Belajar Resiliensi: Dari Gagal Berkali-kali Sampai Dapat Beasiswa

Hai! Aku Nita, awardee Manaaki New Zealand Scholarship 2025 untuk program Master of Public Policy di Victoria University of Wellington. Setiap kali mengingat perjalanan menuju titik ini, aku sering bertanya-tanya tentang rencana Allah. “Kenapa dari sekian banyak beasiswa yang aku coba, justru beasiswa ke New Zealand yang akhirnya menjadi jalanku?”

Pelan-pelan aku mulai paham: mungkin memang lewat proses panjang itulah aku belajar tentang resiliensi.

Sebelum berangkat tugas belajar, aku bekerja sebagai ASN di BPS Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Aku lahir dan besar di Sumbawa. Di tempat inilah cara pandangku mengenai kerja keras dan kesederhanaan terus berkembang. Rutinitas pekerjaan yang padat tidak membuatku lupa untuk tetap mengisi waktu dengan hal-hal produktif seperti belajar hal baru, hunting info beasiswa, improve skill, sampai kadang overthinking soal masa depan, hehe.. Aku belajar bahwa berkembang itu tidak harus terburu-buru, tapi bisa santai sambil dinikmati dan tetap melangkah maju.

Kenapa Aku Mau Lanjut Studi? 🎓

Aku sudah gagal daftar beasiswa sembilan kali. Yes, sembilan. Mulai dari Beasiswa NTB, AAS, LPDP, beberapa kali daftar beasiswa Bappenas, hingga mendaftar Manaaki New Zealand Scholarship (MNZS) yang kedua kalinya.  

Nita hiking bersama teman di NZ (dok. pribadi)

Di usiaku yang katanya sudah menginjak kepala orang ini, banyak yang bertanya-tanya kenapa aku bersikukuh harus lanjut sekolah? kenapa semangat banget daftar lagi-daftar lagi padahal sudah gagal berkali-kali?

Mungkin jawabannya adalah karena aku punya alasan yang kuat. 

Awalnya waktu kuliah D4, aku pernah diminta membuat life maps dan itu pertama kalinya  aku menuliskan impianku: mau lanjut kuliah S2 di umur 25 tahun. 

Saat membuat life maps, aku mencoba refleksi diri tentang apa tujuan-tujuanku dalam hidup. Ternyata ada beberapa list terkait pendidikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Di poin ini, aku sadar kalau aku punya ketertarikan yang tinggi dengan pendidikan. Aku suka belajar. Mungkin karena contoh Bapak yang suka membaca buku dan mengajak diskusi, jadi belajar bagiku sesuatu yang menyenangkan, seperti hobi hehe. Apalagi kalau belajar di bidang yang aku suka: social science, psikologi dan linguistik. 

Setelah gagal beberapa kali, rencana lanjut kuliah S2 ini sebenarnya sudah jauh melewati target dari timeline yang kutetapkan. Aku kembali mengevaluasi, melihat rencana impian-impian lain dalam hidupku. Namun, kusadari impian-impian selanjutnya ternyata harus kuserahkan ke takdir Allah. Studi master ini satu-satunya impian yang masih bisa diupayakan, modalnya cukup dari diri sendiri: niat, belajar, dan apply beasiswa. Aku pikir sambil menunggu impian yang lain Allah kasih, lebih baik waktunya aku manfaatkan dengan belajar. Siapa tahu masih ada rejeki S2 kan yaa?! Walaupun terbit juga perasaan minder karena sudah terlalu lama jeda sejak terakhir kuliah D4. Selain itu, persaingan juga pasti lebih ketat dengan fresh graduate dan lainnya.

Kadang orang suka bertanya, kok belum A? belum B, C, D dsb? Dikiranya kita nggak usaha? Padahal memang ada hal-hal yang di luar kendali kita (takdir). Daripada dipikirkan, mending fokus dan tenaganya dialihkan kepada impian-impian yang bisa kita upayakan

Kembali lagi tentang alasan yang kuat, aku pernah ikut sebuah webinar volunteering pendidikan dan dibahas dalam sesi mengenai pentingnya sebuah alasan. Beliau menampilkan video Ted Talks berjudul “Start With Why”. Diceritakanlah kisah perusahaan Apple (Steve Jobs) dan kisah Wright Brothers (penemu pesawat). Alasan (why) adalah kunci. Kamu bisa catch customers atau hold volunteer kalau mereka punya alasan untuk memilih dan bertahan dengan apa yang kamu tawarkan. Ini berlaku untuk semua hal dan masih menjadi salah satu panduanku juga ketika memulai sesuatu supaya komitmen dan konsisten. 

Alasan yang kuat menjadi sangat penting juga karena akan ada banyak ujian dalam proses mewujudkan impian kita. Misal, kalau melihat arus dan standar (tolok ukur), di lingkunganku mengejar beasiswa S2 masih sesuatu yang tidak biasa. Resikonya dalam proses mengejar beasiswa ini aku akan jadi orang yang terlihat “aneh”, kurang disukai, dan punya sedikit teman. Tapi karena aku punya alasan yang kuat, semua itu tidak menjadi masalah. Aku menguatkan diriku bahwa nggak apa-apa berbeda, bahagia setiap orang memang nggak selalu sama, kan? 

Jadi, untuk kamu yang juga sedang daftar beasiswa, pastikan kamu punya alasan yang kuat ya! Alasan dari dalam dirimu sendiri. Memutuskan melanjutkan studi atau memilih “jalan berkembang” yang lain, as long as your heart sincerely happy then it’s the best decision.

Sejatinya tidak ada tolok ukur kebahagiaan yang nyata dan kita tidak terlahir untuk menghibur seluruh dunia.

