PhD Mama Berkebun di Land Down Under

Sebagai seorang PhD mama yang tinggal di Brisbane, berkebun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya. Halo, perkenalkan saya Rara, saya merupakan staf pengajar di Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Saat ini saya sedang menempuh studi doktoral pada program Rural Development and Agribusiness di School of Agriculture and Food Sustainability di University of Queensland. Perjalanan berkebun saya dimulai saat saya menempuh studi Master di Australian National University, Canberra. Kini, selama menjalani studi PhD, aktivitas berkebun ini semakin berkembang dan memberikan banyak manfaat, baik secara personal maupun untuk keluarga saya.

Perjalanan Berkebun dari Canberra ke Brisban

Saat menjalani studi Master di Canberra, saya mulai berkebun di halaman belakang rumah sewaan milik landlady saya. Tentunya setelah mendapat izin dari pemilik properti, saya mulai menanam kentang, bawang, raspberry, serta merawat tanaman anggur. Canberra memiliki iklim sedang dengan musim dingin yang cukup dingin, membuat pilihan tanaman lebih terbatas pada jenis yang tahan dingin. Tanaman seperti kentang dan bawang sangat cocok karena mereka bisa tumbuh baik dalam suhu yang lebih rendah dan tanah yang lebih berat.

Pindah ke Brisbane untuk studi PhD memberikan tantangan dan peluang baru. Meskipun halaman belakang di sini lebih kecil, saya malah dapat mengoptimalkan ruang yang ada untuk menanam lebih banyak jenis tanaman. Dengan masa studi yang lebih lama (4 tahun), saya dapat belajar menanam berbagai tanaman seperti raspberry, blueberry, selada, tomat, daun bawang, cabai, kentang, wortel, brokoli, seledri, berbagai tanaman herbal, dan tanaman hias seperti monstera, gerbera, dan daisy. Iklim Queensland yang subtropis memungkinkan saya menanam tanaman yang lebih variatif seperti kemangi, pepaya, singkong, dan kenikir. Queensland memiliki musim panas yang panas dan lembab serta musim dingin yang ringan, membuatnya ideal untuk tanaman tropis dan sub-tropis. Kebun kecil saya ini juga sangat berkontribusi bagi ketahanan pangan keluarga. Dari kebun ini saya bisa menghemat belanja sayur dan buah. Daun bawang misalnya, saya bisa petik setiap hari dan menghemat 2$ untuk 2-4 umbi dan daunnya.

Mencari Kedamaian melalui Mindfulness dalam Berkebun

Kebun kecil di halaman belakang ini menjadi ‘zen space’ bagi saya. Di sini, saya menemukan “me time”, inspirasi, dan energi baru setelah seharian berkutat di depan monitor. Kacamata saya sudah cukup tebal dan siapa tahu berkebun menghambat perkembangan mata minus saya. Integrasi elemen seperti suara burung, lebah beterbangan, serta aroma segar tanaman seledri dan tomat memberikan keseimbangan dan mindfulness. Setiap pagi, saya dan suami biasa menikmati secangkir kopi sambil mengobrol di kebun, menikmati suasana yang tenang dan menyejukkan.

Mindfulness adalah praktik yang melibatkan kesadaran penuh terhadap momen saat ini tanpa menghakimi, yang dapat membawa ketenangan dan keseimbangan dalam hidup. Dalam berkebun, mindfulness tercipta melalui interaksi langsung dengan alam, seperti merasakan tanah di tangan, mendengarkan kicauan burung, atau mencium aroma segar tanaman. Aktivitas ini membantu meredakan stres dan kecemasan, meningkatkan konsentrasi, serta menghadirkan perasaan syukur dan kedamaian. Dengan mindfulness, setiap momen berkebun menjadi kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar, menciptakan ruang untuk refleksi dan peremajaan mental. Aktivitas fisik yang ringan dan kontak dengan alam adalah kombinasi yang ampuh untuk menjaga kesehatan mental PhD mama yang harus mempraktikkan “sulap bola” yang berisi bekerja atau studi, menjadi mama, dan juga istri.

