Childcare, Salah Satu Kunci Keberhasilan PhDMama

Published by Della Rahmawati on

Perkenalkan, nama saya Tiwi, saya kandidat PhD di bidang Film, Media, and Communication dari Monash University, Australia. Tahun ini adalah tahun ketiga saya menjalani studi doktoral. Selama menjalani jenjang pendidikan ini, saya hidup di Australia bersama anak-anak dan suami yang kebetulan juga memperoleh kesempatan kuliah PhD di jurusan dan kampus yang sama dengan saya. Akan tetapi, mulai Juli 2021 kemarin, suami harus pulang ke Indonesia karena telah menyelesaikan studinya. Dia sudah resmi bergelar doktor, dan oleh pemberi beasiswa serta tempat ia bekerja di Indonesia, suami harus segera kembali ke tanah air. Dengan berbagai pertimbangan yang sudah kami pikirkan matang, anak-anak tidak ikut bersama suami pulang ke Indonesia. Jadilah saya sendirian menyelesaikan PhD plus mengurus dua anak lelaki selama hampir satu setengah tahun ke depan.

Tiwi bersama suami dan anak-anak, Lebaran 2021

Rasanya bagaimana? Sibuk, sibuk, dan sibuk. Saya hampir tidak punya waktu untuk sekadar mengecek pesan di WhatsApp, apalagi merespons dan chatting santai dengan teman-teman di grup-grup WhatsApp.

            Banyak kawan yang bertanya, bagaimana saya melakukannya. Menjadi mahasiswa doktoral itu sulit, apalagi sambil menjadi ibu – tidak ada suaminya pula. Biasanya saya jawab: “entahlah, pokoknya terjadi begitu saja”, hahaha! Ya memang begitu kondisinya, I am thinking on my feet. Saya berpikir dan menyusun strategi sambil berlari, tidak ada waktu untuk duduk diam sambil mempertimbangkan ini-itu lalu jika sudah mantap baru beraksi.

            Untuk sedikit meringankan pekerjaan di pundak, saya menggunakan jasa childcare. Anak saya yang kedua baru berusia dua tahun dan masih berada di fase yang butuh perhatian ekstra. Saya tidak bisa mengharapkan ia bisa anteng bermain sendiri sementara saya mengerjakan disertasi atau hadir di Zoom meeting dengan profesor pembimbing. Maka, menitipkan anak di childcare memungkinkan saya mengurangi tanggung jawab mengurus anak sekaligus memberi waktu bagi saya untuk berkonsentrasi pada tugas sebagai mahasiswa.

            Saya memilih jasa daycare dari pusat PAUD yang terdekat dengan rumah saya. Selain soal jarak, tidak banyak faktor lain yang saya pertimbangkan saat memilih penyedia jasa daycare. Soal kualitas, sepengetahuan saya, pusat PAUD yang menyediakan jasa long daycare (penitipan untuk seharian penuh) sudah memiliki semacam akreditasi dan mengikuti standar kurikulum PAUD di Australia. Artinya, di mana saja saya menitipkan anak, kualitasnya sepertinya tidak akan jauh berbeda. Maka yang terpenting adalah anak diasuh oleh edukator profesional, berkesempatan bersosialiasi dengan kawan seusianya, dan mendapatkan stimulasi yang ia butuhkan berdasarkan usia – yang mungkin tidak bisa saya berikan di rumah karena kesibukan saya.

            Masalahnya, jasa long daycare amatlah mahal. Biaya penitipan anak di pusat PAUD yang saya pilih adalah sebesar AUD130 atau sekitar 1,3 juta rupiah untuk sehari. Silakan hitung saja berapa biaya yang harus dikeluarkan bila ingin menitipkan anak selama seminggu penuh (lima hari kerja). Pemerintah Australia memberikan keringanan biaya bagi beberapa kategori penduduk, misalnya warga negara Australia, permanent resident, dan mahasiswa internasional yang mendapat beasiswa dari Commonwealth (penerima beasiswa AAS atau Endeavour). Dengan childcare subsidy dari pemerintah, kita bisa membayar hanya 35 persen saja dari biaya asli. Sayangnya status kependudukan dan jenis beasiswa pendidikan saya tidak termasuk dalam kategori yang berhak mendapatkan bantuan ini, sehingga saya harus membayar penuh biaya penitipan anak.

Ayyas, putra kedua Tiwi saat bermain di childcare

            Sebagai mahasiswa yang hidupnya murni bergantung pada beasiswa, dana saya terbatas dan saya hanya bisa menitipkan anak sehari dalam seminggu. Apakah cukup? Tentu tidak. Tapi setidaknya, sehari ini pun signifikan sekali memberi saya waktu untuk diri sendiri. Sementara si adik dititipkan di daycare, abangnya – anak sulung saya – pergi ke sekolah dari pukul sembilan sampai jam 15.30 sore. Praktis, sehari itu saja saya bisa fokus ke disertasi tanpa dibayangi tanggung jawab mengurus anak-anak. Rasanya bebas, fresh, dan produktif sekali. Sehari saja, dan progres pekerjaan saya langsung terasa. Maka seandainya saya mampu saya ingin menitipkan anak minimal tiga hari seminggu. Tapi, berhubung saya tidak mungkin jual ginjal supaya bisa membayar daycare, ya sudah saya harus terima dan bersyukur dengan kondisi yang ada.

            Pengalaman berkuliah sambil mengurus anak di Australia ini menyadarkan saya betapa pentingnya akses ke penyedia jasa daycare yang terjangkau. Dalam survei-survei mengenai kesejahteraan mahasiswa pascasarjana yang dilaksanakan oleh kampus, saya beberapa kali menuliskan saran agar kampus menyediakan childcare bersubsidi bagi mahasiswa yang memerlukan. Monash University saat ini sudah memiliki pusat PAUD yang menyediakan jasa long daycare. Bagi staf dan mahasiswa Monash, ada harga khusus, tapi hanya berkurang 10-20 dolar saja dari biaya asli. Menurut saya, itu tidak signifikan. Diperlukan subsidi lebih besar agar jasa daycare lebih aksesibel misalnya bagi mahasiswa internasional dari negara berkembang seperti saya.

            Oleh karena itu, bantuan untuk mengakses daycare entah dalam bentuk dana ataupun potongan harga sangatlah penting. Aspek ini harus dimasukkan ke dalam pertimbangan pemberi beasiswa maupun kampus agar para mama dapat meraih impiannya sekolah tinggi. Kita para perempuan berhak berkeyakinan bahwa menjadi mama dan menjadi mahasiswa bisa dijalani sama-sama. Kita tidak perlu mengorbankan mimpi karena keduanya bisa berjalan beriringan, salah satunya dengan ketersediaan akses ke jasa childcare yang biayanya tidak bikin kita pingin jual saja sebelah telinga.

Pratiwi Utami

Mom of two; PhD Candidate at the School of Media, Film, and Journalism, Faculty of Arts, Monash University Australia

Editor: Della Rahmawati


0 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: