Saya, Lintang Purwara Dewanti, berasal dari Mojokerto, Jawa Timur, dan saat ini menetap di Kota Depok, Jawa Barat. Sejak Maret 2024, saya terlibat sebagai volunteer di PhD Mama Indonesia (PMI). Keterlibatan ini tidak datang secara tiba-tiba, melainkan berangkat dari proses panjang pencarian makna, tentang peran, pilihan hidup, dan mimpi yang sempat saya simpan rapat-rapat.
Jauh sebelum bergabung sebagai volunteer, saya sebenarnya menyimpan keinginan untuk kembali bersekolah. Ada dorongan kuat untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral, tetapi bersamaan dengan itu hadir kebimbangan yang sangat manusiawi. Sebagai ibu, saya terus bertanya pada diri sendiri: Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana dengan keluarga? Apakah keinginan ini egois? Pergulatan batin ini membuat saya kerap maju–mundur, menunda, dan meragukan diri sendiri.

Titik balik itu datang ketika saya secara tidak sengaja menonton talkshow PMI di YouTube berjudul “Merantau Bersama PhD Mama: Perspektif Para Suami”. Tayangan tersebut terasa sangat dekat dan membumi. Mendengar para suami berbicara tentang dukungan, kompromi, dan perjuangan keluarga dalam perjalanan studi doktoral membuka sudut pandang baru bagi saya. Untuk pertama kalinya, saya merasa: ternyata mungkin bahwa belajar bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan keluarga, bermimpi adalah hak setiap perempuan tanpa harus mengorbankan peran sebagai ibu.
Dari situlah ketertarikan saya pada PMI tumbuh. PMI hadir bukan sekadar sebagai komunitas akademik, tetapi sebagai ruang aman bagi perempuan dan ibu yang sedang bernegosiasi dengan mimpinya sendiri. Ketika akhirnya saya memutuskan untuk menjadi volunteer, motivasi saya sederhana namun dalam yaitu ingin menjadi bagian dari ekosistem yang saling menguatkan, sekaligus belajar dari cerita-cerita yang jujur tentang proses, bukan hanya soal pencapaian.
Perjalanan saya di PMI kemudian berkembang melalui beberapa peran, mulai dari Manajer Komunikasi PMI pada 2024 dan 2025, hingga dipercaya sebagai Deputy Director for Program and Communication pada 2026. Setiap peran mengajarkan saya bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan tentang kesediaan untuk mendengar, merawat komunikasi, dan menjaga ritme kerja yang manusiawi di tengah kesibukan masing-masing.
Ada banyak hal yang saya syukuri selama menjadi volunteer. Saya berada dalam lingkungan yang suportif dan sefrekuensi, tempat di mana saya bisa diterima apa adanya. Di PMI, saya belajar bahwa bekerja bersama orang-orang yang memiliki visi yang sama (meski dengan latar dan kapasitas berbeda) adalah kekuatan besar yang menumbuhkan rasa aman dan keberanian untuk terus melangkah.
Namun, perjalanan ini juga tidak luput dari tantangan. Ada momen ketika komunikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya, termasuk saat mengalami ghosting dari rekan sesama volunteer, atau menghadapi kejadian yang cukup mengejutkan secara emosional akibat teguran keras dari salah satu anggota. Pengalaman-pengalaman ini menjadi ruang refleksi bagi saya tentang pentingnya komunikasi yang beretika, empati, serta keteguhan dalam menjaga komitmen tanpa kehilangan batas personal.

Terlepas dari itu semua, manfaat menjadi volunteer di PMI sangat terasa. Saya semakin mengenali diri sendiri, memahami batas energi, serta belajar mengelola peran dengan lebih sadar. Saya mendapatkan jejaring yang luas dan sefrekuensi, banyak pembelajaran praktis dalam berorganisasi, mulai dari manajemen waktu, kerja tim, hingga membangun personal bonding. Lebih dari itu, interaksi di PMI memperkaya wawasan saya tentang studi S3 dan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa we are worth, bahkan ketika masih berada dalam proses.
Bagi saya, menjadi volunteer bukan tentang selalu kuat atau selalu hadir tanpa jeda. Ini adalah tentang komitmen yang bertanggung jawab, komunikasi yang jujur, dan keberanian untuk mengambil jeda saat mulai overwhelmed, lalu kembali dengan lebih utuh. PMI mengajarkan saya bahwa bertumbuh bersama adalah perjalanan panjang dan saya bersyukur bisa menjalaninya bersama komunitas ini.
Jika saat ini Anda sedang berada di fase ragu, ingin melanjutkan studi tetapi masih bimbang karena anak, keluarga, atau tanggung jawab lain, percayalah, Anda tidak sendirian. Saya pernah berada di titik itu, dan kadang pun masih, tapi justru dari keraguan itulah perjalanan saya dimulai.
Menjadi volunteer mungkin bukan solusi instan untuk semua pertanyaan hidup, tetapi ia bisa menjadi ruang untuk belajar, menemukan perspektif baru, dan bertemu orang-orang yang memahami proses Anda. Jika Anda mencari komunitas yang saling menguatkan, ruang yang aman untuk bertumbuh, dan kesempatan untuk memberi sekaligus belajar, mungkin ini saatnya Anda melangkah. Karena kadang, keputusan kecil untuk terlibat hari ini bisa menjadi awal dari mimpi besar yang berani kita wujudkan esok hari.
Artikel ini ditulis oleh Lintang Purwara Dewanti, diedit oleh Ika Ira dan Inna Ar untuk PhD Mama Indonesia. Lintang dapat dihubungi melalui email lintangpurwara@gmail.com atau IG @lintangpdewanti
