Serial Lanjut Studi 40+: Kembali PhD Setelah Lebih Dari 1 Dekade Bersama Keluarga

Berangkat menempuh PhD di usia 40+ bersama keluarga bukan sekadar soal studi, tetapi tentang keputusan hidup yang penuh negosiasi, keberanian, dan kerja sama. Perjalanan memulai PhD 17 tahun setelah S2 bersama pasangan dan anak adalah mempertemukan mimpi akademik dan realitas keluarga. Ini membuat prosesnya memiliki tantangan dan pembelajaran besar. Sebuah refleksi tentang usia, prioritas, dan makna kebersamaan dalam menempuh jalan panjang bernama PhD.

Saya telah menjadi staf pengajar di universitas negeri di Bandung sejak tahun 2010. Sejak saat itu pula sudah ada keinginan untuk melanjutkan studi hingga jenjang S3. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai dinamika kehidupan pribadi dan pekerjaan kampus membuat rencana tertunda. Barulah pada tahun 2023, saya bersungguh-sungguh memulai langkah untuk mengejar mimpi tersebut, sekitar 17 tahun setelah menyelesaikan studi S2.

Perjalanan panjang menuju PhD bersama keluarga

Mulai tahun 2023, saya mulai fokus menyusun proposal penelitian dan mencari supervisor. Saat itu, suami belum memungkinkan untuk ikut, sehingga saya memutuskan untuk mencari universitas luar negeri yang lokasinya relatif dekat dengan Indonesia. Rencana awalnya adalah saya dan anak saya yang saat itu berusia 7 tahun akan bersekolah, sementara suami akan menengok kami secara berkala. Dalam masa persiapan tersebut, berbagai cerita dan motivasi dari blog serta kanal YouTube PhD Mama sangat membantu, terutama dalam mempersiapkan mental.

Kemudian, saya mencari supervisor di Australia dan Selandia Baru. Berdasarkan berbagai pengalaman yang saya pelajari dari sesama PhD mama, kehidupan PhD di kedua negara tersebut relatif memungkinkan bagi ibu yang menempuh studi PhD sambil membawa anak. Pada akhir tahun 2023, saya mendapatkan beasiswa LPDP jalur non-LoA, dan pada awal tahun 2025 saya menerima Letter of Acceptance (LoA) unconditional dari Monash University. Beruntungnya, situasi kemudian berubah,  suami akhirnya dapat ikut ke Melbourne. Rencana pun bergeser menjadi keberangkatan full team sejak awal PhD. Saat memulai studi ini, usia saya sudah menginjak 45 tahun.

Tantangan yang menjadi proses pembelajaran

Ketika menempuh studi S2 dulu, saya dan suami sama-sama berkuliah di kota yang sama di Italia pada usia 20–30-an, dan saat itu kami belum memiliki anak. Persiapan keberangkatan dan kehidupan di Milan relatif mudah dan fleksibel, terutama dalam hal tempat tinggal. Tidak banyak pertimbangan selain mencari hunian dengan sewa yang terjangkau. Kondisi ini sangat berbeda ketika berangkat full team bersama anak di usia 40-an.

Pada fase ini, kehidupan kami sudah relatif stabil. Sebelum berangkat, banyak hal yang perlu dipertimbangkan: rumah yang harus disewakan, hewan peliharaan yang perlu diurus, dan yang terpenting kondisi mental anak yang harus berpisah dengan teman-teman dan lingkungan sekitarnya untuk memulai lembaran baru di negara lain. Di tempat baru, kami juga berusaha mencari lingkungan tinggal yang baik untuk tumbuh kembang anak, lingkungan yang memungkinkan berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah, bermain di taman yang luas dan dekat rumah, serta merasakan kualitas hidup yang berbeda dari Indonesia.

Di usia ini, tantangan besar juga dirasakan oleh suami yang sama-sama berada di usia 40+. Ia harus menutup sementara usaha yang telah dirintis cukup lama di Indonesia demi menemani kami di Australia. Meski tidak mudah, kami merasa keputusan ini adalah yang terbaik, karena kebersamaan keluarga merupakan prioritas utama bagi kami.

