Site icon

Hildegardis: Perempuan dari Indonesia Timur yang berhasil meraih dua kali beasiswa LPDP

Perkenalkan, nama saya Hildegardis Mulu, perempuan asli dari Indonesia Timur yang saat ini sedang menimba ilmu di United Kingdom. Saya belum berkeluarga, dan tahun ini adalah tahun pertama menjalani studi PhD, tepatnya di University College London (UCL) di Institute of Education. Departemen yang saya pilih adalah Curriculum, Pedagogy and Assessment dengan spesialisasi pada program Mathematics Education. Suasana kota dan kampus sudah tidak asing lagi bagi saya, karena sebelumnya saya telah menyelesaikan studi Magister di kampus yang sama, sehingga tidak memerlukan banyak adaptasi.

Sebelum memutuskan untuk kembali melanjutkan studi di UCL, saya sempat mendaftar di Standford University. Butuh ketekatan yang besar untuk mendaftar di kampus ini, mengingat kampus ini salah satu kampus terbaik di dunia. Ada tahapan menarik saat mendaftar program PhD di Stanford. Calon mahasiswa PhD di kampus-kampus lain pada umumnya mempersiapkan proposal penelitian serta memilih supervisor yang siap membimbingnya selama studi. Namun hal ini berbeda dengan di Stanford, calon mahasiswa PhD tidak membutuhkan kedua hal tersebut, sehingga ini sedikit memudahkan calon mahasiswa PhD. Akan tetapi, selain persyaratan Bahasa Inggris, mahasiswa yang ingin mendaftar di Stanford harus memiliki nilai GRE. Bagian ini untuk saya pribadi adalah effort, karena saya harus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes GRE, sekaligus memersiapkan dana untuk transport dan biaya tes. Beruntungnya saya tidak perlu mempersiapkan dana akomodasi, karena memiliki saudara di Jakarta yang dengan sangat terbuka menerima saya selama di Jakarta. Setelah semua persyaratan terpenuhi, saya memberanikan diri untuk mendaftar di Standford University, namun sayangnya Tuhan memiliki rencana lain, pada waktu itu saya belum lolos dalam seleksi administrasi. Akhirnya saya memantapkan diri untuk Kembali memilih UCL sebagai kampus tujuan untuk melanjutkan studi PhD.

Beasiswa LPDP kembali menjadi pilihan

Tinggal dan menjalani studi di UK tentunya tidak terlepas dari segala perjuangan yang pernah saya lalui, salah satunya saat meraih beasiswa. Saya menyelesaikan studi Magister pada tahun 2018, kemudian kembali bekerja di tempat saya kerja sebelumnya, yakni Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng pada tahun 2019. Setelah satu semester bekerja, entah mengapa hati saya kembali terpanggil untuk melanjutkan studi Doktoral. Panggilan hati tersebut semakin lama semakin kuat hingga akhirnya pada bulan Oktober 2019 saya mempersiapkan diri lagi untuk mengikuti seleksi LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

Beasiswa LPDP kembali menjadi pilihan, karena selain sebelumnya saya juga menggunakan beasiswa tersebut untuk studi Magister, tunjangan yang diberikan oleh LPDP lebih dari cukup untuk mengcover segala keperluan studi, seperti dana tuition fee (biaya kuliah), dana hidup bulanan, dana visa, dana keberangkatan dan kepulangan, dana buku, dana konferensi tahunan, dana riset, serta dana asuransi kesehatan. Untuk mendapatkan beasiswa LPDP, para peserta mengikuti tahapan seleksi yang cukup panjang. Di sinilah proses perjuangan awal bagi saya, karena peserta benar-benar harus memersiapkan dengan matang segala bentuk kemampuan yang dimiliki. Dalam beasiswa LPDP kita tidak berkompetisi dengan pendaftar lain, kita hanya perlu lulus dalam setiap tahapan dan mencapai passing grade serta mendapat rekomendasi interviewers pada tahapan seleksi akhir. Jadi, kita tidak harus mengeliminasi orang lain agar bisa lulus. Kesempatan untuk lulus sangat terbuka bagi siapa saja.

