Jalan Panjang Pendidikan Perempuan Indonesia

Sumber: Ilustrasi oleh freepik

Diperingatinya Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei, sejenak membuat saya tersentil dengan status pendidikan tinggi bagi kaum perempuan di era saat ini. Saya lalu mencoba melakukan penelusuran dalam mesin pencarian di internet tentang “data perempuan kuliah di Indonesia”, lalu muncullah berbagai laman berita yang bertuliskan perempuan RI yang kuliah lebih banyak dan judul-judul serupa. Saya pun menemukan laman pangkalan data pendidikan tinggi milik kementerian terkait. Sayangnya, data tersebut hanya hasil global tanpa menjelaskan lebih jauh. Saya menemukan data perbandingan jumlah mahasiswa berdasarkan jenis kelamin, tanpa tahu jenjang pendidikannya. Diagram pai ini memaparkan data mahasiswa perempuan lebih banyak daripada mahasiswa laki-laki, terlepas apapun jenjang pendidikannya, jurusan dan tempat kuliah.

Sumber: laman pangkalan data dikti

Ibu Kartini dan para pejuang pendidikan lain seperti Ibu Rahmah El-Yunusiah dan Nyai Dahlan mungkin bisa tersenyum lega. Sekarang semua perempuan bisa mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan dengan laki-laki. Padahal sebelumnya, di masa kolonial sekolah dari pemerintah Belanda yang diskriminatif hanya diperuntukkan bagi keturunan golongan ningrat, yang dimaksudkan supaya lulusannya dapat mengisi tenaga-tenaga kerja1

Tak akan pernah lupa jasa Ibu Kartini yang membuka sekolah untuk perempuan belajar membaca, menulis dan keterampilan lain serta pendidikan budi pekerti2. Pada masa selanjutnya, Ibu Dewi Sartika mengepalai sekolah perempuan di Bandung tahun 1904, selanjutnya sekolah ini dikelola oleh sebuah panitia yang disebut “Veriniging Kaoetaman Istri”3. Sementara itu, Rahmah El-Yunusiah mendirikan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, sebuah perguruan perempuan pertama di bumi Indonesia yang menjadi rangkaian sejarah pendidikan nasional2. Setelahnya, pintu-pintu kesempatan belajar untuk perempuan pun terus dibuka. Semangat memajukan perempuan melalui pendidikan telah berhasil dikobarkan oleh para perempuan pelopor hingga kini.

Sumber Foto: Wisuda UGM Tahun 2018 oleh Anya dan Anjani

Menilik kembali dinamika pendidikan bagi perempuan di Indonesia menunjukkan bahwa berdasarkan hasil survei SUSENAS tahun 2022, data tingkat partisipasi perempuan dalam pendidikan antara perkotaan dan pedesaan ditemukan bahwa jenis ijazah tertinggi yang dimiliki sebagian besar perempuan di pedesaan adalah lulusan SD (31,28%), sedangkan perempuan di perkotaan sebagian besar adalah lulusan SMA/SMK (33,36%). Selanjutnya, persentase perempuan yang lulus dari perguruan tinggi di perkotaan adalah sebesar 13,97%, lebih dari dua kali lipat dibanding di pedesaan yang hanya berkisar 6,00%3. Data ini menunjukkan masih terdapatnya kesenjangan partisipasi perempuan untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi di Indonesia. Fakta yang saya temukan di area tempat tinggal saya yang masih tergolong perkotaan juga mendukung hasil survei ini. Seorang anak perempuan lebih banyak yang tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi setelah SMA/SMK dikarenakan tidak ada biaya untuk kuliah, diminta orangtua untuk membantu nafkah keluarga atau diminta menikah saja. 

Pendidikan memang penting. Terlebih jika akses untuk mendapatkan pendidikan merata dapat disediakan negara, maka semakin meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan. Saya membayangkan akan semakin banyak perempuan memiliki pengetahuan dan kompetensi yang bermanfaat sehingga perempuan menjadi lebih berdaya dan tidak timpang jauh dengan laki-laki.

Kesetaraan hak termasuk untuk memperoleh akses pendidikan sebenarnya sudah tertuang di instruksi presiden RI No. 9 tahun 2000 mengenai pedoman pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional, yang menyatakan bahwa Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut4. Hal ini tentunya dapat menjadi desakan pemerintah untuk dapat mengurangi ketimpangan pendidikan untuk perempuan di Indonesia. Salah satunya dengan memberikan edukasi bagi masyarakat di desa maupun kota mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan. Perlu ditekankan bahwa pendidikan tinggi tak hanya bermanfaat untuk diri perempuan itu sendiri tetapi juga untuk keluarganya, lingkungannya dan negaranya. Jika masyarakat telah paham, maka selanjutnya semua pihak dapat turut serta membuka akses dengan memberikan beasiswa, tunjangan melanjutkan sekolah, tunjangan prestasi bagi perempuan dan berbagai hal yang tidak menyurutkan semangat perempuan untuk dapat mendapat pendidikan lebih baik dan lebih tinggi. 

Setelah pendidikan kemana lagi?

Saya mengharapkan setelah pendidikan yang merata antara perempuan dan laki-laki akan semakin baik pula kesejahteraan hidup perempuan di negeri ini. Berbagai pengambilan keputusan terkait perempuan tentunya akan melibatkan perempuan dalam prosesnya. Sebagaimana di Swedia yang menjadi negara dengan indeks kesetaraan gender terbaik di Uni Eropa, memiliki 188 laki-laki dan 161 wanita sebagai perwakilan di parlemen5. Swedia bisa menghadirkan tempat belajar, tempat bekerja dan beraktivitas serta hidup yang aman nyaman bagi perempuan dan laki-laki. Alangkah besarnya imbal yang didapat jika negara mau berinvestasi dalam meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan. Meskipun hasilnya tidak instan dan terlihat saat ini, tetapi ada jaminan peningkatan kualitas hidup di masa depan yang akan dipetik. 

Artikel ini ditulis oleh Shiva Devy, diedit oleh Inna Ar, untuk PhD Mama Indonesia. 

Referensi:

  1. Takunas, R. (2018). Dinamika Pendidikan Perempuan dalam Sejarah Islam. Musawa: Journal for Gender Studies, 10(1), 23–44. https://doi.org/10.24239/msw.v10i1.386 ↩︎
  2. Muthoifin, M., Ali, M., & Wachidah, N. (2017). Pemikiran Raden Ajeng Kartini Tentang Pendidikan Perempuan Dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Islam. Profetika: Jurnal Studi Islam, 18(1), 36–47. https://doi.org/10.23917/profetika.v18i1.7690  ↩︎
  3. Lisnasari, Adriana. Pendidikan bagi perempuan di pedesaan masih sangat rendah dan timpang – bagaimana solusinya? Diterbitkan: April 7,2023 di laman https://theconversation.com/pendidikan-bagi-perempuan-di-pedesaan-masih-sangat-rendah-dan-timpang-bagaimana-solusinya-202747 ↩︎
  4. Instruksi Presiden RI No. 9 tahun 2000 mengenai pedoman pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional. Diunduh dari https://www.djkn.kemenkeu.go.id/pug/assets/files/informasi/Inpres_No.9_Thn_2000_-_PUG_dalam_Pembangunan_Nasional.pdf  ↩︎
  5. Positions of power. dari laman https://sweden.se/life/equality/gender-equality ↩︎

Leave a comment