Dari Bekasi ke Sheffield: Perjalanan PhD Mama ke Inggris Bersama Keluarga

“Dukungan emosional, kebersamaan, dan stabilitas selama masa studi merupakan penyeimbang bagi kehidupan riset yang cukup menantang.”

Saya Retty, bagi saya melanjutkan studi PhD sering kali bukan hanya keputusan akademik, tetapi juga keputusan keluarga. Tekad ini juga sudah tertanam sejak awal saya melamar beasiswa S3 luar negeri melalui LPDP pada tahun 2023 silam. Kebijakan LPDP yang memberikan tunjangan keluarga bagi penerima beasiswa doktoral membuat rencana saya terasa lebih masuk akal, agar keluarga tetap bersama dalam perjalanan studi yang cukup panjang. Namun, keputusan ini membawa konsekuensi teknis dan finansial yang perlu dipikirkan matang. 

Mengapa membawa keluarga?

Saya diterima menjadi mahasiswa PhD di University of Sheffield pada School of Medicine and Population Health dengan durasi studi maksimal empat tahun. Hal ini membuat keputusan saya untuk membawa keluarga semakin bulat. Bagi saya, dukungan emosional, kebersamaan, dan stabilitas selama masa studi merupakan penyeimbang bagi kehidupan riset yang cukup menantang. Selain itu, latar belakang non-akademisi menjadi tantangan tersendiri untuk menjalani studi ini. 

Keputusan saya membawa keluarga untuk studi, tentunya harus siap dengan berbagai urusan, seperti visa, biaya hidup, sekolah anak, asuransi kesehatan, akomodasi, hingga kesiapan keluarga untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.  

Aturan dasar: Siapa yang ikut?

Bersamaan dengan proses pencarian Letter of Acceptance, saya mencari tahu aturan tentang membawa keluarga ke Inggris. Beberapa perubahan kebijakan keimigrasian sejak tahun 2024, diantaranya adalah tidak semua mahasiswa diperbolehkan membawa keluarga atau dependants, yaitu pasangan (suami, istri, atau partner) dan anak-anak di bawah usia 18 tahun. Sebelum keberangkatan, seluruh dokumen hubungan keluarga (akta nikah, akta lahir anak) sudah diterjemahkan resmi (certified translation).

Persiapan biaya

Bagian pengurusan  visa sempat membuat saya pusing dan tegang karena sejak 2025, biaya visa dan Immigration Health Surcharge (IHS) meningkat cukup signifikan. Kini, tarif IHS untuk anak dan dewasa sama, yaitu £1,035 per orang per tahun. 

Berikut rincian dana yang saya keluarkan untuk pengurusan visa:

  1. Tes tuberkulosis (TB) sebagai syarat pendaftaran visa: Rp 760.000 per orang (anak di bawah 12 tahun =Rp 365.000).
  2. Biaya IHS : £3,492 per orang
  3. Biaya pendaftaran visa: $737 (tagihan dalam US Dollar) per orang

Dengan durasi studi empat tahun, keluarga beranggotakan empat orang perlu menyiapkan dana cukup besar hanya untuk komponen ini. Selain itu, setiap pemohon visa perlu menyiapkan bukti dana (bank statement) yang mengendap minimal 28 hari, sesuai ketentuan. Bagi penerima beasiswa LPDP, dokumen Letter of Guarantee bisa juga disiapkan sebagai dokumen pendukung. Bukti pengendapan dana ini tidak selalu diminta untuk ditunjukkan pada saat pengurusan visa, namun terdapat peluang untuk pengecekan random.

Mengingat LPDP hanya menanggung biaya pengurusan visa dan IHS untuk penerima beasiswa, maka biaya keluarga perlu direncanakan secara mandiri. Selain itu, skema yang digunakan merupakan reimbursement, sehingga biaya ini perlu dipersiapkan dan dibayarkan dahulu oleh penerima beasiswa.

Setelah urusan visa selesai, selanjutnya, biaya keberangkatan dan relokasi perlu dipersiapkan. Biaya keberangkatan ini meliputi biaya tiket dan bagasi jika diperlukan. 