Sesuatu yang berharga membutuhkan usaha

Tahapan seleksi beasiswa LPDP tahun 2019 meliputi seleksi administrasi, seleksi berbasis komputer untuk TPA, TKP, dan menulis essay on the spot dalam Bahasa Inggris, serta seleksi substansi yakni 2 tahap wawancara (Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia). Beruntungnya dalam seleksi administrasi, saya tidak harus menyiapkan persyaratan Bahasa Inggris, karena masih bisa menyertakan ijazah Magister yang saya dapat dari kampus UCL. Mungkin saya tidak punya kendala akan hal itu untuk mendaftar beasiswa LPDP, tetapi untuk mendaftar di kampus UCL tetap saja saya membutuhkan sertifikat IELTS yang terbaru, karena masa berlaku menggunakan ijazah sudah berakhir. Sedikit agak cemas kala itu ketika harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk tes IELTS, dan pastinya saya harus menyisihkan tabungan yang saya miliki. Namun lagi-lagi kuasa Tuhan selalu ada bagi hambanya yang berusaha. Puji Tuhan pihak kampus tempat saya bekerja sangat mendukung rencana saya melanjutkan studi Doktoral. Sebagai bentuk dukungan, pihak kampus memberikan biaya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes IELTS. Tentunya mereka mengcover segala biaya yang saya perlukan, mulai dari tiket pesawat PP, akomodasi selama di Jakarta, dan yang terpenting adalah biaya untuk mengikuti tes IELTS. Saya merasa beruntung sekali mendapatkan lingkungan yang begitu supportif. Menurut saya pribadi, segala sesuatu yang berharga memang butuh usaha dan perjuangan.

Selain persyaratan kemampuan Bahasa Inggris, masih banyak berkas-berkas beasiswa yang harus saya siapkan, seperti proposal riset, surat rekomendasi (1 orang), dan essay kontribusi bagi instansi/daerah/negara. Untuk tahapan tes berbasis komputer, selayaknya kita mau mengikuti tes, saya mempersiapkan diri dengan mengerjakan soal-soal yang relevan. Saya berlatih dengan soal-soal di internet. Untuk tahapan wawancara, persiapannya adalah mempelajari kembali dan memahami Curriculum Vitae (diisi langsung dalam sistem aplikasi), essay kontribusi, dan juga proposal riset yang telah ditulis. Essay yang saya tulis lebih memfokuskan pada kontribusi bagi instansi tempat saya bekerja karena memang lebih logis dan realistis, sementara jawaban terkait supervisor dan kampus tujuan juga saya siapkan, meskipun saat itu belum berkomunikasi langsung dengan calon supervisor (karena mereka sangat sibuk dan sebaiknya berkomunikasi ketika sudah benar-benar siap), tetapi saya menjelaskan proses yang sudah saya lakukan untuk mengidentifikasi potential supervisor. LPDP juga melakukan interview untuk melihat wawasan kebangsaan dalam diri kita, jadi saya juga melakukan persiapan untuk itu. Intinya, persiapan yang dilakukan sesuai dengan karakteristik tiap tahapan tes LPDP.

Ada hal menarik dari segala persiapan tersebut, yaitu perjalanan menuju lokasi tes beasiswa. Saya merupakan anak Daerah yang mana lokasi tempat tinggal saya sangat jauh dari keramaian Ibu Kota, sementara lokasi untuk mengikuti tes tahapan beasiswa berada di pusat kota, tepatnya di kota Kupang. Untuk menempuh lokasi tes dibutuhkan perjalanan yang cukup jauh dari Ruteng (Manggarai) yang merupakan daerah tempat saya tinggal menuju ke kota Kupang dengan menggunakan pesawat yang merupakan satu-satunya alat transportasi yang cukup memungkinkan untuk selamat sampai tujuan di waktu yang tepat. Akhirnya dengan penuh tekat dan niat, saya memersiapkan dana transportasi jauh hari dengan menyisihkan gaji yang saya dapatkan. Puji Tuhan saya dapat berangkat dan tiba di lokasi tes dengan selamat.

Saya dapat melewati semua tahapan tes dengan baik dan dinyatakan lulus pada Desember 2019. Ini merupakan kado terbesar yang diberikan oleh Tuhan. Jika ada niat, pasti akan ada jalan. Itulah prinsip hidup yang saya pegang, dan saya yakin bahwa semua proses yang sudah saya lewati ini tidak terlepas dari kekuatan doa, niat dan usaha. Jika di di tengah prosesnya merasa kehilangan motivasi, usahakan saja untuk sharing dengan orang-orang yang like-minded.