Savitri bersama keluarga (dokumentasi pribadi)

Menata rutinitas dan berbagi peran di tempat yang baru

Awal kehidupan di Australia tentu tidak mudah. Saya sibuk beradaptasi dengan ritme baru sebagai mahasiswa PhD, sementara anak juga harus menyesuaikan diri dengan sistem sekolah yang baru. Pada bulan-bulan awal, suami berperan besar dalam meringankan beban keluarga dengan mengurus pekerjaan rumah tangga dan mendampingi anak. Ketika kondisi sudah lebih stabil, suami mulai mencari pekerjaan, dan kami pun mulai berbagi tugas rumah tangga.

Rutinitas yang kami jalani di Indonesia perlahan diterapkan kembali di Australia, salah satunya melalui pembagian peran: suami mengantar anak ke sekolah dan saya menjemputnya. Kami juga sepakat bahwa akhir pekan adalah waktu keluarga, sebisa mungkin tanpa pekerjaan, kecuali dalam kondisi yang benar-benar mendesak.

Tantangan yang dihadapi setiap anggota keluarga tentu berbeda. Bagi saya, kembali menjadi mahasiswa setelah 17 tahun menyelesaikan S2 bukanlah hal yang mudah, terlebih dengan kompleksitas tantangan studi PhD. Salah satu hal yang saya syukuri di Australia adalah tidak adanya disparitas usia. Saya merasa setara dengan rekan-rekan mahasiswa PhD lainnya sebagai sesama early-stage PhD students.

Bagi anak, tantangan terbesar adalah kehidupan sosial. Di Indonesia, ia terbiasa bermain setiap sore dengan tetangga di sekitar rumah. Di Australia, budaya tersebut tidak terlalu umum, anak-anak biasanya perlu membuat janji terlebih dahulu untuk bermain di taman. Hal ini sempat membuat anak merasa kesepian. Kami kemudian mencoba mencari aktivitas rutin, seperti menghadiri acara di perpustakaan dan mengikuti kelas gymnastics, serta berkenalan dengan anak-anak dari sesama keluarga PhD Indonesia agar ia dapat bertemu teman-teman seusianya secara konsisten.

Bagi suami, tantangan terbesar adalah transisi karier. Namun, karena tidak ada batasan usia dalam dunia kerja di Australia, berbagai peluang tetap terbuka untuk dicoba demi menyambung hidup dan membangun kembali arah karier.

Kehadiran keluarga memang menambah kesibukan, sehingga waktu untuk mengerjakan PhD perlu disusun dengan lebih disiplin. Karena itu, saya berusaha memperlakukan PhD layaknya pekerjaan: bekerja di kampus sejak pagi hingga sore hari, lalu menjemput anak dan pulang bersama ke rumah. Saya mengusahakan untuk tidak lembur. Jika terpaksa bekerja di akhir pekan, saya akan pergi sebentar ke kampus sementara suami menjaga anak di rumah.

Perubahan aktivitas dan rutinitas begitu terasa bagi seluruh anggota keluarga. Anak menjadi lebih kritis dan mandiri, serta memperoleh banyak kesempatan untuk bermain di luar ruang (outdoor) seperti di taman-taman sekitar rumah. Suami pun mendapatkan kesempatan di usia 40+ untuk mencoba berbagai jenis pekerjaan dan membuka kemungkinan jalur karier baru.

Bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan langkah serupa, keputusan ini sebaiknya didiskusikan secara mendalam bersama keluarga. Jika memungkinkan, berangkat full team adalah sebuah privilege yang dapat menjadi pengalaman berharga dan positif bagi seluruh anggota keluarga. Tantangan tentu akan berbeda bagi setiap keluarga, namun usia bukanlah faktor penghambat untuk melanjutkan studi. Justru dengan usia yang lebih matang, kerja sama dan ketahanan keluarga dapat menjadi semakin kuat.

Artikel ini ditulis oleh Savitri, diedit oleh Russasmita Sri Padmi dan Shiva Devy untuk PhD Mama Indonesia.

Savitri is a lecturer and PhD researcher in architecture. She is currently a lecturer at Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung and a PhD candidate at Monash University, Australia. Her research focuses on transforming traditional housing in Indonesia through design strategies informed by health and culture, using a design-led and comparative approach. Her work bridges vernacular architecture, contemporary housing practices, and culturally informed spatial design. She has presented her research at academic forums and is actively engaged in international research activities, including a research residency in Japan.



Leave a comment