Perempuan yang bergelut di dunia akademik dihadapkan dengan banyak tantangan, baik yang tengah berproses menyelesaikan PhD maupun yang sudah lama berkiprah sebagai ilmuwan,. Mereka harus gesit menjalani berbagai peran yaitu menjadi seorang ibu sekaligus berperan ganda dengan menjalani kehidupan sebagai ilmuwan profesional.
Sebagai perempuan Indonesia, kita mengenal sosok Kartini yang nilai-nilai dan semangat juangnya layak dijadikan teladan terutama dalam mengenyam pendidikan. Semangat Kartini dan bagaimana perempuan Indonesia menghadapi tantangan menjadi ilmuwan perempuan didiskusikan dalam sesi halal bihalal bertajuk “Jikalau Kartini Menulis Proposal Riset PhD”. Diskusi tersebut digelar pada perayaan hari Kartini 21 April 2024 lalu yang diselenggarakan oleh PhD Mama Indonesia dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI).

Judul sederhana ini kemudian melahirkan banyak pertanyaan lainnya, bagaimana semangat perjuangan Kartini bisa kita hidupkan dalam dunia riset hari ini? Apa makna sosial dari sebuah proposal riset? Apakah mungkin riset akademik bisa mendorong perubahan?
Diskusi ini dipandu oleh Dr. Kanti Pertiwi (dosen dan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI yang juga anggota ALMI) serta dua narasumber yakni Dr. Lilis Mulyani (peneliti hukum agraria di BRIN) dan Dr. Antonia Morita Sakawati (dokter dan peneliti TB dari UGM). Keduanya berbagi tentang bagaimana memulai riset PhD dan mengapa mereka melakukannya.
Dr. Lilis Mulyani atau biasa disapa Kak Lis menceritakan tentang perjalanan risetnya yang dimulai dari pengalaman lapangan yaitu konflik agraria, deagrarianisasi, dan beban berlapis yang ditanggung perempuan dalam perebutan tanah dan sumber daya. Sedangkan, peneliti TB, Dr. Antonia Morita Sakawati yang akrab dipanggil Kak Ita menceritakan motivasi risetnya datang dari kenyataan sosial bahwa dalam setiap 20 detik, ada satu orang meninggal akibat TBC (Tuberkulosis). Semangat risetnya tidak hanya didasari oleh keadaan sosial, tetapi juga pengalaman personal yang menambah semangatnya dalam dunia riset. Ia bercerita bahwa dirinya pernah kehilangan teman dan melihat adanya ketidakadilan akses layanan kesehatan. Oleh karena itu, Kak Ita kemudian bertekad mengembangkan diagnosis TB yang lebih terjangkau dan inklusif.
Dalam diskusi tersebut, Kak Lis menekankan pentingnya riset yang transformatif, yakni riset yang tidak sekadar menjawab pertanyaan akademik, tetapi juga menggugah, mengkritik status quo, dan membuka ruang partisipasi. Pendekatan transformatif sangat penting terutama jika berkaitan dengan masyarakat akar rumput misalnya seperti masyarakat adat. Pendekatan transformative social learning dalam hukum agraria yang melibatkan masyarakat adat. Menurutnya, memosisikan masyarakat adat harusnya bukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek riset.
Melengkapi pernyataan Kak Lis, Kak Ita menekankan bagaimana gender, stigma, dan akses terhadap kesehatan seharusnya menjadi bagian integral dalam desain riset kesehatan publik. Kak Ita kemudian mengembalikan dengan pertanyaan ke publik. “Jangan-jangan, banyak riset kita selama ini hanya memperkuat ketimpangan yang sudah ada?”.
