Generasi Muslim Pembelajar di Szeged, Hongaria Masa Kanak-Kanak yang Tak Akan Terlupakan

Dalam rangka menyemarakan peringatan hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2024, Tim Blog PhD Mama Indonesia berbagi cerita dari Abdullah dan Az Zahra yang saat ini sedang menemani sang Ibunda Andi Sri Wahyuni, yang akrab dipanggil Andis, yang menempuh studi doktoral di University of Szeged, Hongaria. Keluarga Andis berasal dari Makassar dan sebelumnya pernah tinggal di Groningen, Belanda untuk membersamai suami meraih gelar doktoralnya. Abdullah (7th) adalah putra pertama Andis yang lahir di Belanda, sedangkan Az Zahra atau yang akrab disapa Zahra (3.5th) lahir di Indonesia. Saat ini Abdullah sudah menyelesaikan pendidikan dini atau TK dan Zahra masih bermain dan belajar di kelompok bermain atau PAUD.

Menjadi keluarga muslim minoritas di Hongaria merupakan tantangan tersendiri bagi Andis dan anak-anak, terutama dalam hal mengajarkan serta membiasakan ajaran-ajaran kaum muslim ke anak-anak, ungkap Andis. Di Hongaria, penduduk muslimnya terbatas, ada beberapa muslim pendatang dari Turki, Maroko, dan beberapa negara muslim lain, namun jumlahnya tidak sebanyak di ibukota, Budapest.

Menurut Andis, berbeda dengan di Belanda yang komunitas muslim Indonesia sudah lebih terbangun, di sini komunitas muslim Indonesia jumlahnya sedikit, sehingga kegiatan komunitasnya juga diadakan secara online se-Hongaria setiap sepekan sekali di hari Ahad oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Hongaria.

Untuk anak-anak biasanya ada kegiatan mengaji, bercerita kisa-kisah Nabi dan Sahabat, serta hafalan doa harian. Di Szeged sendiri ada satu masjid yang dikelola oleh komunitas muslim internasional. Untuk kegiatan anak-anak dilaksanakan setiap Sabtu didampingi oleh seorang ustadzah dari Yaman dan kegiatannya menggunakan bahasa Inggris atau Arab. Karena pendamping/pengajarnya internasional, Abdullah dan Zahra harus bisa mengikuti bahasa yang digunakan dan ini menjadi tantangan tersendiri dalam belajar. Sebagai contoh dalam penyebutan surah dalam Al-Quran, terdapat perbedaan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sehingga Andis mau tidak mau harus turut belajar memahami ilmu yang didapatkan anak-anaknya.

Karena Abdullah dan Zahra sudah memasuki pendidikan dini, mereka masuk ke sekolah umum yang ada di Szeged. Di sekolah sendiri ada beberapa anak muslim lain dari Nigeria, Mesir, dan Iraq. Mereka adalah anak-anak yang dibawa keluarganya bermukim sementara di Hongaria, seperti Abdullah dan Zahra. Sekolah sendiri memfasilitasi anak-anak muslim ini dengan menyediakan makanan khusus muslim dan halal di meja terpisah dari yang lain karena mereka mendapat 3x sesi makan sewaktu di sekolah.

Keterbatasan anak-anak dalam belajar agama Islam di Hongaria ternyata tidak menyurutkan semangat Andis untuk tetap menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini. Di rumah, Abdullah dan Zahra sering diajak sholat, berdoa, dan mengaji. Mereka juga sudah dikenalkan dengan konsep ketuhanan dalam Islam, Allah SWT serta diberikan penjelasan yang logis untuk larangan-larangan yang ada dalam Islam, seperti kenapa muslim harus makan makanan yang halal. Sejauh ini, Andis menilai perjalanannya dalam membersamai Abdullah dan Zahra belajar agama Islam sudah cukup baik, mengingat kondisi terbatas dan tinggal di negara yang kaum muslim adalah minoritas.

Menutup obrolan santai kami, Andis menceritakan pengalaman yang paling berkesan dalam mengenalkan Islam ke anak-anaknya. Di Ramadhan tahun ini, Andis sering mengajak Abdullah dan Zahra berbuka puasa di masjid dan mereka tampak senang sekali. Selain itu, saat Idul Fitri lalu Abdullah dan Zahra juga membagikan coklat kepada teman-teman di sekolah untuk mengenalkan Islam dan menunjukkan bahwa mereka adalah generasi muslim yang cinta damai. Akhirnya, Andis sangat bersyukur dengan adanya support system yang baik di Szeged, Hongaria untuk mengajarkan agama Islam untuk Abdullah dan Zahra sehingga mereka dapat menjadi tim solid yang senantiasa mendoakan orang tua dan mendukung agar Andis dapat segera menyelesaikan studinya.                   

Artikel ini merupakan hasil wawancara dan ditulis oleh Inna Ar dengan Andi Sri Wahyuni (Andis), Andis bisa dihubungi via surel a.s.wahyuni@gmail.com maupun Instagram @a.s.wahyuni., di edit oleh Tim PHD Mama Indonesia.

Leave a comment