“I don’t belong here anymore.”
Sebuah pernyataan yang sebenarnya tidak ingin dilontarkan, tapi memang seperti itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh Kak Aprisia Rasya, atau yang akrab disapa Kak Apris. Di akhir tahun 2024, tepat setelah menyelesaikan studi Master of Architecture di TU Delft, Belanda, Kak Apris kembali ke Indonesia. Setelah kurang lebih 2 tahun tinggal di luar negeri, ada perasaan teramat senang saat akan kembali ke tanah air. Namun ada satu hal yang tampaknya luput dari radar Kak Apris saat menavigasi kepulangannya ke tanah air yaitu potensi mengalami reverse culture shock.

Bagi Kak Apris, pengalaman reverse culture shock saat kembali ke Indonesia sungguh di luar ekspektasinya, “Saya sudah 20 tahun lebih tinggal di Indonesia, sehingga dalam benak saya, jika saya kembali ke Indonesia setelah studi seharusnya tidak akan banyak masalah, karena sudah terbiasa dengan lingkungan dan situasinya.” Namun kenyataannya, dalam beberapa hari pertama, Kak Apris mengalami jetlag akibat perbedaan waktu 6 jam antara Indonesia dan Belanda, yang saat itu sedang memasuki peralihan musim gugur ke musim dingin. Kondisi tersebut diperparah oleh gangguan pencernaan yang dialaminya selama beberapa minggu berikutnya. “Setelah jetlag sembuh, ternyata perut rasanya tidak nyaman, tidak bisa makan terlalu berbumbu dan pedas juga, tidak boleh jajan di pinggir jalan, dan yang membuat tambah tidak nyaman adalah rutinitas toilet yang kurang lancar,” cerita Kak Apris pada tim PhD Mama.
Dalam aspek lain, seperti komunikasi dan relasi sosial, ternyata Kak Apris juga menemui sejumlah tantangan. “Orang Belanda kan direct dan to the point ya, mereka sangat terbuka dalam mengutarakan pendapat dan diskusi. Sementara di sini, dalam lingkungan kerja terasa cukup hierarkis dan agak sulit untuk berdiskusi secara terbuka, apalagi untuk saya yang saat ini masih berstatus volunteer di sebuah NGO di Surabaya,” cerita Kak Apris. “Jujur, saya merasa insecure dan anxious ketika berada di keramaian karena merasa tidak memiliki privasi, terlebih dengan mudahnya orang lain mengambil gambar atau video tanpa izin,” tambahnya. Situasi ini sangat berbeda dengan kondisi yang biasa ia alami di Belanda. Dengan berbagai ketidaknyamanan dan emotionally numb yang dirasakan, akhirnya Kak Apris menyadari bahwa ia perlu mencari bantuan. Menurut kak Apris, “Sepertinya saya sedang tidak baik-baik saja. Saya sudah bercerita pada orang tua dan mencoba menghubungi teman yang kebetulan juga baru kembali dari studi, dan ternyata merasakan hal yang sama. Namun ternyata tidak cukup, sehingga saya mencari bantuan profesional untuk mental health check-up dan mengikuti beberapa sesi konseling bersama psikolog. Setelahnya saya bersyukur sekali karena bisa melalui fase tersebut dan kembali berkarya.”
Ternyata, Kak Apris tidak sendiri. Beberapa rekan pelajar lainnya juga mengalami reverse culture sekembalinya mereka ke Indonesia. Bagi Kak Ovalia Rukmana, kembali ke tanah air setelah 7 tahun studi doktoral di Inggris berarti harus menyesuaikan urusan perut. “Makanan di UK cenderung plain, jadi saat kembali ke Indonesia, saya tidak bisa makan pedas dan mengandung vetsin. Karena kondisi pencernaan yang masih beradaptasi, saya sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari,” cerita Kak Oval. Secara umum, Kak Oval sangat senang bisa kembali berkumpul dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Namun pengalaman hidup di Inggris membentuk Kak Oval untuk lebih terbiasa mandiri dan berharap menemukan keteraturan di segala aspek, juga keterbukaan dan akses berbagai informasi.
Reverse culture shock dalam dunia akademik juga dialami Kak Wirdatun Nafisah, yang akrab disapa Kak Wirda. “Saya mendapatkan kesempatan sebagai visiting researcher di University of Pavia, Italia, selama rentang waktu November 2022 hingga Mei 2023, yang menjadi bagian studi doktoral dengan beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Dalam waktu relatif singkat, saya perlu segera beradaptasi dengan kultur di Italia dan bersyukur saya bisa mengikuti ritme kehidupan di sana,” kenang Kak Wirda. Sekembalinya ke Indonesia sebagai dosen muda, Kak Wirda cukup mengalami reverse culture shock terutama karena perbedaan kultur akademik dan realita lingkungan kerja di Italia dan Indonesia. Namun, perlahan kak Wirda bisa menyesuaikan dengan kondisi faktual yang ada saat ini.

Beberapa pengalaman reverse culture shock di atas mungkin bisa menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah hal yang langka, walaupun mungkin tingkat keparahan yang dialami bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Dari Kak Apris kita bisa belajar bahwa reverse culture shock perlu ditangani oleh profesional ketika kondisi tidak membaik, meskipun telah mencoba solusi yang ditawarkan, seperti bercerita dengan keluarga dan teman, serta melakukan hal yang disukai. Bagi Kak Apris, selain bantuan professional, yang dibutuhkan untuk melalui masa re-adaptasi di Indonesia adalah dukungan penuh dari keluarga, punya tempat bercerita, dan ruang yang aman di lingkungan kerja. Selain itu, salah satu coping mechanism yang ampuh dilakukan Kak Apris adalah meniru kebiasaan hidup di Belanda dan mengeksplorasi tempat-tempat baru. Harapannya, kedepan awareness akan adanya fenomena reverse culture shock lebih terbangun, sehingga sebelum kembali ke Indonesia atau daerah asal selepas studi, seseorang bisa mengantisipasi dengan lebih baik dan lebih siap secara mental, karena “you belong everywhere.”
Artikel ini ditulis oleh Inna Ar, diedit oleh Ika Arira untuk PhD Mama Indonesia. Aprisia R Murran bisa dihubungi via IG @aprisiarasya & LinkedIn, Ovalia via IG @ovalea , dan Wirda via IG @wirdatunnafisah.
