Lifetime Bonus Studi Doktoral, Cerita Tentang Haji Penuh Makna

Tidak ada yang tahu kemana perjalanan studi doktoral akan bermuara. Mengutip proposition di buku thesis PhD saya: “If you keep moving forward, there will be light at the end of the tunnel” mengingatkan saya tentang berbagai pengalaman di perjalanan itu. Salah satu pengalaman yang sangat membekas ternyata bukan berasal dari selesainya PhD dan mendapatkan ijazah, namun dari perjalanan spiritual melalui keberangkatan haji di tahun 2019. Tahun tersebut menjadi musim haji terakhir sebelum pandemi COVID melanda yang menyebabkan pergantian berbagai aturan ibadah haji setelahnya. 

Jika saya telusuri lagi, ternyata niat untuk menggenapkan rukun Islam yang kelima itu datang cukup cepat dan di luar rencana besar hidup saya. Setelah menikah ditengah menjalani studi pada akhir tahun 2018, saya dan suami sempat iseng membahas tentang berhaji dari Belanda. Kami pun bertanya pada beberapa rekan yang berpengalaman tentang proses keberangkatan dan kuota haji dari Belanda. Saat itu sekitar bulan Februari/Maret 2019, kami akhirnya memutuskan untuk mendaftar haji dari Belanda. Saya yang sudah masuk tahun terakhir PhD akan menggunakan akan jatah liburan musim panas dan kebetulan suami baru masuk tahun kedua PhD, sehingga kami pikir ini saat yang tepat. Selain pertimbangan waktu, kondisi kesehatan dan finansial kami masih sehat dan cukup untuk pergi ke Tanah Suci. Setelah mendaftar melalui sebuah travel di Rotterdam, sekitar dua bulan kemudian, kami mendapatkan kuota keberangkatan haji di tahun 2019. Benar-benar sebuah anugrah untuk saya dan suami di masa awal rumah tangga kami. Tidak pernah terbayang sebelumnya kami dapat berhaji diusia muda dengan waktu tunggu yang sangat singkat atau bahkan tidak perlu menunggu.

Selama kurang lebih empat bulan sebelum musim haji 2019 yang jatuh pada awal bulan Agustus, kami banyak melakukan persiapan baik secara mental dan fisik. Bersama dengan rekan-rekan lain, kami melakukan manasik haji, serta setiap hari saya dan suami juga meluangkan waktu untuk jalan kaki sebagai persiapan fisik. Karena kami akan berangkat haji, saya dan suami juga sudah sepakat untuk tidak mudik ke Indonesia saat Lebaran dan saat libur musim panas, sehingga fokus kami benar-benar tertuju pada keberangkatan haji. 

Musim haji pun tiba, kami dijadwalkan berangkat pada akhir Juli dan kembali lagi ke Belanda pada pertengahan Agustus, jadi kurang lebih ada waktu tiga minggu di Tanah Suci. Pesawat kami mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah setelah transit kurang lebih 4 jam di Istanbul, Turkey. Saat transit tersebut, rombongan kami juga mulai memakai pakaian ihram, karena saat di pesawat nanti kami akan melewati miqat. Dari Jeddah kami naik bus ke Mekah dan tinggal di hotel yang berjarak sekitar 2 km dari Masjidil Haram. 

Kami tiba kurang lebih seminggu sebelum puncak haji, sehingga ada waktu untuk kami melakukan ritual umrah untuk orang tua. Pada tanggal 8 Dzulhijah, kami mulai meninggalkan hotel di Mekah ke Mina. Esok harinya adalah hari Arafah, dan menjadi puncak dari ibadah haji dengan melakukan wukuf di Padang Arafah. Saat wukuf, adalah waktu yang mustajab untuk berdoa, sehingga berbagai macam doa dilangitkan saat itu. Dari Arafah, malamnya kami mabit di Musdalifah, benar-benar beralaskan tikar dan beratapkan langit. Pagi hari tanggal 10 Dzulhijah, saat umat muslim di Indonesia melaksanakan Idul Adha, kami kembali ke Mina dan melakukan lempar jumrah hingga hari Tasyrik. Setelah melakukan lempar jumrah terakhir, kami kembali ke hotel di Mekah dengan berjalan kaki dari Jamarat di Mina, karena kami mengikuti Nafar Akhir. Dari puncak ibadah haji itu, kami masih tinggal di Mekah dan selanjutnya menghabiskan lima hari terakhir di Madinah. 

Sungguh pengalaman berhaji dari Belanda ini menjadi hal yang sangat kami syukuri, karena setelahnya kami dikaruniakan Allah SWT putri yang cantik dan perjalanan PhD saya pun menemukan jalan terangnya. Bagi saya dan suami, ternyata keputusan kami saat itu adalah yang paling tepat, karena selama kami diberikan kesempatan dan dicukupkan rejeki untuk beribadah haji, maka alangkah baiknya segera dilaksanakan, agar tidak menyesal kemudian. 

Artikel ini ditulis oleh Inna Armandari (Inna), Inna bisa dihubungi via DM LinkedIn maupun Instagram @na_inul. Di edit oleh Laksita Gama Rukmana dan dipublikasikan oleh Nofia Fitri.

Leave a comment