Budaya akademik di UK

Perkuliahan secara resmi dimulai pada 27 September 2021, tetapi saya baru datang ke UK pada tanggal 13 November 2021. Awalnya sebelum ke London, saya menjalani proses bimbingan online dan mengikuti beberapa courses secara online juga. Setelah sampai di UK, proses bimbingan yang sebelumnya online beralih menjadi face-to-face, tetapi courses yang lain tetap online.

Menempuh studi lanjut di UCL merupakan salah satu pengalaman yang begitu berharga. Kampus di UCL sangat menarik, bersih, aman, dan tertata rapi. Dalam lingkungan kampus terdapat banyak taman yang dapat dijadikan tempat refreshing dan belajar. Kampus UCL juga memiliki banyak perpustakaan besar yang tersebar di berbagai fakultas. Untuk akses ke berbagai gedung atau ruangan kampus biasanya membutuhkan student card yang bisa di tap. Ada juga beberapa ruangan yang aksesnya terbuka untuk publik. Ini juga yang menjadi alasan saya kembali memilih UCL sebagai pilihan kampus untuk menyelesaikan studi PhD.

Selain lingkungan kampus, budaya akademik di UK cukup tinggi. Mahasiswa diharapkan untuk membangun budaya membaca dan berdiskusi secara kritis, baik dengan sesama mahasiswa maupun dengan dosen atau pembimbing (supervisor). Proses yang terbentuk bersifat dialogis, bukan satu arah. Mahasiswa juga bisa secara terbuka menyatakan keberatan kepada dosen atau pembimbing terkait suatu topik bahasan. Prinsip equity atau kesetaraan sangat terlihat dalam proses kuliah atau bimbingan. Selain itu, di kampus juga tersedia berbagai program untuk membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan akademik maupun professional. Kita dapat mendaftar ke program apa saja yang sesuai dengan kebutuhan kita. Kemudahan-kemudahan ini yang dapat menjadi poin plus ketika kita memutuskan untuk melanjutkan studi di UK.

Sistem yang menarik untuk mahasiswa PhD di UCL

Program PhD di UCL memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk merencanakan study objectives-nya. Courses yang kita ambil juga sesuai dengan kebutuhan atau minat kita, tidak seperti kuliah program professional doctorate yang berbasis courses. Ada minimal credits/SKS yakni 20 setiap tahunnya yang dapat dicapai dengan mengambil courses, menjadi teaching assistant, mengikuti seminar, mengikuti research project tertentu, atau menjadi volunteer pada kegiatan lain. Mahasiswa PhD di UCL juga perlu mengisi sistem Research Log yang mendata dan memantau progress kami setiap bulannya. Ini lumayan baru dan menarik buat saya.

Membangun kebiasaan personal

Karena baru tahun pertama dan baru menyelesaikan term 1 (sekarang masuk term 2) studi PhD di UK, jadi sejauh ini saya belum merasakan tantangan yang cukup signifikan. Tetapi yang cukup saya rasakan adalah membangun kebiasaan personal yang lebih baik dalam hal manajemen waktu dan tugas. Untuk PhD di UCL dan rata-rata di kampus lain di UK, mahasiswa perlu mengatur secara mandiri daftar tugas yang perlu diselesaikan setiap bulan sebelum supervisi berikutnya. Hal ini juga berdasarkan kesepakatan dengan supervisor. Biasanya kita bersama supervisor akan menetapkan objectives/milestones untuk jangka waktu tertentu. Nah, untuk tahun pertama fokusnya masih ke critical literature review dan merevisi proposal penelitian. Pada masa 12-18 bulan studi, kita masuk pada tahap upgrade, sidang untuk mengevaluasi progress PhD dan menentukan kelayakan kita untuk lanjut ke tahap berikutnya. Pada tahapan ini, kita juga akan mendapat berbagai feedback yang bermanfaat untuk perjalanan studi PhD kita.