Kegagalan Tidak Membuatku Berhenti 

Setiap menerima penolakan beasiswa rasanya campur aduk: sedih, kecewa, dan kadang pengen menangis. Tapi aku tidak pernah benar-benar ingin berhenti. Selalu ada suara kecil yang bilang, “Coba lagi, mungkin yang berikutnya rezekimu.”

Nita di salah satu sudut kampus (dok. pribadi)

Aku terus belajar: memperbaiki esai, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, dan minta saran dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Di kegagalanku yang ke-8, akhir tahun 2024, aku kembali refleksi diri. Aku mencoba mengambil hikmah dan pelajaran dari perjalanan kegagalan ini. Aku memutuskan untuk berpasrah. Aku berusaha memahami bahwa mungkin impian ini belum bisa untuk kumiliki, atau bahkan tidak akan pernah kumiliki karena bukan yang terbaik menurutNya. Aku tidak berhenti belajar dan daftar beasiswa namun juga tidak berharap banyak untuk sebuah keberhasilan. Tujuanku berubah, bukan lagi untuk kelulusan, namun untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Tidak lagi fokus pada titik akhir, namun pada manfaat apa yang bisa kubagikan dalam perjalanannya.

Sembari belajar, aku bergabung di beberapa komunitas untuk membagikan ilmu dan pengalamanku, serta membantu rekan-rekan yang juga sedang mendaftar beasiswa. Aku membantu kegiatan webinar, mentoring, hingga one-on-one sharing dan berbagi semangat. Beberapa rekan-rekan akhirnya lulus mendapatkan beasiswa-beasiswa yang mereka tuju. Aku ikut bahagia dengan keberhasilan mereka dan mereka mendoakan agar aku juga berhasil.

Sampai akhirnya… impian itu terwujud. Pendaftaran beasiswa ke-10 membuahkan hasil. Aku diterima di Manaaki New Zealand Scholarship untuk Master of Public Policy. Rasanya lega, haru, dan sangat membahagiakan, seperti semua usaha yang tercecer akhirnya menemukan bentuknya. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah..Sepanjang perjalanan kegagalan ini, aku juga menemukan tujuan baru. Bagiku, keputusan lanjut sekolah ini bukan sekadar untuk mengejar gelar dan impianku. Aku ingin membuka pintu baru dan kesempatan yang besar untuk anak-anak di kampung halamanku. Rencana-rencana yang semoga menjadi “pay it forward” atas ilmu dan kebaikan-kebaikan yang kuterima dalam rejeki beasiswa ini.

Belajar Resiliensi di Negeri Kiwis 🇳🇿💪

Setelah tiba di Negeri Kiwi dan mendengar banyak kisah tentang resiliensi perempuan, aku merasa seperti menemukan benang merah lagi. Berikut sedikit informasi tentang Sejarah NZ dan resiliensi perempuan yaa :

Pada 1893, NZ menjadi negara pertama di dunia yang memberi hak pilih kepada perempuan. Perjuangannya panjang dan penuh penolakan. Tokoh ikoniknya, Kate Sheppard, memimpin gerakan besar, menulis artikel, mengorganisasi petisi, dan terus mendorong masyarakat untuk mengakui suara perempuan. Wajahnya kini ada di uang kertas 10 dollar NZ, simbol perjuangan yang tak kenal lelah.

Aku juga belajar dari perempuan Māori, penduduk asli Selandia Baru. Sejak dulu mereka memegang peran penting dalam komunitas: menjaga tradisi, memimpin, dan memperjuangkan hak-hak mereka. Salah satu tokoh yang sangat menginspirasi adalah Dame Whina Cooper, yang memimpin long march sejauh 1.100 km pada usia hampir 80 tahun untuk memperjuangkan hak tanah Māori. 

Dari benang merah ini, aku belajar satu hal: kegagalanku dulu mungkin adalah latihan panjang sebelum aku sampai di titik ini. Agar aku belajar tentang resiliensi. Agar aku belajar untuk mengakui rasa takut, jatuh, bangkit, dan tetap berjalan. Pelan-pelan, tapi konsisten. Lebih siap, lebih kuat, dan lebih percaya diri. Resiliensi ini bukan hanya tentang bagaimana aku bertahan, tapi juga menciptakan perubahan nyata untuk generasiku kelak.

Pesan Untuk Teman-Teman Perempuan 💛✨

Buat kamu yang lagi di fase berjuang, please jangan menyerah.

Kadang kita cuma butuh satu “iya” setelah banyak “tidak.” Dan satu itu bisa datang di waktu yang nggak kita duga.

Nggak apa-apa kalau jalannya lama, nggak apa-apa kalau harus gagal berkali-kali. Yang penting tetap coba, percaya sama diri sendiri, dan nikmati prosesnya. Percaya deh, usaha kamu nggak akan sia-sia. Kita semua ada di perjalanan masing-masing dan kamu juga pasti bisa sampai di  tujuan. Jadi, pelan-pelan aja… tapi jangan berhenti ya 💛✨

Call-to-Action

Kalau kamu punya mimpi besar tapi sering merasa stuck, cerita di kolom komentar ya! Aku pengen dengar perjalananmu juga, siapa tahu kita bisa saling menguatkan 💌

Artikel ini ditulis oleh Nita Yuniarsih, diedit oleh Shiva Devy untuk PhD Mama Indonesia. Nita Yuniarsih saat ini sedang melanjutkan studi Master of Public Policy di Victoria University of Wellington. Nita dapat dihubungi via instagram @nita_yuniarsih dan surat elektronik: nitayuniarsih101@gmail.com

Leave a comment