal seperti kapan menikah, disebut terlalu pemilih sehingga laki-laki takut, atau bahkan ditakut-takuti bahwa perempuan tidak bisa memiliki anak jika menikah terlalu tua.

Sebaliknya, dalam kondisi serupa, laki-laki lajang yang memilih untuk fokus pendidikan tidak mendapatkan tekanan serupa dan dianggap lumrah. Hal ini membuktikan adanya bias gender di masyarakat, yang seringkali menjadi kekangan bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan di level yang lebih tinggi. 

Referensi:

Artikel ini ditulis oleh Chusnul C, diedit oleh Ika Arira untuk PhD Mama Indonesia.

One thought on “Perempuan Terdidik di Tengah Jeratan Stigma Sosial

  1. Menarik sekali membaca artikel ini. Disatu sisi cukup melegakan bahwa angka perempuan yang menikah mulai menurun. Disatu sisi, mengiyakan bahwa perempuan yang memutuskan untuk menempuh pendidikan yang cukuo tinggi akan menghadapi teror ditanya kapan menikah dan “ditakut2i” : nanti kalau kuliah terus, laki2 takut mendekati. Menulis ini dari pengalaman pribadi 😃

    Like

Leave a comment