Selain membicarakan terkait riset, diskusi berkembang ke isu lainnya yang seringkali dihadapi oleh para akademisi yakni akademisi palugada. Tantangan ini biasanya dihadapi oleh para freshgrad yang baru lulus. Mereka seringkali dihadapkan pada upaya membangun kepakaran yang seringkali dipahami bahwa kepakaran artinya bisa menjawab semua topik. Alih-alih kepakaran bisa dimulai dengan berani menjawab ‘tidak’ sekaligus bisa menjaga integritas dalam memilih tawaran kerja atau penelitian. Dirinya berpendapat, kepakaran sejati dibangun lewat konsistensi dan jejaring, bukan dari popularitas semata.
Kak Ita menambahkan bahwa riset sebaiknya bukan demi gelar, jabatan, atau publikasi, melainkan karena kita ingin menjawab persoalan nyata di masyarakat. “Kalau niatnya murni, insyaAllah hasilnya datang sendiri,” katanya bijak.
Tantangan menjadi ilmuwan memang kompleks bahkan kompleksitas tersebut sudah dimulai di langkah pertama yakni mencari supervisor atau pembimbing. Menurut para narasumber, proses menjadi supervisor yang tepat mirip dengan mencari jodoh. Hal itu karena harus cocok secara intelektual, bisa diajak bicara, dan yang paling penting ada kesetaraan dalam dialog. Baik Kak Lilis maupun Kak Ita mengakui pentingnya membangun relasi yang sehat dengan supervisor, termasuk kemampuan untuk bersikap asertif ketika beban riset mulai melampaui kapasitas kita.
Terkait pembimbing akademik, kadang-kadang perlu ada istilah ‘putus’ dengan pembimbing lama jika memang hal tersebut diperlukan. Hal ini sebagaimana yang dialami oleh Kak Kanti. Menurutnya, putus dengan pembimbing lama perlu dipertimbangkan agar kita bisa menemukan arah riset yang lebih bermakna dan sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang.
Sebagaimana dibahas di awal tulisan, perempuan ilmuwan harus gesit dengan berbagai peran. Peran perempuan sebagai profesional bergelut di dunia publik dan di ranah domestik yang sifatnya lebih personal. Sebagai ilmuwan perempuan, mereka dihadapkan pada beban ganda, yakni kerja professional dan kerja domestik. Mereka yang sedang menyelesaikan PhD misalnya harus menulis disertasi, menyelesaikan revisi, dan berbagai tugas akademik lainnya. Akan tetapi bagi perempuan yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, mereka juga harus dihadapkan dengan tugas domestik terutama mengasuh anak.
Menghadapi tantangan ini, Kak Kanti bercerita apa yang biasa dilakukannya. Menurutnya, penting untuk bisa ambil jeda, healing, dan terutama memiliki sistem pendukung yang kuat berupa suami, teman, atau ikut dalam komunitas. “Jangan lupa untuk menertawakan diri,” tambah Kak Kanti.
Dari diskusi tersebut, ada beberapa hal yang bisa digarisbawahi sebagai renungan. PhD bukanlah menjadi tujuan akhir, melainkan sebuah sarana untuk menghidupkan pertanyaan-pertanyaan bermakna. Pengetahuan penting untuk dijadikan alat untuk memperjuangkan common good (kebaikan bersama) yang bukan menjadi milik segelintir elit. Secara spesifik, riset yang kuat tidak lahir dari ambisi akademik semata, tetapi rasa peduli yang mengakar akan ketimpangan sosial.
Jika Kartini hidup di masa kini, mungkin ia akan menulis proposal riset tentang akses pendidikan perempuan, ibu-ibu yang tak bisa sekolah tinggi karena harus merawat anak, atau stigma sosial yang membungkam suara perempuan di ruang publik. Namun yang pasti, Kartini akan mendorong kita untuk berani bertanya, “Untuk siapa hasil riset kita? Untuk siapa kita belajar?”
Artikel ditulis dan dirangkum oleh Chusnul C. dan diedit oleh Hanifa Paramitha untuk PhD Mama Indonesia.

Sering membaca tulisan bahwa PhD itu adalah perjalanan panjang yang sunyi. Selalu salut dengan para Ibu yang melanjutkan jenjang sampai S3 dan seterusnya. Salam kenal.
LikeLike