Sekolah Informal Keluarga

Kebun kami tidak hanya menjadi tempat relaksasi, tetapi juga sekolah informal bagi keluarga. Saya dan anak laki-laki saya sering belajar bersama di sini, mengenal alam lebih dekat. Sambil berkebun, saya bisa bercerita macam-macam, seperti proses polinasi, metamorfosa kupu-kupu serta manfaat cacing untuk tanah. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam berkebun cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang lingkungan dan cenderung lebih menghargai makanan yang mereka konsumsi.

Kontribusi Berkebun untuk Lingkungan

Berkebun juga memberikan manfaat bagi lingkungan. Tanaman buah dan bunga yang saya tanam, seperti raspberry, gerbera dan daisy, mengundang lebah yang membantu proses polinasi. Australia adalah rumah bagi lebih dari 1.700 spesies lebah asli yang memainkan peran penting dalam ekosistem. Selain itu, dengan menanam berbagai tanaman di kebun, kita juga membantu menjaga keanekaragaman hayati lokal dan menyediakan habitat bagi serangga dan burung. Tapi tidak jarang juga saya diajarkan bersabar oleh alam, misalnya saat spesies endemik Australia bernama Brush Turkey mulai ikut memanen hasil kebun saya. 

Komunitas Berkebun

Selayaknya Jogja Berkebun, atau komunitas-komunitas berkebun lainnya di Indonesia, Australia juga memiliki banyak komunitas berkebun yang mendukung pertukaran benih, bibit, dan pengetahuan. Bergabung dengan komunitas ini dapat memberikan dukungan dan inspirasi bagi pekebun pemula di Australia seperti saya. Di lingkungan saya tinggal saat ini, ada Komunitas Berkebun Level Kecamatan yang didanai pemerintah kota, dimana semua warga kecamatan dapat bersosialisasi dan beraktivitas sukarela. Di UQ, Komunitas Berkebun Kampus juga terbentuk. Ada juga komunitas “tukar dan berbagi” benih seperti Canberra Seed Saver.

Jer Basuki Mawa Beya: Kebahagiaan Itu Butuh Biaya dan Usaha

Tentu saja, berkebun memerlukan investasi. Saya langsung teringat peribahasa Jawa, Jer Basuki Mawa Beya, yang artinya setiap keinginan atau kebahagiaan itu butuh “Beya”. “Beya” dalam konteks ini bisa bentuknya biaya maupun usaha. Untuk membangun ekosistem kecil di belakang rumah saya ini, saya membeli beberapa hal seperti pot planter, potting mix atau media tanam, kompos, dan benih. Menurut Australian Bureau of Statistics, rata-rata rumah tangga di Australia menghabiskan sekitar $100 hingga $200 per tahun untuk aktivitas berkebun. Ya, walaupun dalam setahun mungkin saya tidak sampai menghabiskan 100$, tapi ada harga untuk membiayai hobi saya ini.

Saya juga menyisihkan waktu setiap hari untuk merawat tanaman, memangkas, memanen, dan melakukan perawatan lainnya sesuai kebutuhan. Meski ada biaya dan usaha yang harus dikeluarkan, hasilnya sepadan dengan manfaat yang saya dapatkan, baik dari segi kesehatan, kebersamaan keluarga, kesehatan mental maupun kontribusi kecil kami untuk lingkungan.

Berkebun di Australia, dari Canberra yang dingin hingga Brisbane yang hangat, telah memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga. Kebun kecil kami bukan hanya tempat menanam, tetapi juga ruang untuk menemukan keseimbangan, belajar bersama, dan berkontribusi pada alam. Bagi para PhD mama yang ingin mencari keseimbangan antara studi dan kehidupan pribadi, berkebun bisa menjadi salah satu solusinya. Selamat berkebun!

Artikel di tulis oleh Yuhan Farah Maulida (Rara) PhD Candidate School of Agriculture and Food Sustainability, University of Queensland, Australia LinkedIn: Yuhan Farah Maulida, Instagram: @thebotanistdiary, di edit oleh Tim PhD Mama Indonesia.

Leave a comment