Penulis di Sheffield

Biaya hidup dan akomodasi di Sheffield

Sheffield dikenal sebagai kota ramah keluarga, tenang, dan biaya hidup yang masih terjangkau. Untuk keluarga dengan dua anak, standar biaya sewa rumah berisi dua atau tiga kamar berkisar antara £900–£1,200 per bulan. Jika beruntung, bisa mendapat rumah dengan tarif sewa kurang dari £900. Bisa juga memilih tinggal di akomodasi untuk keluarga yang disediakan oleh kampus, namun jumlahnya sangat terbatas. Pencarian akomodasi dapat dilakukan melalui beberapa website dan agen, atau juga berkonsultasi dengan diaspora Indonesia di kota yang kita tuju. 

Total biaya akomodasi ditambah dengan biaya tagihan rutin seperti listrik, gas, WiFi, dan groceries, maka biaya hidup per bulan bisa berkisar £1,500–£2,000. Tentu saja besaran ini bervariasi tergantung gaya hidup yang diterapkan. 

Peluang bekerja bagi pasangan

Salah satu keuntungan utama visa dependant di Inggris adalah hak bekerja penuh waktu (40 jam/minggu). Pasangan dapat bekerja di sektor formal maupun informal, bergantung pada kualifikasi dan kesempatan yang tersedia. Namun, batasan jenis pekerjaan tetap ada bagi pemegang visa dependant

Sekolah anak

Sistem sekolah di Inggris perlu dipahami bagi keluarga dengan anak usia sekolah. Anak usia 5–16 tahun wajib bersekolah dan berhak mengakses sekolah negeri (state school) secara gratis.Pendaftaran sekolah didasarkan pada catchment area, yaitu wilayah tempat tinggal, sehingga alamat rumah sering kali menentukan sekolah anak. Untuk anak di bawah lima tahun, biaya childcare bisa tinggi, jadi perlu disiapkan sejak awal. Sheffield dikenal sebagai kota dengan kualitas sekolah yang bagus dan komunitas internasional yang aktif.

Akses kesehatan dan NHS

Setelah membayar IHS, seluruh anggota keluarga berhak atas layanan kesehatan National Health Service (NHS). Untuk urusan NHS, langkah pertama setelah tiba di Inggris adalah mendaftar ke General Practitioner (GP). Layanan GP terdekat dapat dicek melalui website atau aplikasi NHS. Layanan dokter umum, rumah sakit, dan sebagian besar layanan darurat sudah ditanggung, meski perawatan gigi dan mata biasanya perlu biaya tambahan.

Menata ekspektasi dan kesiapan

Membawa keluarga saat studi PhD bukan sekadar soal uang, tapi juga soal kesiapan mental. Perubahan lingkungan, rutinitas baru, adaptasi budaya, bahkan cuaca Sheffield yang sangat berbeda dengan Bekasi menghadirkan dinamika tersendiri. Tapi di sisi lain, mengawali hidup baru bersama keluarga menghadirkan pengalaman yang sangat menyenangkan. 

Artikel ini ditulis oleh Retty Handayani, diedit oleh Inna Ar dan Shiva Devy untuk PhD Mama Indonesia. Retty dapat dihubungi melalui email rettydwi@gmail.com

2 thoughts on “Dari Bekasi ke Sheffield: Perjalanan PhD Mama ke Inggris Bersama Keluarga

  1. Salam, untuk proses apply visa apakah menggunakan agen atau mandiri? Jika mandiri, apakah ada rekomendasi proses pembayaran IHS dan Visa Fee dengan bank lokal Indonesia? terima kasih

    Like

    1. Saya dibantu agen dari IDP untuk penyiapan dokumen yang diperlukan. Proses pembayaran tetap dilakukan secara mandiri, saya menggunakan BCA, Blu BCA, dan Jenius. Berdasarkan pengalaman, rate dari BCA dan Blu BCA yang paling bagus saat itu.

      Like

Leave a comment