Membangun komunikasi yang baik dengan supervisor

 Sistem pendaftaran kampus di UCL mensyaratkan calon mahasiswa untuk terlebih dahulu menghubungi calon supervisor yang biasanya adalah professor. Setelah mendapatkan supervisor, baru kita boleh melanjutkan tahap pendaftaran melalui sistem kampus. Sesuai dengan pengalaman saat proses pendaftaran, tahapan yang saya tempuh adalah menghubungi calon supervisor melalui email, mengirimkan proposal riset singkat dan melewati tahap interview bersama dua orang supervisor. Setelah keduanya menyatakan bersedia untuk membimbing saya dan merekomendasikan untuk lanjut ke tahap pendaftaran, barulah saya mendaftar di sistem aplikasi kampus dengan menyertakan berbagai syarat yang diperlukan. Secara keseluruhan prosesnya tidak sulit, asalkan kita menghubungi calon supervisor yang relevan dengan topik riset kita dan membangun komunikasi yang baik dengan mereka. Ketika mengalami kesulitan, maka sebaiknya dibicarakan dengan supervisor. Kebetulan saya mendapatkan supervisor yang sangat suportif.

Hidup seimbang

Mungkin saat ini saya belum begitu merasakan roller coster kehidupan PhD, karena tahun ini baru tahap awal saya studi. Akan tetapi, saya yakin ke depannya tentunya akan ada kendala-kendala ataupun kecemasan-kecemasan dalam menjalani prosesnya. Maka dari itu sebisa mungkin saya memersiapkan segala hal untuk tetap sehat fisik dan mental. Hal pertama dan yang sangat penting bagi saya adalah tetap beribadah sesuai dengan keyakinan. Ini dapat membantu saya untuk tetap tenang dan positif menjalani kehidupan personal dan akademik. Selanjutnya adalah menjaga komunikasi dengan keluarga dan sahabat yang menjadi support system. Sharing dengan teman-teman kuliah juga dapat membantu kita untuk tidak merasa sendiri dan terisolasi dari yang lain. Opsi lain yang juga saya lakukan adalah menjalani hobi, yakni bermain badminton bersama teman-teman PPI London, menonton film/show yang menarik, dan berkunjung ke tempat-tempat menarik untuk refreshing. Intinya, berusaha untuk tetap menyeimbangkan kehidupan akademik, personal, dan sosial. Selain itu, di UCL juga tersedia fasilitas Student Support and Well-being yang memberikan bantuan dalam hal kesehatan mental mahasiswa.

Kado terindah dari Tuhan

Dapat melanjutkan studi di luar negeri secara gratis adalah suatu pencapaian yang begitu besar dalam hidup saya, terlebih mendapat kepercayaan untuk studi di UK pada program Magister dan Doktoral dengan beasiswa yang sama. Pencapaian ini tentunya mengingatkan saya secara pribadi untuk bersyukur atas nikmat dan kuasa dari Tuhan Yang Maha Esa. Secara keseluruhan, saya mensyukuri semua proses yang saya jalani selama kuliah di UK. Bonusnya adalah bisa jalan-jalan ke luar negeri. Kalau untuk berjejaring, tentunya tidak harus ke luar negeri, apalagi zaman sosmed dan internet sekarang, tapi ketika bisa langsung berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya dan negara, rasanya begitu menyenangkan. Pengalaman itu secara tidak langsung menambah wawasan kita.

Perempuan dari Timur

Secara personal saya merasa setiap perempuan memiliki keunikannya masing-masing, baik itu dari kepribadian maupun cara berpikirnya. Saya kurang dapat menggeneralisasi bagaimana perempuan Indonesia Timur bisa merasa spesial atau menarik jika dibandingkan dengan teman-teman dari wilayah Indonesia yang lain. Tetapi secara pribadi yang saya kagumi dari diri saya sendiri dan teman-teman perempuan Indonesia Timur yang lain adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang sama sekali berbeda dengan tempat asal. Seperti saya, banyak teman-teman yang melanjutkan studi ke kota besar lain setelah SMA karena memang ketersediaan Lembaga Pendidikan Tinggi di tempat lain lebih banyak. Ada juga yang memilih lanjut di kota terdekat dalam wilayah NTT. Istilahnya, merantau itu sudah lumrah bagi kami. Intinya, mayoritas teman-teman mampu beradaptasi dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan mempelajari banyak hal positif dari lingkungan baru tersebut. Meskipun setelah kembali tidak serta merta menjadi pioner perubahan di daerah asal kami, tetapi bibit-bibit perubahan itu tetap tampak. Progressnya mungkin baru akan terlihat di masa depan, tetapi sudah berjalan menuju ke sana.

Penulis: Roudhotul Anfalia

Exit mobile version